Allowwww guys...Apa kabar...

Selamat datang di website ini ya! Papah sengaja membuatnya untukku dan adikku Deva juga Rey, supaya website ini jadi "cahaya yang menerangi batin kita". Kata Papah untuk kontemplasi suatu hari nanti. Aku nggak ngerti apa tuh kontemplasi hahaha!! Kalau kata mamah sih, "semoga bisa mengantar anak-anak menuju gerbang kehidupan", wah dalem banget ya. Yah, apapun, aku sih nurut aja lah. Jangan lewatkan tulisan-tulisan papahku ya, dan jangan lupa mengisi message boardnya biar kita selalu tersambung. Okay okay..!! (Arel)

13 November 2008

Bagaimana Kau Mencatat Sebuah Perbedaan?


Apa yang bisa kau catat dari sebuah perbedaan? Sebuah senyuman, kenangan, atau dunia yang indah? Atau justru tengkar, tebar amarah, dan membuat rumah bagai zona perang?

Saya dan Indri, isteri saya, ternyata memang dua kutub yang berbeda. Kalau dalam istilah sebuah lagu ya singkong dan keju. Saya singkongnya, istri saya keju.

Dalam soal makan misalnya. Dia suka spaghetti, pasta dan serba Eropa lainnya, sementara saya memang besar di tengah nasi megono yang hangat mengepul dan sambel raden yang dicocol tempe. Dalam soal minum saya paling hobi es teh manis, sementara istri saya bisa ngomel panjang kalau bicara soal teh.

Musik, film, buku, sama saja. Saya penggemar Rippingtons, Yellow Jacket, dll, sementara isteri saya klasik dan pop romantik. Saya terkagum-kagum dengan Bourne Identity, tapi buat istri saya film paling seru ya film-film romantik ala Notting Hill. Yang lain, masih banyak. Perbedaan-perbedaan ini membuat kami jarang bertemu di satu titik.

Lalu, apa apa yang bisa kau dapat dari sebuah perbedaan?
Mungkin sebuah kesempatan. Untuk mengenal isteri saya lebih dalam. Pada kebesaran jiwanya. Dan pada cintanya...

I Left My Heart in Pekalongan...


Saya sempat bernostalgia di Pekalongan. Bukan soal apa-apa sih cuma soal megono. Anda tahu megono? Ya, cacahan nangka muda dengan parutan kelapa dan bunga kecombrang yang khas. Biasanya megono dijadikan taburan atau kondimen (pelengkap). Menu utamanya nasi dengan sayur dan lauk pauk. Nah ada lagi hidangan yang bikin rindu: dendeng kecap yang dimasak pedas, cumi atau sotong yang dimasak dengan tintanya dan garang asem..aduh duh...

Jadi bisa dibayangkan: sepiring nasi ditaburi megono, kemudian megono itu tenggelam karena disiram kuah garang asem, terus disampingnya bertengger cumi dengan tinta hitamnya... uwooo uwooo ...Mak Nyussss!! Dijamin gemrobyosss.

Makanan khas kota pesisir seperti Pekalongan memang terbilang sederhana. Mungkin tidak vibrancy seperti kota Solo atau malah Bandung. Itu sebabnya penampakan megono di mata Indri, isteri saya, sangat bersahaja dan tidak menarik sama sekali. Hampir satu dasawarsa perkawinan kami, tak pernah sekalipun isteri saya makan megono. Nomenklatur kuliner Pekalongan yang dia suka cuman satu: Tauto Romani. Nah yang ini katanya ahlan wa sahlan...

Saya memang Cuma sebentar waktu itu, tapi lumayanlah cukup mengobati kangen saya pulang ke rumah. Meski sudah sampai Jakarta, tapi rasanya masih ada yang tertinggal di sana. Duh, Tony Bennett, terpaksa kupinjam lagumu: “I left my heart, in Pekalongan…”

14 Oktober 2008

Di Lorong Ridho Ar Rahman...


Andai kami tahu ini Ramadhan terakhir
Tentu kami akan melaksanakan sholat di awal waktu
sholat yang dikerjakan, sungguh khusyuk lagi tawadhu'
tubuh dan qalbu, bersatu memperhamba diri
menghadap Rabbul Jalil menangisi kecurangan janji
"innasolati wanusuki wamahyaya wamamati lillahirabbil 'alamin"
[sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku, dan matiku...
kuserahkan hanya kepada Allah Tuhan seru sekalian alam]

Andai kami tahu ini Ramadhan terakhir
tidak akan kami sia siakan walau sesaat yang berlalu
setiap masa tak akan dibiarkan begitu saja
di setiap kesempatan juga masa yang terluang
alunan Al-Quran bakal kami dendang...bakal kami syairkan

Andai kami tahu ini Ramadhan terakhir..
tentu malam kami sibukkan dengan bertarawih
berqiamullail. ..bertahajjud..
mengadu...merintih. ..meminta belas kasih
"sesungguhnya aku tidak layak untuk ke syurga-MU
tapi...aku juga tidak sanggup untuk ke neraka-MU"

Andai kami tahu ini Ramadhan terakhir
tentu kita tak akan melupakan mereka yang tersayang
mari kita meriahkan Ramadhan
kami buru...kami cari...suatu malam idaman
yang lebih baik dari seribu bulan

Andai kami tahu ini Ramadhan terakhir
tentu kami bakal menyediakan batin dan zahir
mempersiap diri...rohani dan jasmani
menanti-nanti jemputan Izrail
di kiri dan kanan ...lorong-lorong ridha Ar-Rahman

Duhai Ilahi

Andai ini Ramadhan terakhir buat kami
jadikanlah Ramadhan ini paling berarti...paling berseri...
menerangi kegelapan hati kami
menyeru ke jalan menuju ridho serta kasih sayangMu Ya Ilahi
semoga bakal mewarnai kehidupan kami di sana nanti

Namun teman
tak akan ada manusia yang bakal mengetahui
apakah Ramadhan ini merupakan yang terakhir kali bagi diri kita
yang mampu bagi seorang hamba
hanyalah berusaha...bersedia ...meminta belas-NYA

Catatan: Buat Arel yang tahun 2008 ini belajar puasa. Mudah-mudahan tahun depan bisa puasa penuh ya kak. Biar nemenin papah dan mamah waktu sahur.

