Allowwww guys...Apa kabar...

Selamat datang di website ini ya! Papah sengaja membuatnya untukku dan adikku Deva juga Rey, supaya website ini jadi "cahaya yang menerangi batin kita". Kata Papah untuk kontemplasi suatu hari nanti. Aku nggak ngerti apa tuh kontemplasi hahaha!! Kalau kata mamah sih, "semoga bisa mengantar anak-anak menuju gerbang kehidupan", wah dalem banget ya. Yah, apapun, aku sih nurut aja lah. Jangan lewatkan tulisan-tulisan papahku ya, dan jangan lupa mengisi message boardnya biar kita selalu tersambung. Okay okay..!! (Arel)

10 Oktober 2007

Tentang Tawa yang Selalu Bersama...


"...bahkan para petualang seperti Robinson Crusoe akhirnya ingin pulang juga...“ (Theory of Literature, dalam artikel Budi Darma, Sastrawan)

Rumah adalah tempat yang kita rindukan, dan ke sana kita akan pulang. Rindu akan rumah adalah juga rindu akan ibu dan bapak, tempat kita berasal dan menjadi. Perjalanan pulang adalah perjalanan ke tempat mulia seperti itu, tempat hati kita senantiasa berada.

Rindu saya untuk pulang tahun ini, adalah rindu yang berdenyut di nadi. Ramadhan segera berakhir. Saatnya untuk berhenti sejenak mengejar arus kehidupan. Dan berpikir ulang tentang segala hal. Tentang keluarga di kampung sana. Tentang derai tawa yang selalu bersama. Tentang bapak, tentang ibu, tentang kakak dan adik-adik saya. Tentang kerabat dan sahabat...

Kurasa, itulah cinta, anak-anakku. Namun ketika kita memutuskan untuk tidak mudik ke Pekalongan tahun ini, dan melangkahkan hati memeluk ibu, mami dan papi Oethowo di Bandung, kurasa itu paling cinta.

Pulang kemudian bisa jadi yang terindah, saat kita semua mencitakan suka. Sajak di bawah ini - jika kalian baca suatu hari kelak - semoga masih bermakna dalam.

Angin manis meniup pasir benua Afrika
Di Eropa kutahu masih salju,
Sampai ke padang-padang Siberia
Aku harus ke Moskow, tapi
Memenuhi harapan yang kusayang
Untuk kumpul di akhir Ramadhan
Aku pulang malam terbang garuda rinduku

(Sajak „Panggilan“, ditulis Sitor Situmorang dalam kumpulan puisi Dinding Waktu (1976)

(Ditulis papah yang kangen pulang ke Pekalongan, juga untuk tante Ninik di Sydney yang lebaran tahun 2007 ini juga tidak pulang. Sekaligus untuk ibu dan bapak di Pekalongan: semoga bisa memahami mengapa kami tidak pulang)

27 September 2007

Bila Semua Udara Bernama Cinta...

Setiap ada hamba yang berdoa untuk kebaikan orang lain, maka malaikat yang mencatat itu pun berkata "wa laka mitsluhu (dan untukmu kebaikan yang sama)" sebanyak tiga kali. (hadits)
Anak kedua saya, Deva, seorang anak yang keren. Saya sering tertawa melihat gayanya yang riang dan bicaranya yang ceplas ceplos. Dia trampil berkomunikasi. Mirip kakaknya, Arel yang gampang sekali lengket dengan siapa saja. Penampilannya juga lucu, keren banget malah. Maklum deva ini paling jago nge-mix and match baju yang akan dia pakai. Dia yang milih-milih sendiri. Keren kan...

Selang beberapa hari setelah ulang tahunnya yang ketiga, 22 September lalu, bukan kado dari orang tuanya yang dia terima. Tapi vonis dokter kalau dia mengidap kelumpuhan saraf wajah ketujuh!

Saya tiba-tiba ingin menangis.

