

"Perjuangan seorang mukmin sejati tidak akan berhenti, kecuali kedua telapak kakinya telah menginjak pintu surga." (Imam Ahmad bin Hanbal)
Pagi itu doa saya bertambah lagi. Doa untuk kebahagiaan istri saya. Doa untuk selalu tabah menjalani hidup ini. Semoga Allah selalu menjaga mamah ya. Amiin.
Ya, pagi itu saya tersenyum-senyum menerima SMS yang menggelitik dari istri saya. Bunyinya: „Pap, aku pengen ngelamar jadi supir busway aja ya, kayaknya asik juga...“. Hahaha. Saya putuskan membalas SMS istri saya. Serius?. „Bener serius, tapi aku minta ijin dulu boleh nggak. Mulai kerjanya dari jam 5 sampai jam 1 siang.”
Ini pertanyaan yang mestinya tidak dijawab dengan hati. Tapi toh hati saya merayap dalam gelisah. Dan di salah satu sudutnya kutemukan duka yang tertimbun ranting-ranting patah. Pada detak sunyi dan cekaman hari-harinya, ada sebuah mimpi untuk mengakhiri semuanya. Istri saya ingin berbuat sesuatu. Meneteskan keringat dan rindunya untuk keluarga!
Dalam buku gambar yang kami punya, memang ada sederet sketsa: tentang kebahagiaan, ketercukupan, tentang kekayaan, kemewahan, dan lain-lain. Saat itu saya memang sedang dicoba sedang tak punya apa-apa. Uang untuk beli bensin ke kantor harus mengalah pada susu dan pampers kalian, anak-anakku. Tapi papah ikhlas.
Kembali soal busway atau Trans Jakarta tadi. Istri saya pasti akan jadi sopir paling cantik di seluruh Jakarta. Cuma setelah nonton pengalaman para sopir cewek di Dorce Show-Trans TV dan dengar cerita saya tentang sopir busway yang ugal-ugalan, hati istri saya jadi ciut. Yah, syukurlah, mam!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar