Allowwww guys...Apa kabar...

Selamat datang di website ini ya! Papah sengaja membuatnya untukku dan adikku Deva juga Rey, supaya website ini jadi "cahaya yang menerangi batin kita". Kata Papah untuk kontemplasi suatu hari nanti. Aku nggak ngerti apa tuh kontemplasi hahaha!! Kalau kata mamah sih, "semoga bisa mengantar anak-anak menuju gerbang kehidupan", wah dalem banget ya. Yah, apapun, aku sih nurut aja lah. Jangan lewatkan tulisan-tulisan papahku ya, dan jangan lupa mengisi message boardnya biar kita selalu tersambung. Okay okay..!! (Arel)

12 April 2011

Biar Cumbu Menuntaskan Rindu!


Java Jazz pernah memberi warna dalam hidup saya. Ketika kuliah dulu, sekitar tahun 1998, saya takjub menyaksikan konser supergrup ini di kampus UGM, Yogyakarta. Komposisi Bulan di Asia, The Seeker, I Wish, Lembah, dll, sungguh sebuah pencapaian musik yang luar biasa. Saking kesengsemnya, selesai konser saya bela-belain beli kaset dan T-shirt Java Jazz. Sejak itu Java jazz tak pernah lepas dari hidup saya.

Selesai kuliah dan bekerja di RCTI, Jakarta, saya malah punya kesempatan membuat profil Java Jazz. Ketika itu mereka akan meluncurkan album Sabda Prana. Seorang kawan di BMG, Wawan AEC, memuluskan jalan untuk proses syuting. Saya menjadi salah satu yang beruntung berada di tengah-tengah para jenius jazz. Lagu Bulan di Asia, The Seeker, bolak-balik dimainkan di depan kami. Di sela-sela itu saya mewawancarai grup ini.

Mas Embong Rahardjo (alm), salah satu pilar utama dalam konstruksi band besar ini, peniup saksofon terbaik negeri ini, bahkan sempat jadi sahabat. Juga Ron Reeves, musisi asal Australia yang memainkan Didgeridoo-alat musik tradisional Aborigin, di komposisi Bulan Di Asia. Ron bahkan ternyata tetangga kami di Bandung.

Namun sudah 11 tahun band ini vakum. Saya dan Indri, isteri saya, sesekali memang memutar musik Java Jazz di rumah kami. Saya merindukan musik Java Jazz.

Reuni Java Jazz di tahun 2010 itu seperti membangkitkan kenangan lama. Dan di Graha Bhakti Budaya TIM, saya satu dari sekian banyak penikmat jazz yang langsung bercahaya mukanya ketika komposisi Bulan Di Asia, The Seeker, dll, dilantunkan.

Dalam format jazz rock, Java Jazz yang menampilkan Dewa Bujana malah memainkan lagu Joy Joy Joy, salah satu komposisi terbaik Java Jazz, yang tidak pernah direkam.

Java Jazz adalah sejarah. Dalam lintasan sejarah jazz, mestinya java Jazz menempati posisi terhormat di ranah musik negeri ini. Kalian anak-anakku, suatu hari nanti harus mendengar musik-musik virtuoso karya mereka ini.

Catatan: Line Up java Jazz terbaru: Indra Lesmana, Dewa Bujana, Donny Suhendra, Mates dan Gilang Ramadhan. Mereka meluncurkan album ketiga Java Jazz, 2 CD BOX, dengan judul Joy Joy Joy.

Cepat Diberi Kesembuhan ya Nak..



Kalau lagi sakit, semua memang berubah. Badan Rey langsung kelihatan kurus, matanya yang bulat itu langsung kuyu dan tidak bersinar lagi. Jangankan main, makan pun pasti tak enak. Inilah kenang-kenangan ketika Rey diserang cacar air.

