"...bahkan para petualang seperti Robinson Crusoe akhirnya ingin pulang juga...“ (Theory of Literature, dalam artikel Budi Darma, Sastrawan)
Rumah adalah tempat yang kita rindukan, dan ke sana kita akan pulang. Rindu akan rumah adalah juga rindu akan ibu dan bapak, tempat kita berasal dan menjadi. Perjalanan pulang adalah perjalanan ke tempat mulia seperti itu, tempat hati kita senantiasa berada.
Rindu saya untuk pulang tahun ini, adalah rindu yang berdenyut di nadi. Ramadhan segera berakhir. Saatnya untuk berhenti sejenak mengejar arus kehidupan. Dan berpikir ulang tentang segala hal. Tentang keluarga di kampung sana. Tentang derai tawa yang selalu bersama. Tentang bapak, tentang ibu, tentang kakak dan adik-adik saya. Tentang kerabat dan sahabat...
Kurasa, itulah cinta, anak-anakku. Namun ketika kita memutuskan untuk tidak mudik ke Pekalongan tahun ini, dan melangkahkan hati memeluk ibu, mami dan papi Oethowo di Bandung, kurasa itu paling cinta.
Pulang kemudian bisa jadi yang terindah, saat kita semua mencitakan suka. Sajak di bawah ini - jika kalian baca suatu hari kelak - semoga masih bermakna dalam.
Angin manis meniup pasir benua Afrika
Di Eropa kutahu masih salju,
Sampai ke padang-padang Siberia
Aku harus ke Moskow, tapi
Memenuhi harapan yang kusayang
Untuk kumpul di akhir Ramadhan
Aku pulang malam terbang garuda rinduku
(Sajak „Panggilan“, ditulis Sitor Situmorang dalam kumpulan puisi Dinding Waktu (1976)
(Ditulis papah yang kangen pulang ke Pekalongan, juga untuk tante Ninik di Sydney yang lebaran tahun 2007 ini juga tidak pulang. Sekaligus untuk ibu dan bapak di Pekalongan: semoga bisa memahami mengapa kami tidak pulang)
1 komentar:
hehehe...hayo pengen mudik ya
Posting Komentar