"Keberanian Menjadi Cakrawala", itu kata-kata pesona yang mengantar saya mempersepsi tentang kehidupan, tentang dunia, tentang bumi yang kita huni dan sekarang ini, tentang anak-anak saya.
Belajar adalah proses bertransaksi. Di sekolah misalnya anak-anak belajar menguasai pelajaran. Bukan 'menjadi' sesuatu dengan pelajaran tersebut. Makin banyak pelajaran yang dapat mereka kuasai, makin baik transaksi mereka. Maka kita seolah-seolah berburu anak-anak cerdas, yang dapat melakukan banyak transaksi.
Tapi yang kemudian kita saksikan justru sebuah ironi. Anak-anak itu tidak mengalami transformasi pembelajaran. Pelajaran matematika, misalnya, tidak serta merta membuat mereka dapat berpikir logis. Pelajaran sejarah tidak memberi mereka kesadaran dan emosi akan identitas kolektif. Pelajaran bahasa bahkan tidak membantu mereka berbahasa dengan baik dalam kehidupan sehari-hari.
Imaji-imaji positif akan melahirkan energi, semangat dan gairah kehidupan. Saya hanya ingin anak-anak saya menikmati masa-masa awal perkenalan mereka dengan kehidupan, dunia dan bumi yang mereka huni. Mereka tidak dilahirkan untuk memikul obsesi-obsesi saya sebagai orang tua.
Mereka dilahirkan untuk kehidupan mereka sendiri. Tugas saya adalah memfasilitasi mereka untuk mengenal dunia dan kehidupan di mana mereka ditakdirkan menjalaninya. Kuncinya nukilan kata-kata dari Pidato Megatruh penyair besar kita WS Rendra di atas...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar