Allowwww guys...Apa kabar...

Selamat datang di website ini ya! Papah sengaja membuatnya untukku dan adikku Deva juga Rey, supaya website ini jadi "cahaya yang menerangi batin kita". Kata Papah untuk kontemplasi suatu hari nanti. Aku nggak ngerti apa tuh kontemplasi hahaha!! Kalau kata mamah sih, "semoga bisa mengantar anak-anak menuju gerbang kehidupan", wah dalem banget ya. Yah, apapun, aku sih nurut aja lah. Jangan lewatkan tulisan-tulisan papahku ya, dan jangan lupa mengisi message boardnya biar kita selalu tersambung. Okay okay..!! (Arel)

26 Februari 2008

Terbang Ke Taman Pengetahuan Paling Menawan


„Laler menclok nang pager didudut mak lher“ (Lalat menempel di pagar, ditarik mak-lher!)

Entah ada hubungan apa antara Arel, anak saya yang pertama dengan Chris Tucker, aktor komedi Hollywood yang membintangi film Rush Hour 3. Yang jelas kata “r” pertama yang muncul dari mulut kecil Arel ya nama Chris Tucker itu. “Chris Tuckeerrrrrrrrrrr,” dengan “r” yang fasih dan panjang banget.

Saya tos dengan Arel. Itu keren, kakak (panggilan sayang kami untuk Arel). Sangat keren.

Sudah lama Arel cadel huruf „r“. Saya sering risau soal ini, dan sering mengajari Arel untuk mengucap alifbata “r” ini. Maklum usianya sudah 7 tahun lebih, dan sebentar lagi kelas 3. Dunia memang tidak akan runtuh hanya gara-gara tidak bisa mengucapkan huruf “r”. Namun tetap saja seperti ada yang kurang. Ada yang belum sempurna.

Kini ada kegembiraan baru di sekitar kami. Menguji huruf „r“ Arel, seperti mengucap „ular melingkar di atas pagar....“ atau „Laler menclok nang pager didudut mak lher“. Deva paling senang dengan kalimat kedua ini. Dia bisa tertawa ngakak mengikuti kakaknya mengucapkan kata-kata berbahasa Jawa ini.

Kakak, selamat punya amunisi baru menuju matahari. Selamat mempunyai sayap-sayap baru. Semoga bisa membawa terbang menuju taman-taman pengetahuan. Yang paling menawan…

(Catatan ini ditulis untuk mengenang pertama kalinya Arel mengucapkan huruf “r”, sekitar 3 minggu lalu. Ketika itu dalam perjalanan dari Jakarta menuju rumah nenek di dago, Bandung, di mobil Arel tiba-tiba saja bilang „chris tuckerrrr“ berkali-kali. Sekarang sombong dia, semua kata yang tidak ada “r” diselipin kata-kata „r” semua hehehe)

20 Februari 2008

Biar Kulihat Senyummu Adik Kecil..





Diiringi Doa Berlimpah dari semesta
Bersama Anggukan Kupu-Kupu
Selamat Ulang Tahun Anakku
Muhammad Reynard Fawwaz Nuriansyah
Selamat Ulang Tahun dari kami semua
Mamah, papah, Kakak Arel dan Aa Deva

(Reynard Fawwaz Nuriansyah, lahir 14 Februari 2006, saat ini 2th. Nama Reynard atau Reinhart diambil dari bahasa Perancis - kenang-kenangan bapaknya yang waktu itu ke Paris -- artinya berani. Fawwaz dari bahasa Arab yang artinya "yang mendapat banyak keberuntungan". Nuriansyah - adalah singkatan nama kami - Nurhidayat-Indri, dan Syah - sebutan untuk gelar kebangsawanan. Maksudnya supaya ketika hidup di zaman globalisasi ini, Rey tumbuh menjadi orang yang terpandang, berani berkata benar dan banyak mendapat keberuntungan. Di ultah ke-2 ini, papahnya janji mau ngerayain ultah. tapi nanti ya. rezeki ayahmu masih berserak di cakrawala)

Kudengar Episodemu Adik Kecil...