Kehampaan tiba-tiba saja mengendap. Teringat saja bila setiap hari saya selalu bertanya pada diri sendiri. „Keringat ayahmu yang mengalir hari ini adik kecil…apakah cukup untuk membeli susu esok pagi...“

Penyakit apa lagi ini??? Saya menjelajahi internet. Pelan-pelan mulai mengerti. Bell’s Palsy namanya. Ketidaksinkronan mimik wajah satu dengan yang lain. Kalau tersenyum atau tertawa, guratan kebahagiaan itu cuma ada di satu sisi wajah. Yang lain tidak bereaksi. Penyakit ini muncul akibat virus aricella zooster yang berkembang pada saat hawa dingin dan terpaan angin yang kuat dan terus menerus. Biasanya menyerang pengendara motor. Tapi memang bisa mengenai siapa saja. Salah satunya deva...

Allah mengajarkan dalam Al Quran untuk bersabar dengan sabar yang indah. Setiap hari aku menatap deva dengan amunisi sabar dan semangat baru menuju matahari.

Teruslah bercahaya. Teruslah bersinar adik kecilku. Dan teruslah menjaga budi. Papah dan mamahmu, kak Arel dan adik Rey terus mendoakan. Semoga cepat sembuh. Semoga Allah selalu menjaga bahagiamu ya.

Ah...Bila semua udara bernama cinta, biarlah ia tumbuh di jalan cinta. Dan menyemainya di sepanjang jalan...

25 September 2007

Aku Ingin Terbang Mencari Nabi Muhammad dan Umar


Ada anak bertanya pada bapaknya, buat apa berlapar-lapar puasa. Ada anak bertanya pada bapaknya, tadarus tarawih apalah gunanya…Lapar mengajarmu rendah hati selalu, tadarus artinya memahami kitab suci, tarawih mendekatkan diri pada Ilahi. (Bimbo: „Anak bertanya pada Bapak")
Setiap habis ramadhan, kerap terbersit kerinduan saya akan datangnya ramadhan lagi. Alhamdulillah, ramadhan tahun ini kami menyapanya dengan lembaran-lembaran cerita baru. Arel, anak pertama saya yang keukeuh pengen puasa, tapi paling susah dibangunin pas sahur. Deva yang paling heboh saat buka puasa. Atau Rey yang justru bangun ketika kita bersiap tidur setelah shalat subuh. Tapi di atas itu semua, tentu saja rumah kami yang baru. Ya, rumah yang dibangun habis-habisan demi sebuah impian. Subhanallah..

Waktu memang kadang tak mengakrabi pekerja-pekerja dunia televisi. Ketika terhimpit pekerjaan yang ketat dan rapat yang kelewat-lewat, kehampaan justru mengendap. Mengintip bersisian. Yang membuat hidup justru terasa tidak penuh dan lengkap. Itu sebabnya di ramadhan ini saya berusaha sebisa mungkin tiba di rumah lebih cepat...

Satu tujuannya. Supaya bisa salat tarawih bersama Arel dan Deva di mesjid dekat rumah. Mengajak mereka mengenal ramadhan suci, mengakrabi Abubakar, Umar, Usman dan Ali: empat khalifah yang selalu bergema namanya saat tarawih dan tentu saja memanjatkan doa suatu ketika nanti kami ingin 'terbang' menemui Sang Tambatan Hati: Muhammad….

14 September 2007

Kisah Para Ksatria Muda…



“Seperti embun yang mendinginkan hati bunga lily, dan bagaikan topan yang menggelegakkan dalamnya sungai”

Anak-anakku, itulah julukan Umar Bin Khattab, khalifah besar kita, oleh seorang filosof dan penyair Muslim tenar dari India. Seorang Ksatria yang kehadiran membawa amanah, dan kisah kehidupan yang menderu-deru.

Seperti itulah ayah dan bundamu meletakkan dasar pengetahuan dan membuatkan biduk perahu untuk kalian. Memancangkan tiang-tiang asa, agar langkah-langkah kalian bersinar terang, menjadi cahaya.

Ksatria pertama. Verrell Fassa (Arel). Referensi Pokemon-nya nomer satu. Jago game komputer apalagi DS Nintendo. Tujuh tahun usianya, dan baru kelas 2 di SD Pembangunan Jaya. Namun sekecil itu, ia terpaksa mengurai waktu dan menjadi dewasa untuk adik-adiknya. Dialah daya kehidupan seisi rumah kami. Tanpa kehadirannya rumah seperti mati. Nggak bisa diem, hobi jajan, berantem terus sama Deva. Itu tanda sayang, kali...Kalau lagi keluar usilnya, bocah kelahiran 9 Juni 2000 ini bisa menyulap suasana hening …”bagai zona perang” hehehe….

Ksatria kedua: Devandra (Deva). Setiap detik dalam hidupnya adalah cinta. Paling lengket sama papahnya. Dialah peniru secara tepat kelebat tingkah kakaknya. Tiga tahun usianya saat almanak menunjuk hari ke 22 di bulan September 2007. Hobinya nonton film "Hot Wheels" kalau perlu sehari lima kali. "Sampe pusing...," kata Mamahnya. Pinter ngomong, paling care ama penampian hehehe..Malam menjelang tidur, ia hinggap pada kata-kata yang selalu sama kususun. Pada sebuah cerita tentang bebek dan serigala lapar..Ia memulainya dengan kalimat, „Pada suatu hari...“ dan...sejurus kemudian terlelap tidur.

Ksatria pamungkas: Reynard (Rey). Imajinasinya menangkap kalbu semesta, mengeja semuanya. Lagi lucu-lucunya, sudah mulai cerewet bicara dan banyak maunya. Senyumnya seperti menghadirkan ribuan pelangi dalam kehidupan kami. Maklum saja, ia hadir ke dunia ini kala mentari meneriakkan 14 Februari (2006). Ya, Valentine Day! Dialah buku gambar yang terbuka yang siap digambari sketsa apa saja.

Hai, para ksatria muda...bantulah kami mengukuhkan dunia indah. Yang kita bangun bersama-sama. Dari candaan, senyuman dan kenangan. Yang kita kumpulkan setiap waktu.

07 September 2007

Agar Langkahmu Sampai Bianglala


Seperti kata dan semua perbuatan, begitulah kita mempertanggungjawabkan puisi. Sampai mati dan kelak dibangkitkan kembali…” (Almarhum penyair Hamid Jabbar)

Anak-anak, bagi saya adalah ‘puisi’. Sebuah puisi yang penuh dengan benang merah isyarat kehidupan, kontinuitas, diskontinuitas, perilaku-perilaku yang mencengangkan, dan kisah-kisah yang tak pernah ada habisnya. Pada setiap makna baitnya, mereka adalah senyuman dan kenangan yang kita kumpulkan setiap waktu.

Anak-anak saya adalah denyut nadi saya dan tentu saja istri saya. Mereka adalah cahaya dalam kehidupan kami. Supaya bercahaya kewajiban kamilah mengisi ruang batin mereka untuk memetik pengetahuan. Ya, pengetahuan tentang apa saja.

Pengetahuan adalah sebuah fungsi. Ia adalah cahaya yang menerangi ruang kesadaran batin kita semua. Seperti umumnya cahaya yang berpendar-pendar di tengah ruang gelap, kita hanya bisa bergerak secara baik dalam jengkal-jengkal ruang yang dibingkai cahaya.

Sebagai sebuah fungsi kita harus mempelajari semua pengetahuan yang membantu kita berubah menjadi lebih baik. Nah, belajar adalah proses menggunakan pengetahuan, sebagai penuntun perjalanan mendekati kebaikan itu secara konstan.

Anak-anakku: Kalianlah penggenggam erat semua cinta…

23 Agustus 2007

Keberanian Menjadi Cakrawala...


"Keberanian Menjadi Cakrawala", itu kata-kata pesona yang mengantar saya mempersepsi tentang kehidupan, tentang dunia, tentang bumi yang kita huni dan sekarang ini, tentang anak-anak saya.

Belajar adalah proses bertransaksi. Di sekolah misalnya anak-anak belajar menguasai pelajaran. Bukan 'menjadi' sesuatu dengan pelajaran tersebut. Makin banyak pelajaran yang dapat mereka kuasai, makin baik transaksi mereka. Maka kita seolah-seolah berburu anak-anak cerdas, yang dapat melakukan banyak transaksi.

Tapi yang kemudian kita saksikan justru sebuah ironi. Anak-anak itu tidak mengalami transformasi pembelajaran. Pelajaran matematika, misalnya, tidak serta merta membuat mereka dapat berpikir logis. Pelajaran sejarah tidak memberi mereka kesadaran dan emosi akan identitas kolektif. Pelajaran bahasa bahkan tidak membantu mereka berbahasa dengan baik dalam kehidupan sehari-hari.

Imaji-imaji positif akan melahirkan energi, semangat dan gairah kehidupan. Saya hanya ingin anak-anak saya menikmati masa-masa awal perkenalan mereka dengan kehidupan, dunia dan bumi yang mereka huni. Mereka tidak dilahirkan untuk memikul obsesi-obsesi saya sebagai orang tua.

Mereka dilahirkan untuk kehidupan mereka sendiri. Tugas saya adalah memfasilitasi mereka untuk mengenal dunia dan kehidupan di mana mereka ditakdirkan menjalaninya. Kuncinya nukilan kata-kata dari Pidato Megatruh penyair besar kita WS Rendra di atas...

22 Agustus 2007

Belajar Adalah Proses Berubah Secara Konstan


Rasulullah SAW mengajarkan kita sebuah doa: "Ya Allah ajari kami apa yang bermanfaat bagi kami, dan beri kami manfaat dari ilmu yang telah Engkau ajarkan pada kami".

Setiap hari saya menyaksikan anak-anak saya tumbuh dan berkembang, terus menerus berubah dan menjadi sesuatu yang lain, bersamaan dengan pertambahan usia mereka. Arel anak pertama saya pelan tapi pasti mulai memahami makna waktu secara lebih utuh. Bangun tidur, bersiap ke sekolah, ngaji dan les, lama-lama membentuk struktur mentalitas dan sikap-sikap keseharian yang memang bagian dari kehidupannya.

Deva-anak kedua saya, seperti tercerahkan dari waktu ke waktu karena peilaku kakaknya. Dia kini sudah menenteng ransel kesukaannya, ya koper ransel bergambar "hot wheels", setiap pagi. Dan dengan bangga bilang, "Papah, aku mau sekolah."

Pengetahuan bekerja pada fungsinya: membimbing mereka menjalani hidup. Itu sebabnya setiap pertambahan pengetahuan melahirkan perubahan-perubahan baru dalam kehidupan mereka. Semoga mereka menjadi lebih baik. Dan menjadi lebih tercerahkan.

16 Agustus 2007

Maka, Belajarlah Anak-anakku!


Manusia adalah gabungan yang rumit antara ruh, emosi, akal dan fisik. Setiap aspek itu, kata Muhammad Quthub, seperti senar gitar yang harus dipetik bersama untuk melahirkan simfoni kepribadian yang utuh dan indah.

Anak-anak bukan tabung besar yang harus diisi dengan pengetahuan. Mereka adalah senyawa kehidupan yang rumit dan kompleks. Mereka berubah, berbentuk dan bermetamorfosis melalui proses-proses yang juga kompleks, di mana pengetahuan hanyalah salah satu aspeknya.

Belajar adalah proses menjadi secara konstan. Karena menjadi merupakan proses yang tidak pernah berakhir, maka belajar adalah satu-satunya proses kehidupan yang tidak pernah selesai.
Maka, belajarlah anak-anakku: Arel, Deva, Rey...