13 Oktober 2008

Tegakah Kau Mencabik Sisa Mimpinya




Tak pernah ada mimpi yang hidup lama di jalan raya. Dengan lunglai tiga orang anak jalanan menghampiri orang-orang yang sibuk menatap menu berlimpah hidangan buka puasa mereka. Barangkali berharap masih ada sisa mimpi di sana. Sesore ini mungkin mereka belum dapat sepeserpun.

Saya memperhatikan mereka dari jauh. Adik kecil seusia anak saya Rey, mengusap-usap pipinya yang kotor. Merasa diperhatikan denga berani ia mendekati saya, sambil menadahkan tangan. Yang dua berjalan menjauh...

Subhanallah, saya tak tega mencabik sisa mimpinya. Saya ingin menangis melihat sosoknya, tapi tak ada tempat untuk menampung air mata. Dengan ihlas, saya membuka dompet dan memberinya 5000 ribu rupiah. Dan, adik kecil itu, matanya berkilat sesaat, sambil membalikkan badan dua tangannya diacungkan juara…”Yeeee…” teriaknya. Dua kakaknya tersenyum pada saya dan berterima kasih dari jauh.

Saya mengangguk dan tersenyum pada mereka..
Tiba-tiba saya ingin menangis...

Ucapan Paling Bunga


Ucapan paling bunga saya persembahkan untuk istri saya, Indri. Pada suatu hari, ia menjelma menjadi seorang yang lain dari biasanya. Biasanya dia hanya menatap, menyapa tanpa kata. Entah kenapa, di hari tuangan keponakan saya Larissa Angestia Sari, akrab disapa Anggi, istri saya mau menjadi MC. Ini luar biasa kan...

Dan…bismillah, malam itu saya dan istri saya untuk pertamakalinya memandu acara. Di antara tatapan semua mata, Alhamdulillah, kami lancar menyapa semua keluarga yang hadir sambil memandu acara. Mungkin masih terdengar to the point dan tanpa rangkaian kata berbunga-bunga, tapi paling tidak selesai acara ada sesuatu yang menjalar di hati kami, perasaan amat lega…

Senyum keluarga, para undangan dan saudara-saudara yang hadir, adalah matahari yang menghangatkan hati kami. Tak sia-sia perjalanan Jakarta-Pekalongan, dengan meninggalkan kalian anak-anakku...

Mamah, kucintai kau apa adanya, seperti aku mencintai surga.

Catatan: Tulisan ini dibuat untuk mengenang tunangan Anggi-Yayat, 23 Agustus 2008 di Pekalongan. Kami pulang sesaat setelah acara selesai sekitar 23.30 WIB, dengan membawa banyak sekali kue dan makanan.

30 September 2008

Bermain di Lengkung Pelangi..



Insya Allah, tahun ini Rey masuk sekolah. Ya di kelompok bermain TK Pembangunan Jaya. Mengikuti jejak kakaknya yang dulu juga di TK PJ. Tapi kalau ditanya, Rey selalu bilang, “di Kasih Ananda”. (Sekolah kakaknya, Deva). Meski kita bilang “Rey sekolahnya di TK PJ”, tapi dia selalu bilang, “Di Kasih Ananda, tahuuuuuu…”

Sejak lama Rey selalu menangis tersedu-sedu kalau melihat kakak-kakaknya berangkat sekolah. Tangisnya membuat kami iba dan memutuskan Rey masuk kelompok bermain. Memang dari sisi usia Rey masih terbilang hijau, 2,5 tahun. Tapi kalau melihat semangat dan matanya yang bercahaya setiap mau berangkat ke sekolah, saya tidak ingin memusnahkan keriangannya.

Melihat Rey, membawa ingatan saya kembali pada ingatan lebih tentang NYA. Inilah sebuah kesempatan untuk membawanya terbang ke taman-taman pengetahuan paling menawan, berbagi cerita dan cinta, sambil terus bermain di lengkung pelangi.

27 Agustus 2008

Di Ramadhan Kita kembali Bersua...


Menjelang Ramadhan, malaikat Jibril berdoa, "Ya Allah, abaikanlah puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki Ramadhan tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orangtuanya, kepada suami atau istrinya, dan kepada orang-orang di sekitarnya."

Doa ini diaminkan Rasulullah SAW. sebanyak tiga kali.

Karena itu, maafkan saya, baik disengaja maupun tidak disengaja, semoga kita dapat menjalankan ibadah puasa dengan khusyu. Amin!

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa
Mohon maaf Lahir dan Batin
Dari Kami: Memet, Indrie, Arel, Deva dan Rey

Deva Di Jalan Kupu-Kupu



„Kalau gurunya nggak kasih permen, ntar gua gebok!,“ begitu kata Deva. „Ha..ha..ha..“ saya tertawa. Anak ini luar biasa cerdas dan banyak omong. Diksi atau gaya bahasanya malah melebihi ayahnya. Kalau sedang bicara jarang menyebut aku, tapi gua. Wah…Jakarta banget lah pokoknya…

Tanggal 14 Juli 2008 lalu, itulah hari pertama Deva masuk TK. Usianya relatif masih belia, 3 tahun 8 bulan. Tanggal 22 September nanti dia barulah 4 tahun. Beda dengan kakaknya Arel yang di TK Pembangunan Jaya, Deva sekolah di TK Kasih Ananda. Kalau dulu kakaknya melewati masa orientasi di Kids Sport, Deva langsung saja masuk TK A.

Soal adaptasi, kebiasaan yang tiba-tiba berubah dari pola bermain sekarang mesti belajar, duduk berlama-lama mendengarkan gurunya, dan banyak hal lainnya, itulah ternyata potensi yang belum ditemukan Deva. Belum lagi jarak dari rumah yang lumayan jauh, sehingga tiap sampai di sekolah Deva lebih sering tertidur...hehehe...

Saya da isteri saya hanya ingin melihat apa yang menggembirakan hatinya. Supaya potensinya tidak hilang begitu saja, dan supaya dia bisa mengaktualisasikan dirinya. Supaya masa bermainnya di TK juga menjadi ruang yang menciptakan gerak kebaikan dan kegembiraan yang tanpa batas. Bukankah ita semua masih ingat masa-masa bahagia kita di sekolah taman kanak-kanak...

TK Kasih Ananda paling tidak sudah memberi saya dan isteri saya cara pandang dan pola pendidikan sesuai kriteria mereka. Kami cuma menyarankan agar selalu memotivasi dan memperbaiki diri. Sementara Deva…Insya Allah dia akan mengikuti jejak kakaknya di TK Pembangunan Jaya. Semoga menemukan taman yang penuh dengan kupu-kupu kebahagiaan ya anakku…

Sabar Itu Menggelinding, Melindas Semua Dinding...



Setiap detik dalam hidup saya selalu diuji kesabaran. Di rumah, ketika berkumpul dengan anak-anak dan isteri saya, itulah ujian kesabaran yag sesungguhnya. Ah, namun saya jarang lulus dari ujian keseharian ini. Saya sering tiba-tiba saja marah dan sesekali meledak. Maafkan papahmu ini ya…

Kata orang batas sabar adalah usia. Makin bertambah usia, makin bisa kita bersabar. Kata orang dalam sabar ada usaha. Allah mengajarkan sabar dengan sabar yang indah. „Sabar itu tumbuh dalam diri yang selalu bersyukur“...

Di rumah, entah sudah berapa puluh gelas, piring, pernak-pernik, vas dan barang lainnya yang jadi sasaran si kecil Rey. Kalau isengnya datang, Rey enteng saja melempar telur dari dalam lemari es. Waktu sedang membersihkan microwave baru kami, eh Rey sudah jongkok di atasnya dan pipis dengan santainya (hahaha...apuuunnn, sampai korslet sampai sekarang)....belum lagi kalau Rey dan Deva rebutan sesuatu, pasti berantem...Subhanallah

Sabar itu tak pernah habis dari diri seorang hamba yang selalu bersyukur. Sabar itu buah dari takwa. Sekarang ini Rey masih saja suka melempar. Saya akhirnya ikhlas saja menerima cobaan ini, sambil berusaha terus memberi pengertian pada dia...

Tak perlu „Nanny 911“, acara di Metro TV yang menampilkan keluarga yang give-up atau menyerah dengan tingkah laku kebangetan anak-anaknya. Buat saya, anggap saja ini ujian kecil yang insya Allah bisa saya atasi. Amiiin.

Untuk Selalu Belajar Dengan Hati Anakku…


Kalau banyak anak lain ribet untuk urusan matematika, anak saya, Arel, suka tenang-tenang saja. Seakan-akan angka, penjumlahan, pengurangan, perkalian, itu sudah menggantung di ujung lidahnya. Semoga Arel memang punya bakat untuk matematika.

Saya dan isteri saya memang suka geleng-geleng kepala kalau melihat hasil ulangan matematikanya. Arel tak jarang dapat nilai 10. Cuma sering juga sih tiba-tiba nilainya jelek. Biasanya karena kurang teliti. Meskipun pada dasarnya, ruang kreativitas untuk menyelesaikan hitung-hitungannya, baik.

Setiap soal punya potensi masalahnya sendiri, dan Arel cukup tanggap untuk ini. Di pelajaran lain? Arel biasa-biasa saja. Oh ya, Bahasa Inggris mungkin yang lumayan baik. Heran juga, belajar darimana, kak..??

Di kelas 3 ini Arel mulai giat ikut kursus Metode Sakamoto, hari pertama dia giat sekali. Soal penjumlahan tiga susun dengan masing-masing deret 3 angka sudah dikuasainya. Di kelas 3 ini praktis tiada hari tanpa pekerjaan rumah. Isteri saya sampai pontang-panting ikut mengerjakan PR-nya Arel. Maklum anaknya sendiri suka cuek…

Yah, mungkin di sekolah, Arel dan juga teman-temannya yang lain memang sudah terlalu lelah, dihantam kurikulum saat ini yang luar biasa berat...

Yang Tak Pernah Usai Mengaminkan Cinta Pada Kekasih (2)


Novel kedua adalah Ayat-Ayat Cinta, karya Habiburrahman El Shirazi. Sudah lama saya melihat buku ini, tapi belum juga terbetik niat untuk membaca. Filmnya bahkan booming dimana-mana (Sayang kesempatan nonton di bioskop bersama isteri saya tak pernah kesampaian...)

Kembali ke bukunya. Isteri saya sejak lama memaksa saya membaca buku ini. "Supaya lebih menghormati wanita, dan tahu memperlakukan wanita. Biar bisa romantis," begitu katanya. Tapi saya masih cuek saja. Sampai akhirnya…

Yah…membaca buku ini saya merasa menjadi seorang fakir…saya bukan siapa-siapa dibandingkan Fachri, tokoh utama novel ini yang begitu sempurna, dan begitu romantis (setidaknya itu kata isteri saya hehehe).

Membaca buku ini saya juga jadi lebih ngerti bahwa cinta adalah kata yang pelaksanaannya lebih menantang daripada sekedar pengucapannya. Cuma setelah baca buku ini saya nggak berubah tuh..."Nggak ada romantis-romantisnya," kata isteri saya...Yah, nasib!

Kenangan Yang Melintas di Mata Berjuta Kita (1)



Oase pengetahuan ternyata bisa muncul dimana-mana. Saya takjub pada dua novel istimewa. Yang pertama novel Gajah Mada, tulisan Langit Kresna Hariadi. Dulu, sekitar akhir tahun 70-an, ketika saya SD-SMP, pernah ada cerita yang begitu menggugah tentang kehebatan pendekar-pendekar tlatah Jawa, yaitu “Serial Nogo Sosro dan Sabuk Inten”. Tokoh utamanya yang kondang dan mumpuni adalah Mahesa Djenar.

Setiap hari saya menunggu serial ini muncul di Radio. Saking hidupnya sandiwara radio ini, saya bahkan masih ingat adegan ketika salah satu tokoh yang bertopeng, yaitu Pasingsingan, sedang mengendap-endap, bersembunyi di balik rimbun pepohonan. Bunyi cengkerik mewarnai keheningan malam itu. Sementara di hadapan api unggun kecil, sekelompok pendekar duduk melingkar, tengah membicarakan sesuatu.

Dulu drama radio ini begitu hidup. Begitu nyata, dan sungguh mengasyikan. Kini keasyikan yang sama saya temui di novel Gajah Mada. Pak Langit, penulis novel ini, pintar mendongeng dan tentu saja meramunya dengan sejarah yang akurat. Saya mengerti sekarang bahwa sosok Gajah Mada adalah prajurit yang tangkas, trengginas, cerdas, dan luar biasa. Suatu hari nanti kalian harus membaca buku-buku ini ya…

Catatan: Novel Gajah Mada berkembang menjadi Pentalogi, 5 Judul: Gajah Mada, Bergelut Dalam Tahta dan Angkara, Hamukti Palapa, Perang Bubat dan madakaripura Hamukti Moksa. Novel lanjutannya adalah Candi Murca: Ken Arok Hantu Padang Karautan juga luar biasa bagusnya...

13 Mei 2008

Jalan Berliku Menuju Konser Duran Duran




Saya rasa grup musik Duran Duran berhasil memberi nyawa pada kata cinta. Paling tidak untuk istri saya. Mereka seperti memberi tapak untuk melangkah dan seperti terpahat abadi di hati istri saya. Maklum, istri saya tumbuh ketika Duran Duran menggenggam erat puncak popularitas musik dunia era 80-an. Simon Le Bon, Nick Rhodes, Roger Taylor dan John Taylor kala itu menjadi idola. Salah satu penggemar beratnya - bahkan sampai sekarang - ya istri saya.

Jauh hari sebelum konser Duran Duran awal April 2008 lalu, istri saya sudah sibuk bersiap diri. Dari mulai rencana menyisihkan budget untuk beli tiket, sampai persiapan kostum yang akan dipakai saat nonton konser. Konser Duran Duran di Jakarta, seperti puisi yang tak perlu arti lagi. Lewat mata jernihnya, Duran Duran seperti menyala di wajahnya.

Dini hari, hari yang sama dengan konser Duran Duran malamnya, istri saya terjaga. Napasnya terengah-engah dan dunia seperti berputar. Matanya basah. „Gelap, papah...gelap“. Mirip gejala vertigo. Panik, saya bawa dia ke ICU RS Bintaro. Sampai pukul 3 pagi, sendirian, saya terombang-ambing, menimbang apakah perlu dirawat atau pulang ke rumah.

Begitulah. Para opa Duran Duran tetap melangkah, namun istri saya terlelap dalam tangis yang melaut. Ia diopname untuk cek komplikasi penyakitnya. Dia pasti kecewe berat. Saya juga kecewa. Saya seperti telah memusnahkan keriangan dan suka citanya. Ah, andai saja ada sebuah kesempatan lagi...

Sampai sekarang, di hati saya Duran Duran hanya membawa kenangan yang pecah di antara saya dan istri saya. Apa boleh buat, Come Undone, Notorius, Ordinary World sampai Wild Boys, hits mereka yang juga dibawakan di konser malam itu, cuma jadi kenangan ketakberdayaan saya…

12 Mei 2008

Dari Mulut Kecilmu Kau Jentikkan Lagu Cinta


"...hatimu sexy itu terbukti
dari caramu memeluk hatiku
kamulah makhluk tuhan
yang tercipta yang paling sexy
ouww…ouww…ouww…
ouww…ouww…ouww…"
(Mulan Jameela: Lagu, "Mahluk Tuhan yang Paling Seksi)

Deva, anak kedua saya hafal betul lagu Mulan itu. Dia juga hafal banyak lagu lainnya, seperti “11 Januari” dari Gigi, atau “Sempurna”-nya Andra and The Backbones. Ya, Deva suka nyanyi kecil lagu-lagu itu.

Music Awareness Deva, menurut saya istimewa. Kalau nonton acara musik “Inbox” di SCTV tiap pagi, mulut kecilnya pelan bersenandung. Dia dengan gampangnya menirukan lagu yang baru saja didengar. Kok bisa ya? Barangkali karena Deva memang cepat tanggap untuk bidang yang berkorelasi dengan art awareness, imajinasi, music awareness, 3D graphics, arsitektur bahkan atletik.

Kenapa bisa begitu? Kalau diperhatikan Deva memang punya kecenderungan kidal. Kalau menulis, Deva lebih nyaman menggunakan tangan kiri. Juga menggunting, pakai baju, atau nendang bola. Kalau makan? Nah, ini yang sedang kita betulkan, tetap harus menggunakan tangan kanan. Toh, ada faktor budaya yang mengharuskan kita menggunakan tangan kanan. Maklum, bukankah kita tinggal di dunia yang dirancang untuk orang yang bukan kidal?

Ada teori yang menyebutkan kidal atau tidak biasanya disebabkan dua faktor: Nature (bawaan lahir) atau Nurture (pengasuhan). Orang yg kidal karena bawaan lahir, terjadi karena otak kanannya lebih dominan daripada otak kirinya. Sementara Deva, saya rasa lebih ke nurture, karena lingkungan. Karena di antara keluarga kami tidak ada yang kidal.

Kendati demikian tidak bijaksana kalo memaksa anak kidal untuk berubah preferensi, memakai tangan kanannya. Betapapun, namanya juga pemaksaan, pasti hasilnya tidak akan baik untuk perkembangan psikologis si kecil. Itu sebabnya, saya dan istri saya, tak pernah menegur. Karena ternyata, kata sebuah penelitian, anak kidal biasanya lebih cerdas dan cepat tanggap. Insya Allah. Amiiinn.

Ayo, nyanyi lagi, dek...!

Semoga Allah Mencium Mamah, Dalam TamanNYA Terindah



"Perjuangan seorang mukmin sejati tidak akan berhenti, kecuali kedua telapak kakinya telah menginjak pintu surga." (Imam Ahmad bin Hanbal)

Pagi itu doa saya bertambah lagi. Doa untuk kebahagiaan istri saya. Doa untuk selalu tabah menjalani hidup ini. Semoga Allah selalu menjaga mamah ya. Amiin.

Ya, pagi itu saya tersenyum-senyum menerima SMS yang menggelitik dari istri saya. Bunyinya: „Pap, aku pengen ngelamar jadi supir busway aja ya, kayaknya asik juga...“. Hahaha. Saya putuskan membalas SMS istri saya. Serius?. „Bener serius, tapi aku minta ijin dulu boleh nggak. Mulai kerjanya dari jam 5 sampai jam 1 siang.”

Ini pertanyaan yang mestinya tidak dijawab dengan hati. Tapi toh hati saya merayap dalam gelisah. Dan di salah satu sudutnya kutemukan duka yang tertimbun ranting-ranting patah. Pada detak sunyi dan cekaman hari-harinya, ada sebuah mimpi untuk mengakhiri semuanya. Istri saya ingin berbuat sesuatu. Meneteskan keringat dan rindunya untuk keluarga!

Dalam buku gambar yang kami punya, memang ada sederet sketsa: tentang kebahagiaan, ketercukupan, tentang kekayaan, kemewahan, dan lain-lain. Saat itu saya memang sedang dicoba sedang tak punya apa-apa. Uang untuk beli bensin ke kantor harus mengalah pada susu dan pampers kalian, anak-anakku. Tapi papah ikhlas.

Kembali soal busway atau Trans Jakarta tadi. Istri saya pasti akan jadi sopir paling cantik di seluruh Jakarta. Cuma setelah nonton pengalaman para sopir cewek di Dorce Show-Trans TV dan dengar cerita saya tentang sopir busway yang ugal-ugalan, hati istri saya jadi ciut. Yah, syukurlah, mam!

26 Februari 2008

Terbang Ke Taman Pengetahuan Paling Menawan


„Laler menclok nang pager didudut mak lher“ (Lalat menempel di pagar, ditarik mak-lher!)

Entah ada hubungan apa antara Arel, anak saya yang pertama dengan Chris Tucker, aktor komedi Hollywood yang membintangi film Rush Hour 3. Yang jelas kata “r” pertama yang muncul dari mulut kecil Arel ya nama Chris Tucker itu. “Chris Tuckeerrrrrrrrrrr,” dengan “r” yang fasih dan panjang banget.

Saya tos dengan Arel. Itu keren, kakak (panggilan sayang kami untuk Arel). Sangat keren.

Sudah lama Arel cadel huruf „r“. Saya sering risau soal ini, dan sering mengajari Arel untuk mengucap alifbata “r” ini. Maklum usianya sudah 7 tahun lebih, dan sebentar lagi kelas 3. Dunia memang tidak akan runtuh hanya gara-gara tidak bisa mengucapkan huruf “r”. Namun tetap saja seperti ada yang kurang. Ada yang belum sempurna.

Kini ada kegembiraan baru di sekitar kami. Menguji huruf „r“ Arel, seperti mengucap „ular melingkar di atas pagar....“ atau „Laler menclok nang pager didudut mak lher“. Deva paling senang dengan kalimat kedua ini. Dia bisa tertawa ngakak mengikuti kakaknya mengucapkan kata-kata berbahasa Jawa ini.

Kakak, selamat punya amunisi baru menuju matahari. Selamat mempunyai sayap-sayap baru. Semoga bisa membawa terbang menuju taman-taman pengetahuan. Yang paling menawan…

(Catatan ini ditulis untuk mengenang pertama kalinya Arel mengucapkan huruf “r”, sekitar 3 minggu lalu. Ketika itu dalam perjalanan dari Jakarta menuju rumah nenek di dago, Bandung, di mobil Arel tiba-tiba saja bilang „chris tuckerrrr“ berkali-kali. Sekarang sombong dia, semua kata yang tidak ada “r” diselipin kata-kata „r” semua hehehe)

20 Februari 2008

Biar Kulihat Senyummu Adik Kecil..