10 Tahun Arel. Sungguh, Waktu Ngebut Terus Ya..

“Pah, aku pengen dirayain, tapi ama papah dan mamah aja ya,” kata-kata itu meluncur dari mulut Arel. Saya menangkapnya dengan hati bergetar. Diam-diam dia memang menyimpan rindu kedekatan saya dan Arel sekian tahun lalu, ketika belum ada adik-adiknya. Ah, maafin papahmu ini ya kak, kalau sekarang perhatiannya banyak terbagi untuk Deva dan Rey. Semoga kakak mengerti kalau baca ini ya…

Soal ulang tahun itu, waktu ngebut terus ya. Tidak terasa Arel sudah ulang tahun yang ke 10. Kata Sutardji Calzoum Bachri, salah satu penyair kenamaan yang dipunyai negeri ini, kita perlu ngebut di jalan yang lurus. Maksudnya ngebut untuk berbuat kebaikan kali ya. Yah semoga saja, kami juga sudah berbuat yang terbaik untuk anak-anak kami…

Balik ke ulang tahun Arel. Pilihannya waktu itu kami makan di Paregu, Pondok Indah. Surprise, karena indri diam-diam meminta staff Paregu untuk menyanyikan Happy Birthday. Surpriseee…Arel Cuma tersipu-sipu malu…Semoga ini jadi kenangan buat kakak ya…

Biar Senyuman yang Meninggalkan Rumah Itu..


Kita merancang, ALLAH juga merancang, namun DIA lah sebaik-baik perancang

Rumah itu menempati ruang tersendiri di hati kami. Hikmah, ketakberdayaan, dukacita, renjana, bahagia, dan seribu rasa lainnya, tersimpan semua dengan jujur di rumah itu.

Inilah rumah dimana semua anak bernama Muhammad, tumbuh dan melewati masa-masa bermain mereka. Inilah rumah dimana Indri, isteri saya juga bergulat menapaki hari-harinya.

Mengapa harus dijual? Tanya kalian. Tak bisakah ditunda dulu? Sungguh saya sedih saat itu. Takut menemukan hati kalian yang bolong…Merasa kosong karena kehilangan teman, kehilangan kenangan yang sudah tersusun rapi satu persatu, dan kehilangan akan kebanggaan akan rumah itu...

Tapi sungguh, semua yang baik itu datangnya dari Allah SWT dan yang buruk itu datangnya dari kelemahan diri sendiri. Insya Allah, Allah SWT punya rencana yang lebih indah untuk papah dan mamahmu ini anak-anakku…Amiin..

Catatan: Rumah kami di Jl. Maleo 13, adalah personifikasi kerja keras, keberuntungan dan tentu saja bantuan orangtua kami. Tidak ada lokasi sebagus itu di Bintaro. Di seberang Mesjid Raya Bintaro Sektor 9, di sekitar Mc Donald, dan teramat dekat dengan lokasi pusat jajanan malamn Bintaro 9 Walk. Rumah itu juga didesain dan dibangun oleh arsitek yang cukup kondang di Bintaro.

Oh ya nama anak-anak saya memang dimulai dari Muhammad: Muhammad Verrel Fassa N; Muhammad Devandra Atha N dan Muhammad Reynard Fawwaz N.

Selamat Milad, Anakku Sayang...

Met milad ya dek. Happy Happy Birthday. Semoga menjadi anak yang saleh dan selalu menjadi penyejuk mata dan hati di tengah keluarga. Perjalananmu ke depan masih jauh terbentang. Papah dan mamah hanya bisa membekalimu dengan pendidikan dan doa yang terus menguntai, dari pagi, siang, sampai malam.

Semoga Allah yang Maha Penyayang selalu memeliharamu dalam kebaikan, menjagamu dari kejahatan, memuliakan hidupmu dan menjadikan hidupmu keberkahan bagi orang banyak hingga akhir hayatmu kelak.

Selamat milad, anakku sayang..

Catatan: Ini ulang tahun Rey yang ke 4, 14 Februari 2010.