Ingat anak ketiga saya? Ya, Reynard namanya, panggilannya Rey. Tahun ini ulang tahunnya yang kedua. Lagi lucu-lucunya, sudah mulai cerewet bicara dan banyak maunya. Senyumnya seperti menghadirkan ribuan pelangi dalam kehidupan kami.

Hanya saja ternyata Rey menyimpan kesedihan yang dalam. Belum lama kudengar berita pilu yang membuat tangis seakan tak berarti. Entah apa sanggup kususun kata-kata ini. Di sekitar Rey berkelebatan bayang-bayang kelam, sesuatu dari alam seberang! Tidak cuma satu, tapi lima orang! Membayangi dan terus mengikuti setiap hari. Mengganggunya dari hari ke hari. Dua dari rumah kami yang lama, tiga dari sekitar rumah kami yang baru. Bentuknya? Ah, jangan ditanya!!

Belakangan Rey memang sering sakit. Terakhir dokter malah bingung antara gejala dbd atau „kawasaki“ (aneh juga nama penyakitnya). Salah satu gejalanya selain suhu badan panas, pembuluh saraf mata Rey memerah seperti pecah. Kemungkinan karena sejak beberapa hari hampir setiap malam - dari jam 3-5 subuh - Rey menangis terus menerus.

Allah mengajarkan dalam Al Quran untuk bersabar dengan sabar yang indah. Untunglah kami bertemu Aa Ihsan, seorang hafidz Al Quran, dari sebuah pesantren di Madiun. Dari dai muda ini kami mengenal dunia ghaib, melihat bagaimana Rey disembuhkan, ‚memagari’ rumah baru kami dengan doa, dan di atas itu semua mengingatkan kembali untuk lebih khusyu dan tawadhu di jalan Allah.

Kalau mengingat semua itu, saya selalu mawas diri: benarkah itu terjadi di keluarga kami??

Ah...Masih terbayang ketika Rey menatap saya dengan mata basah yang sama. Seperti mata kanak-kanak yang tak pernah menemukan cinta. Terus mengais asa. Masih teringat ketika sambil tersedu-sedu, jemari kecilnya menggenggam tanganku. Kuat sekali.

Mungkin dia ingin mengajakku berdoa. Berwudhu dan bersujud kepadaNya.

Untuk anak-anakku: aku cintaaaa sekali sama mereka...

(Saat ini ditulis, kondisi Rey berangsur baik, matanya sudah menyiratkan keriangan dan suka cita. Sudah lengket lagi dengan bapak dan ibunya. sudah main ajrut-ajrutan dengan kakak-kakanya. Main berantem dan berjoget ria di depan tv. dia sudah merasa tenang di rumah. Selamat datang di rumah kembali adik kecilku)

(Salam hangat untuk Ulin, seorang sahabat di Trans TV. Mata batinnya mampu menerawang Rey dan kondisi rumah kami. Karena ini juga Ulin kedatangan 'kawan-kawan baru', para mahluk halus yang tadinya menempel di tubuh Rey. Mereka bahkan jadi sering bertandang ke rumah Ulin. Ulin, terima kasih atas bantuannya ya.)

Untuk Semua yang Kau Ukir dalam Diriku dan Lekuk Jiwa Semesta



"Por la educacion recibe lustre la patria." (Melalui pendidikan kejayaan negeri diterima." (Jose Rizal)

Bagaimana aku bisa memadatkan hari yang terus berlari dalam kata-kata indah. Bagaimana aku bisa mendefinisikanmu sejejak dari berjuta langkah? Almamater. Sungguh sebuah taman hati yang indah. Sebuah tempat yang tak akan pernah selesai kau lintasi. Di sepanjang jalan hidupmu.

Di sinilah 7 Januari 2008 lalu, sepotong kenangan masa kuliah menjelma menjadi senyum yang berayun dan tersungging sampai sekarang. Saya diundang untuk memberi ceramah, atau sharing knowledge tentang media televisi di hadapan mahasiswa S2 Psikologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Sebuah dunia yang secara diametral berseberangan dengan profesi umum psikolog.

Di sinilah juga saya bertemu dengan guru-guru yang menulisi semesta jiwa saya dengan ilmu psikologi. Ada Pak Noor Rahman yang sekarang menjadi Dekan, Prof. Koentjoro, guru, sahabat, sekaligus teman diskusi masalah sosial, Pak Marnio Pujono, Pak Subandi, dll. Banyak. Saya juga surprise luar biasa ketika bertemu dengan Sari dan Nia, dua alumnus yang datang atas undangan yang sama, dan Mas Bagus Riyono dan Emy Zulaefah, kakak dan teman seperjuangan ketika di majalah Psikomedia. Sebuah majalah yang mengasah kepekaan jurnalistik saya.

Puisi yang indah, karpet merah dan selendang bintang untuk sahabat saya Mustaghfirin (ini temen ‚kumpul kebo’ saya hehehe) dan Maryono. Terima kasih karena kesempatan menginjakkan kaki setelah lebih dari satu dasawarsa meninggalkan Almamater tercinta memunculkan semangat saya untuk belajar lagi, kuliah lagi dan mengabdi sebagai pengajar. Paling tidak suatu hari nanti.

Anak-anakku, hari itu, adalah hari yang paling pantas dicatat dengan tinta yang paling emas.

(Salam hangat untuk teman-teman Psikomedia: Umi Gita dkk. yang ikut makan bareng di warung SGPC Selokan. Saya kaget juga ngeliat bundel Psikomedia dari edisi perdana hingga terbitan terakhir. Saya jadi ingat cerpen-cerpen saya: Legenda, Masnawi TTS --yang kata Mas Bagus masterpiece hehehe suwun yo mas --, tulisan tentang Psikologi Rekayasa, dan tulisan yang menyabet penghargaan terbaik lomba artikel Psikologi Se-Indonesia: „Psikologi yang Berpijak di Bumi: Psikologi Kontekstual“)

19 Februari 2008

Kau Tumpuk Mimpimu di Sepanjang Jalan


Dimanakah alamatmu mahluk kecil? Apakah di sebuah tempat dimana semua anak mencitakan suka kala melihatmu? Apakah di sebuah matahari yang selalu menjulurkan tangga pelangi, agar anak-anak bisa mendaki? Dimana sesungguhnya alamatmu monster kecil?

Selamat datang di negeri ajaib. Negeri seribu satu monster: Pokemon.

Ya, anak-anak saya memang penggemar berat Pokemon. Terutama Arel. Koleksi Pokemonnya bahkan sering membuat tercengang papahnya. Dari mulai pernak pernik Pikachu, Bulbasaur, Treecko, Trading Card sampai puluhan DVD.

Jauh sebelum saya berangkat ke Jepang, setiap hari Arel selalu berpesan, mesti mampir ke Pokemon Center.

Tokyo saat itu dingin bukan kepalang. Tapi suhu badan saya, hati saya, mata saya, menghangat karena satu kata: kesempatan. Kapan lagi berburu Pokemon di negerinya Pokemon. Bayangan mata Arel yang berbinar ketika bercerita di hadapan teman-temannya tentang papahnya yang ke Jepang dan tentang janji papahnya ke Pokemon Center, memang harus diwujudkan.

(Catatan ini ditulis untuk Arel, supaya ingat betapa papahnya menembus huruf-huruf Kanji Jepang, memahami peta buta jalur kereta dan subway Tokyo serta tapak langkah seorang jurnalis yang haus petualangan. Akhirnya ketemu tempat itu - di tengah rimba kota supersibuk: Pokemon Center, Shiodome-Shiba Rikyū building, Kaigan 1-2-3, Minato-ku Tokyo, Jepang)

15 Februari 2008

Membaca Resah yang Berlarian…


Anak-anak itu tak henti disetrika lara. Menggelepar di dusun-dusun sunyi tak bernama. Terbujur di negeri asing. Bisakah mereka tumbuh dari mimpi-mimpi, di antara kepingan derita dan uang kertas yang tak seberapa??

Di Seminar Kesehatan Lingkungan dan Sanitasi se Asia di Beppu-Jepang, tiba-tiba kesadaran itu muncul di benak saya. Menari-nari dan menyita perhatian begitu rupa. Siapa peduli siapa? Di Beppu juga terbetik nyala api unggun di mata: suatu ketika saya akan menyapa dunia mereka. Sebuah dunia terpencil dan nyaris jauh dari hiruk pikuk kesibukan dunia televisi yang saya geluti.

Beppu-Jepang membawa kenangan yang luar biasa buat saya. Kamal Khar, calon profesor dari India, begitu baiknya pada saya. Lalu, Emeritus Profesor Kyoto University Saburo Matsui, yang jadi teman semeja makan delegasi Indonesia saat dinner, seorang profesor yang tahu segalanya. Semua bahan makanan yang kami makan dibahas dengan detil olehnya. Dari jamur shiitake yang dimakan campur salmon mentah sampai air mineral Volvic yang dari Perancis dibahas oleh profesor kocak ini. Dan di atas itu semua ada Mr. Jamal Saghir, direktur World Bank, seorang muslim taat yang sangat kharismatik.

Jepang kali ini sungguh mengesankan. Saya menyaksikan betapa orang-orang yang terlibat dalam seminar sanitasi, jamban, water closet, dll. untuk negara berkembang ini adalah orang-orang yang luar biasa. Mereka warga dunia yang melintasi batasan teritori dan batasan ruang diri, memikirkan warga dunia lainnya. Saya membaca gerak mereka ketika bertegur sapa dan duduk semeja tanpa halangan apa-apa.

Ini sekelumit cerita tentang seminar yang saya ikuti di Beppu City, Jepang. Respek yang dalam dan terima kasih tak terhingga untuk Yosa Yuliarsa, sahabat dan guru untuk sanitasi lingkungan dari WSP – Water and Sanitation Program, World Bank Jakarta dan Ria Ernunsari, produser „Cerita Anak“ Trans TV – yang mewakilkan kehadirannya untuk saya.

Salam hangat juga untuk delegasi Indonesia, Mbak Elly Kompas, Pak Zaenal Nampira, dan Pak Wan Alkadri dari Depkes, dan Pak Susmono yang kocak dari PU. Beberapa sahabat yang menyenangkan antara lain Gary D. Swisher dari Wold Bank dan isteri.

(Foto: Bersama Almud Weitz, Regional Team Leader WSP Wodl Bank, ketika menerima piagam untuk program "Cerita Anak", di East Asia Ministerial Conference on Sanitation and Hygiene 2007, Beppu City, Japan, November-December 2007)

13 Februari 2008

Kutitipkan Tapak Jazz Untuk Kau Simpan Demi Masa Depan


"I'll play it first and tell you what it is later." (Miles Davis)

Shaker’s Song…suatu hari nanti kalian -anak-anakku- harus mendengarkan komposisi ini. Sebuah komposisi yang amat dinamis, rancak, dan menderu. Dari saksofon Jay Beckenstein, mereka menjentikkan lagu cinta dan puisi yang penuh arti.

Ketika mendengar lagu ini, wajah saya menyala di kegelapan. Ah, musik jazz memang tak pernah lelap dalam ingatan. Selalu ada matahari baru yang lahir dari setiap komposisi lagu yang mereka mainkan. Selalu ada pelangi yang secara ritmikal menjulurkan tangga untuk kita daki bersama.

Shaker’s song, di Jakarta Jazz Festival 2007, oleh Spyro Gyra bahkan dimainkan lebih ritmis daripada komposisi mereka yang terkenal, Morning Dance. Setidaknya menurut saya. Padahal Morning Dance hits pertama Spyro Gyra yang sekaligus menancapkan citra mereka di benak penggemar jazz di seluruh dunia.

Begitulah anak-anakku, jazz memang semesta anggukan yang selalu menyapa papahmu ini. Ia seperti tamu istimewa yang patut dijamu. Sepotong konsernya, kalau bisa jangan sampai terlewat. Di manapun: di Jak Jazz, Java Jazz, konser di Taman Ismail Marzuki, atau di Gedung Kesenian Jakarta.

(Tulisan ini dibuat untuk mengenang Jak Jazz 2007 di Istora Senayan, Jakarta 23-25 November. Juga untuk mengingat kejadian lucu. Anak saya, Deva, 3,5 tahun, diam-diam juga suka musik jazz. Ia sering memutar kaset koleksi Spyro Gyra saya di mobil, dari mulai Morning Dance, The Rites of Summer sampe Dream Beyond Control. Saya cuma senyum-senyum, bener nih, anak ini nerusin hobi bapaknya…)

(foto: http://kidae71.multiply.com/photos/album/27/spyro_gyra#1)

Kuletakkan Kata Cinta Disini


"Lilin tanpa sumbu menyala dalam jiwa, menerangi jalan setapakmu ketika dunia terlelap dalam gelap. Berbahagialah, sesungguhnya engkau mampu berulang tahun setiap hari." (Filosofi Kopi-Dewi Dee: Lilin Merah)

Buat istri saya, saya ini orang yang tidak romantis. “Statis dan lempeng-lempeng aja“, begitu kata istri saya. Jangankan candlelight dinner atau memberi bunga, makan atau jalan berdua saja bisa dihitung jari. Kado ulang tahun juga masuk daftar catatan merah istri saya. "Nggak pernah perhatian, alias cuek bebek," katanya. Yah, saya sih suka mesem-mesem saja kalau istri saya ngomel soal romantis-nggak romantis ini.

Padahal di setiap detik hari-harinya, saya mencoba menjadi orang yang berbeda. Ingin menjadi romantis seperti dalam bayangannya. Di setiap kesempatan saya mencoba mewujudkan cinta. Tapi memang kadang tak terungkap atau terkatakan.

Yang jelas, istri saya orang yang hebat. Di antara detak sunyi dan cekaman hari-harinya yang kadang sepi, dia berjuang dengan setia. Ia juga orang yang istimewa, sebab melahirkan kehidupan dan memberi tapak untuk melangkah pada saya dan anak-anak saya: Arel, Deva dan Rey.

Di ulang tahunnya, 25 Oktober 2007 lalu, jauh-jauh hari saya memimpikan memberi sesuatu pada istri saya. Hanya saja saat itu rezeki saya sedang berserak di cakrawala. Hanya doa yang sanggup menjaring permata yang berserakan itu di langit.

Percaya atau tidak, credit card saya yang sudah tidak laku digesek dimana-mana (hehehe...) Subhanallah, saat itu mulus-mulus saja.

Selamat punya Nokia N76 yang keren itu ya mam. Dan selamat tinggal nokia butut yang bolak-balik hancur dilempar Deva sama Rey.

Dan, Selamat Ulang Tahun dari kami semua.

(indri nuzulianti, 25 Oktober 1972, scorpio, cantik dan manis. pelahap spagheti, pasta, pizza, dan makanan ala Eropa lainnya. sesekali warung pinggir jalan juga oke. paling suka ayam bakar udin bintaro sek 9. penyuka musik romantis, pengumpul pernak-pernik unik. sekarang waktunya habis untuk mengurus tiga jagoan kami, arel, deva dan rey)

12 Februari 2008

Aku Meletakkan Kalian Semua di Hatiku


May the Force be with you.....
(The Tao of Star Wars)

Rindu yang berdenyut di nadi, rindu yang berkelebatan di hati, adalah rindu jemari ini menyapa kehadiran kalian di blog ini. Banyak yang berlalu dan hilang. Kalian lihat thread terakhir blog kita? Itu 10 Oktober 2007. Sekarang, 12 Februari 2008. Banyak yang terlewat: ultah papah dan mamahmu, 20 dan 25 Oktober, papah 'ngamen' di Jak Jazz, tugas ke Beppu Jepang, ceramah di depan mahasiswa S2 di Psikologi UGM, Rey sakit, Jalan-jalan ke Sea World, dan banyak lagi.

Sekelumit cerita di blog ini pasti akan berarti buat kalian. Buat saya pribadi, ini mengobati rindu yang menancapi hati. Mengiris sendi-sendi diri.

Saya jadi teringat pesan Nabi Muhammad SAW, “Al Waktu kas Shhoiif”...”Waktu itu seperti pedang“. Tajam dan mematikan.

Kini, saya tinggal memetik kata-kata yang berserak di cakrawala. Menjaring permata di langit. Dan dengan cinta menulisi jiwa semesta hati kalian. Untuk Arel, Deva dan Rey, semoga tulisan ini selalu bisa mengingatkanmu di setiap detik hidupmu.

May The Force Be with you... (Dari Koleksi DVD Arel: Star Wars Episode I: The Phantom Menace)