Diiringi Doa Berlimpah dari semesta
Bersama Anggukan Kupu-Kupu
Selamat Ulang Tahun Anakku
Muhammad Reynard Fawwaz Nuriansyah
Selamat Ulang Tahun dari kami semua
Mamah, papah, Kakak Arel dan Aa Deva

(Reynard Fawwaz Nuriansyah, lahir 14 Februari 2006, saat ini 2th. Nama Reynard atau Reinhart diambil dari bahasa Perancis - kenang-kenangan bapaknya yang waktu itu ke Paris -- artinya berani. Fawwaz dari bahasa Arab yang artinya "yang mendapat banyak keberuntungan". Nuriansyah - adalah singkatan nama kami - Nurhidayat-Indri, dan Syah - sebutan untuk gelar kebangsawanan. Maksudnya supaya ketika hidup di zaman globalisasi ini, Rey tumbuh menjadi orang yang terpandang, berani berkata benar dan banyak mendapat keberuntungan. Di ultah ke-2 ini, papahnya janji mau ngerayain ultah. tapi nanti ya. rezeki ayahmu masih berserak di cakrawala)

Kudengar Episodemu Adik Kecil...


Ingat anak ketiga saya? Ya, Reynard namanya, panggilannya Rey. Tahun ini ulang tahunnya yang kedua. Lagi lucu-lucunya, sudah mulai cerewet bicara dan banyak maunya. Senyumnya seperti menghadirkan ribuan pelangi dalam kehidupan kami.

Hanya saja ternyata Rey menyimpan kesedihan yang dalam. Belum lama kudengar berita pilu yang membuat tangis seakan tak berarti. Entah apa sanggup kususun kata-kata ini. Di sekitar Rey berkelebatan bayang-bayang kelam, sesuatu dari alam seberang! Tidak cuma satu, tapi lima orang! Membayangi dan terus mengikuti setiap hari. Mengganggunya dari hari ke hari. Dua dari rumah kami yang lama, tiga dari sekitar rumah kami yang baru. Bentuknya? Ah, jangan ditanya!!

Belakangan Rey memang sering sakit. Terakhir dokter malah bingung antara gejala dbd atau „kawasaki“ (aneh juga nama penyakitnya). Salah satu gejalanya selain suhu badan panas, pembuluh saraf mata Rey memerah seperti pecah. Kemungkinan karena sejak beberapa hari hampir setiap malam - dari jam 3-5 subuh - Rey menangis terus menerus.

Allah mengajarkan dalam Al Quran untuk bersabar dengan sabar yang indah. Untunglah kami bertemu Aa Ihsan, seorang hafidz Al Quran, dari sebuah pesantren di Madiun. Dari dai muda ini kami mengenal dunia ghaib, melihat bagaimana Rey disembuhkan, ‚memagari’ rumah baru kami dengan doa, dan di atas itu semua mengingatkan kembali untuk lebih khusyu dan tawadhu di jalan Allah.

Kalau mengingat semua itu, saya selalu mawas diri: benarkah itu terjadi di keluarga kami??

Ah...Masih terbayang ketika Rey menatap saya dengan mata basah yang sama. Seperti mata kanak-kanak yang tak pernah menemukan cinta. Terus mengais asa. Masih teringat ketika sambil tersedu-sedu, jemari kecilnya menggenggam tanganku. Kuat sekali.

Mungkin dia ingin mengajakku berdoa. Berwudhu dan bersujud kepadaNya.

Untuk anak-anakku: aku cintaaaa sekali sama mereka...

(Saat ini ditulis, kondisi Rey berangsur baik, matanya sudah menyiratkan keriangan dan suka cita. Sudah lengket lagi dengan bapak dan ibunya. sudah main ajrut-ajrutan dengan kakak-kakanya. Main berantem dan berjoget ria di depan tv. dia sudah merasa tenang di rumah. Selamat datang di rumah kembali adik kecilku)

(Salam hangat untuk Ulin, seorang sahabat di Trans TV. Mata batinnya mampu menerawang Rey dan kondisi rumah kami. Karena ini juga Ulin kedatangan 'kawan-kawan baru', para mahluk halus yang tadinya menempel di tubuh Rey. Mereka bahkan jadi sering bertandang ke rumah Ulin. Ulin, terima kasih atas bantuannya ya.)

Untuk Semua yang Kau Ukir dalam Diriku dan Lekuk Jiwa Semesta



"Por la educacion recibe lustre la patria." (Melalui pendidikan kejayaan negeri diterima." (Jose Rizal)

Bagaimana aku bisa memadatkan hari yang terus berlari dalam kata-kata indah. Bagaimana aku bisa mendefinisikanmu sejejak dari berjuta langkah? Almamater. Sungguh sebuah taman hati yang indah. Sebuah tempat yang tak akan pernah selesai kau lintasi. Di sepanjang jalan hidupmu.

Di sinilah 7 Januari 2008 lalu, sepotong kenangan masa kuliah menjelma menjadi senyum yang berayun dan tersungging sampai sekarang. Saya diundang untuk memberi ceramah, atau sharing knowledge tentang media televisi di hadapan mahasiswa S2 Psikologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Sebuah dunia yang secara diametral berseberangan dengan profesi umum psikolog.

Di sinilah juga saya bertemu dengan guru-guru yang menulisi semesta jiwa saya dengan ilmu psikologi. Ada Pak Noor Rahman yang sekarang menjadi Dekan, Prof. Koentjoro, guru, sahabat, sekaligus teman diskusi masalah sosial, Pak Marnio Pujono, Pak Subandi, dll. Banyak. Saya juga surprise luar biasa ketika bertemu dengan Sari dan Nia, dua alumnus yang datang atas undangan yang sama, dan Mas Bagus Riyono dan Emy Zulaefah, kakak dan teman seperjuangan ketika di majalah Psikomedia. Sebuah majalah yang mengasah kepekaan jurnalistik saya.

Puisi yang indah, karpet merah dan selendang bintang untuk sahabat saya Mustaghfirin (ini temen ‚kumpul kebo’ saya hehehe) dan Maryono. Terima kasih karena kesempatan menginjakkan kaki setelah lebih dari satu dasawarsa meninggalkan Almamater tercinta memunculkan semangat saya untuk belajar lagi, kuliah lagi dan mengabdi sebagai pengajar. Paling tidak suatu hari nanti.

