
Ingat anak ketiga saya? Ya, Reynard namanya, panggilannya Rey. Tahun ini ulang tahunnya yang kedua. Lagi lucu-lucunya, sudah mulai cerewet bicara dan banyak maunya. Senyumnya seperti menghadirkan ribuan pelangi dalam kehidupan kami.
Hanya saja ternyata Rey menyimpan kesedihan yang dalam. Belum lama kudengar berita pilu yang membuat tangis seakan tak berarti. Entah apa sanggup kususun kata-kata ini. Di sekitar Rey berkelebatan bayang-bayang kelam, sesuatu dari alam seberang! Tidak cuma satu, tapi lima orang! Membayangi dan terus mengikuti setiap hari. Mengganggunya dari hari ke hari. Dua dari rumah kami yang lama, tiga dari sekitar rumah kami yang baru. Bentuknya? Ah, jangan ditanya!!
Belakangan Rey memang sering sakit. Terakhir dokter malah bingung antara gejala dbd atau „kawasaki“ (aneh juga nama penyakitnya). Salah satu gejalanya selain suhu badan panas, pembuluh saraf mata Rey memerah seperti pecah. Kemungkinan karena sejak beberapa hari hampir setiap malam - dari jam 3-5 subuh - Rey menangis terus menerus.
Allah mengajarkan dalam Al Quran untuk bersabar dengan sabar yang indah. Untunglah kami bertemu Aa Ihsan, seorang hafidz Al Quran, dari sebuah pesantren di Madiun. Dari dai muda ini kami mengenal dunia ghaib, melihat bagaimana Rey disembuhkan, ‚memagari’ rumah baru kami dengan doa, dan di atas itu semua mengingatkan kembali untuk lebih khusyu dan tawadhu di jalan Allah.
Kalau mengingat semua itu, saya selalu mawas diri: benarkah itu terjadi di keluarga kami??
Ah...Masih terbayang ketika Rey menatap saya dengan mata basah yang sama. Seperti mata kanak-kanak yang tak pernah menemukan cinta. Terus mengais asa. Masih teringat ketika sambil tersedu-sedu, jemari kecilnya menggenggam tanganku. Kuat sekali.
Mungkin dia ingin mengajakku berdoa. Berwudhu dan bersujud kepadaNya.
Untuk anak-anakku: aku cintaaaa sekali sama mereka...
(Saat ini ditulis, kondisi Rey berangsur baik, matanya sudah menyiratkan keriangan dan suka cita. Sudah lengket lagi dengan bapak dan ibunya. sudah main ajrut-ajrutan dengan kakak-kakanya. Main berantem dan berjoget ria di depan tv. dia sudah merasa tenang di rumah. Selamat datang di rumah kembali adik kecilku)
(Salam hangat untuk Ulin, seorang sahabat di Trans TV. Mata batinnya mampu menerawang Rey dan kondisi rumah kami. Karena ini juga Ulin kedatangan 'kawan-kawan baru', para mahluk halus yang tadinya menempel di tubuh Rey. Mereka bahkan jadi sering bertandang ke rumah Ulin. Ulin, terima kasih atas bantuannya ya.)
1 komentar:
Aduhh Rey... alhamdulillah sekrang sudah terbebas ya.. semoga tak ada lagi mahluk halus yang mengganggu itu. Buat Mama n Papanya semoga selalu kuat menjaga tiga ksatriannya... salam dari tante sdj :-)
Posting Komentar