Anak-anakku, hari itu, adalah hari yang paling pantas dicatat dengan tinta yang paling emas.

(Salam hangat untuk teman-teman Psikomedia: Umi Gita dkk. yang ikut makan bareng di warung SGPC Selokan. Saya kaget juga ngeliat bundel Psikomedia dari edisi perdana hingga terbitan terakhir. Saya jadi ingat cerpen-cerpen saya: Legenda, Masnawi TTS --yang kata Mas Bagus masterpiece hehehe suwun yo mas --, tulisan tentang Psikologi Rekayasa, dan tulisan yang menyabet penghargaan terbaik lomba artikel Psikologi Se-Indonesia: „Psikologi yang Berpijak di Bumi: Psikologi Kontekstual“)

19 Februari 2008

Kau Tumpuk Mimpimu di Sepanjang Jalan


Dimanakah alamatmu mahluk kecil? Apakah di sebuah tempat dimana semua anak mencitakan suka kala melihatmu? Apakah di sebuah matahari yang selalu menjulurkan tangga pelangi, agar anak-anak bisa mendaki? Dimana sesungguhnya alamatmu monster kecil?

Selamat datang di negeri ajaib. Negeri seribu satu monster: Pokemon.

Ya, anak-anak saya memang penggemar berat Pokemon. Terutama Arel. Koleksi Pokemonnya bahkan sering membuat tercengang papahnya. Dari mulai pernak pernik Pikachu, Bulbasaur, Treecko, Trading Card sampai puluhan DVD.

Jauh sebelum saya berangkat ke Jepang, setiap hari Arel selalu berpesan, mesti mampir ke Pokemon Center.

Tokyo saat itu dingin bukan kepalang. Tapi suhu badan saya, hati saya, mata saya, menghangat karena satu kata: kesempatan. Kapan lagi berburu Pokemon di negerinya Pokemon. Bayangan mata Arel yang berbinar ketika bercerita di hadapan teman-temannya tentang papahnya yang ke Jepang dan tentang janji papahnya ke Pokemon Center, memang harus diwujudkan.

(Catatan ini ditulis untuk Arel, supaya ingat betapa papahnya menembus huruf-huruf Kanji Jepang, memahami peta buta jalur kereta dan subway Tokyo serta tapak langkah seorang jurnalis yang haus petualangan. Akhirnya ketemu tempat itu - di tengah rimba kota supersibuk: Pokemon Center, Shiodome-Shiba Rikyū building, Kaigan 1-2-3, Minato-ku Tokyo, Jepang)

15 Februari 2008

Membaca Resah yang Berlarian…


Anak-anak itu tak henti disetrika lara. Menggelepar di dusun-dusun sunyi tak bernama. Terbujur di negeri asing. Bisakah mereka tumbuh dari mimpi-mimpi, di antara kepingan derita dan uang kertas yang tak seberapa??

Di Seminar Kesehatan Lingkungan dan Sanitasi se Asia di Beppu-Jepang, tiba-tiba kesadaran itu muncul di benak saya. Menari-nari dan menyita perhatian begitu rupa. Siapa peduli siapa? Di Beppu juga terbetik nyala api unggun di mata: suatu ketika saya akan menyapa dunia mereka. Sebuah dunia terpencil dan nyaris jauh dari hiruk pikuk kesibukan dunia televisi yang saya geluti.

Beppu-Jepang membawa kenangan yang luar biasa buat saya. Kamal Khar, calon profesor dari India, begitu baiknya pada saya. Lalu, Emeritus Profesor Kyoto University Saburo Matsui, yang jadi teman semeja makan delegasi Indonesia saat dinner, seorang profesor yang tahu segalanya. Semua bahan makanan yang kami makan dibahas dengan detil olehnya. Dari jamur shiitake yang dimakan campur salmon mentah sampai air mineral Volvic yang dari Perancis dibahas oleh profesor kocak ini. Dan di atas itu semua ada Mr. Jamal Saghir, direktur World Bank, seorang muslim taat yang sangat kharismatik.

Jepang kali ini sungguh mengesankan. Saya menyaksikan betapa orang-orang yang terlibat dalam seminar sanitasi, jamban, water closet, dll. untuk negara berkembang ini adalah orang-orang yang luar biasa. Mereka warga dunia yang melintasi batasan teritori dan batasan ruang diri, memikirkan warga dunia lainnya. Saya membaca gerak mereka ketika bertegur sapa dan duduk semeja tanpa halangan apa-apa.

Ini sekelumit cerita tentang seminar yang saya ikuti di Beppu City, Jepang. Respek yang dalam dan terima kasih tak terhingga untuk Yosa Yuliarsa, sahabat dan guru untuk sanitasi lingkungan dari WSP – Water and Sanitation Program, World Bank Jakarta dan Ria Ernunsari, produser „Cerita Anak“ Trans TV – yang mewakilkan kehadirannya untuk saya.

Salam hangat juga untuk delegasi Indonesia, Mbak Elly Kompas, Pak Zaenal Nampira, dan Pak Wan Alkadri dari Depkes, dan Pak Susmono yang kocak dari PU. Beberapa sahabat yang menyenangkan antara lain Gary D. Swisher dari Wold Bank dan isteri.

(Foto: Bersama Almud Weitz, Regional Team Leader WSP Wodl Bank, ketika menerima piagam untuk program "Cerita Anak", di East Asia Ministerial Conference on Sanitation and Hygiene 2007, Beppu City, Japan, November-December 2007)

13 Februari 2008

Kutitipkan Tapak Jazz Untuk Kau Simpan Demi Masa Depan


"I'll play it first and tell you what it is later." (Miles Davis)

Shaker’s Song…suatu hari nanti kalian -anak-anakku- harus mendengarkan komposisi ini. Sebuah komposisi yang amat dinamis, rancak, dan menderu. Dari saksofon Jay Beckenstein, mereka menjentikkan lagu cinta dan puisi yang penuh arti.

Ketika mendengar lagu ini, wajah saya menyala di kegelapan. Ah, musik jazz memang tak pernah lelap dalam ingatan. Selalu ada matahari baru yang lahir dari setiap komposisi lagu yang mereka mainkan. Selalu ada pelangi yang secara ritmikal menjulurkan tangga untuk kita daki bersama.

Shaker’s song, di Jakarta Jazz Festival 2007, oleh Spyro Gyra bahkan dimainkan lebih ritmis daripada komposisi mereka yang terkenal, Morning Dance. Setidaknya menurut saya. Padahal Morning Dance hits pertama Spyro Gyra yang sekaligus menancapkan citra mereka di benak penggemar jazz di seluruh dunia.

Begitulah anak-anakku, jazz memang semesta anggukan yang selalu menyapa papahmu ini. Ia seperti tamu istimewa yang patut dijamu. Sepotong konsernya, kalau bisa jangan sampai terlewat. Di manapun: di Jak Jazz, Java Jazz, konser di Taman Ismail Marzuki, atau di Gedung Kesenian Jakarta.

(Tulisan ini dibuat untuk mengenang Jak Jazz 2007 di Istora Senayan, Jakarta 23-25 November. Juga untuk mengingat kejadian lucu. Anak saya, Deva, 3,5 tahun, diam-diam juga suka musik jazz. Ia sering memutar kaset koleksi Spyro Gyra saya di mobil, dari mulai Morning Dance, The Rites of Summer sampe Dream Beyond Control. Saya cuma senyum-senyum, bener nih, anak ini nerusin hobi bapaknya…)

(foto: http://kidae71.multiply.com/photos/album/27/spyro_gyra#1)

Kuletakkan Kata Cinta Disini


"Lilin tanpa sumbu menyala dalam jiwa, menerangi jalan setapakmu ketika dunia terlelap dalam gelap. Berbahagialah, sesungguhnya engkau mampu berulang tahun setiap hari." (Filosofi Kopi-Dewi Dee: Lilin Merah)

Buat istri saya, saya ini orang yang tidak romantis. “Statis dan lempeng-lempeng aja“, begitu kata istri saya. Jangankan candlelight dinner atau memberi bunga, makan atau jalan berdua saja bisa dihitung jari. Kado ulang tahun juga masuk daftar catatan merah istri saya. "Nggak pernah perhatian, alias cuek bebek," katanya. Yah, saya sih suka mesem-mesem saja kalau istri saya ngomel soal romantis-nggak romantis ini.

Padahal di setiap detik hari-harinya, saya mencoba menjadi orang yang berbeda. Ingin menjadi romantis seperti dalam bayangannya. Di setiap kesempatan saya mencoba mewujudkan cinta. Tapi memang kadang tak terungkap atau terkatakan.

Yang jelas, istri saya orang yang hebat. Di antara detak sunyi dan cekaman hari-harinya yang kadang sepi, dia berjuang dengan setia. Ia juga orang yang istimewa, sebab melahirkan kehidupan dan memberi tapak untuk melangkah pada saya dan anak-anak saya: Arel, Deva dan Rey.

Di ulang tahunnya, 25 Oktober 2007 lalu, jauh-jauh hari saya memimpikan memberi sesuatu pada istri saya. Hanya saja saat itu rezeki saya sedang berserak di cakrawala. Hanya doa yang sanggup menjaring permata yang berserakan itu di langit.

Percaya atau tidak, credit card saya yang sudah tidak laku digesek dimana-mana (hehehe...) Subhanallah, saat itu mulus-mulus saja.

Selamat punya Nokia N76 yang keren itu ya mam. Dan selamat tinggal nokia butut yang bolak-balik hancur dilempar Deva sama Rey.

Dan, Selamat Ulang Tahun dari kami semua.

(indri nuzulianti, 25 Oktober 1972, scorpio, cantik dan manis. pelahap spagheti, pasta, pizza, dan makanan ala Eropa lainnya. sesekali warung pinggir jalan juga oke. paling suka ayam bakar udin bintaro sek 9. penyuka musik romantis, pengumpul pernak-pernik unik. sekarang waktunya habis untuk mengurus tiga jagoan kami, arel, deva dan rey)

12 Februari 2008

Aku Meletakkan Kalian Semua di Hatiku


May the Force be with you.....
(The Tao of Star Wars)

Rindu yang berdenyut di nadi, rindu yang berkelebatan di hati, adalah rindu jemari ini menyapa kehadiran kalian di blog ini. Banyak yang berlalu dan hilang. Kalian lihat thread terakhir blog kita? Itu 10 Oktober 2007. Sekarang, 12 Februari 2008. Banyak yang terlewat: ultah papah dan mamahmu, 20 dan 25 Oktober, papah 'ngamen' di Jak Jazz, tugas ke Beppu Jepang, ceramah di depan mahasiswa S2 di Psikologi UGM, Rey sakit, Jalan-jalan ke Sea World, dan banyak lagi.

Sekelumit cerita di blog ini pasti akan berarti buat kalian. Buat saya pribadi, ini mengobati rindu yang menancapi hati. Mengiris sendi-sendi diri.

Saya jadi teringat pesan Nabi Muhammad SAW, “Al Waktu kas Shhoiif”...”Waktu itu seperti pedang“. Tajam dan mematikan.

Kini, saya tinggal memetik kata-kata yang berserak di cakrawala. Menjaring permata di langit. Dan dengan cinta menulisi jiwa semesta hati kalian. Untuk Arel, Deva dan Rey, semoga tulisan ini selalu bisa mengingatkanmu di setiap detik hidupmu.

May The Force Be with you... (Dari Koleksi DVD Arel: Star Wars Episode I: The Phantom Menace)