Allowwww guys...Apa kabar...

Selamat datang di website ini ya! Papah sengaja membuatnya untukku dan adikku Deva juga Rey, supaya website ini jadi "cahaya yang menerangi batin kita". Kata Papah untuk kontemplasi suatu hari nanti. Aku nggak ngerti apa tuh kontemplasi hahaha!! Kalau kata mamah sih, "semoga bisa mengantar anak-anak menuju gerbang kehidupan", wah dalem banget ya. Yah, apapun, aku sih nurut aja lah. Jangan lewatkan tulisan-tulisan papahku ya, dan jangan lupa mengisi message boardnya biar kita selalu tersambung. Okay okay..!! (Arel)

27 Agustus 2008

Di Ramadhan Kita kembali Bersua...


Menjelang Ramadhan, malaikat Jibril berdoa, "Ya Allah, abaikanlah puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki Ramadhan tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orangtuanya, kepada suami atau istrinya, dan kepada orang-orang di sekitarnya."

Doa ini diaminkan Rasulullah SAW. sebanyak tiga kali.

Karena itu, maafkan saya, baik disengaja maupun tidak disengaja, semoga kita dapat menjalankan ibadah puasa dengan khusyu. Amin!

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa
Mohon maaf Lahir dan Batin
Dari Kami: Memet, Indrie, Arel, Deva dan Rey

Deva Di Jalan Kupu-Kupu



„Kalau gurunya nggak kasih permen, ntar gua gebok!,“ begitu kata Deva. „Ha..ha..ha..“ saya tertawa. Anak ini luar biasa cerdas dan banyak omong. Diksi atau gaya bahasanya malah melebihi ayahnya. Kalau sedang bicara jarang menyebut aku, tapi gua. Wah…Jakarta banget lah pokoknya…

Tanggal 14 Juli 2008 lalu, itulah hari pertama Deva masuk TK. Usianya relatif masih belia, 3 tahun 8 bulan. Tanggal 22 September nanti dia barulah 4 tahun. Beda dengan kakaknya Arel yang di TK Pembangunan Jaya, Deva sekolah di TK Kasih Ananda. Kalau dulu kakaknya melewati masa orientasi di Kids Sport, Deva langsung saja masuk TK A.

Soal adaptasi, kebiasaan yang tiba-tiba berubah dari pola bermain sekarang mesti belajar, duduk berlama-lama mendengarkan gurunya, dan banyak hal lainnya, itulah ternyata potensi yang belum ditemukan Deva. Belum lagi jarak dari rumah yang lumayan jauh, sehingga tiap sampai di sekolah Deva lebih sering tertidur...hehehe...

Saya da isteri saya hanya ingin melihat apa yang menggembirakan hatinya. Supaya potensinya tidak hilang begitu saja, dan supaya dia bisa mengaktualisasikan dirinya. Supaya masa bermainnya di TK juga menjadi ruang yang menciptakan gerak kebaikan dan kegembiraan yang tanpa batas. Bukankah ita semua masih ingat masa-masa bahagia kita di sekolah taman kanak-kanak...

TK Kasih Ananda paling tidak sudah memberi saya dan isteri saya cara pandang dan pola pendidikan sesuai kriteria mereka. Kami cuma menyarankan agar selalu memotivasi dan memperbaiki diri. Sementara Deva…Insya Allah dia akan mengikuti jejak kakaknya di TK Pembangunan Jaya. Semoga menemukan taman yang penuh dengan kupu-kupu kebahagiaan ya anakku…

Sabar Itu Menggelinding, Melindas Semua Dinding...



Setiap detik dalam hidup saya selalu diuji kesabaran. Di rumah, ketika berkumpul dengan anak-anak dan isteri saya, itulah ujian kesabaran yag sesungguhnya. Ah, namun saya jarang lulus dari ujian keseharian ini. Saya sering tiba-tiba saja marah dan sesekali meledak. Maafkan papahmu ini ya…

Kata orang batas sabar adalah usia. Makin bertambah usia, makin bisa kita bersabar. Kata orang dalam sabar ada usaha. Allah mengajarkan sabar dengan sabar yang indah. „Sabar itu tumbuh dalam diri yang selalu bersyukur“...

Di rumah, entah sudah berapa puluh gelas, piring, pernak-pernik, vas dan barang lainnya yang jadi sasaran si kecil Rey. Kalau isengnya datang, Rey enteng saja melempar telur dari dalam lemari es. Waktu sedang membersihkan microwave baru kami, eh Rey sudah jongkok di atasnya dan pipis dengan santainya (hahaha...apuuunnn, sampai korslet sampai sekarang)....belum lagi kalau Rey dan Deva rebutan sesuatu, pasti berantem...Subhanallah

Sabar itu tak pernah habis dari diri seorang hamba yang selalu bersyukur. Sabar itu buah dari takwa. Sekarang ini Rey masih saja suka melempar. Saya akhirnya ikhlas saja menerima cobaan ini, sambil berusaha terus memberi pengertian pada dia...

Tak perlu „Nanny 911“, acara di Metro TV yang menampilkan keluarga yang give-up atau menyerah dengan tingkah laku kebangetan anak-anaknya. Buat saya, anggap saja ini ujian kecil yang insya Allah bisa saya atasi. Amiiin.

Untuk Selalu Belajar Dengan Hati Anakku…


Kalau banyak anak lain ribet untuk urusan matematika, anak saya, Arel, suka tenang-tenang saja. Seakan-akan angka, penjumlahan, pengurangan, perkalian, itu sudah menggantung di ujung lidahnya. Semoga Arel memang punya bakat untuk matematika.

Saya dan isteri saya memang suka geleng-geleng kepala kalau melihat hasil ulangan matematikanya. Arel tak jarang dapat nilai 10. Cuma sering juga sih tiba-tiba nilainya jelek. Biasanya karena kurang teliti. Meskipun pada dasarnya, ruang kreativitas untuk menyelesaikan hitung-hitungannya, baik.

Setiap soal punya potensi masalahnya sendiri, dan Arel cukup tanggap untuk ini. Di pelajaran lain? Arel biasa-biasa saja. Oh ya, Bahasa Inggris mungkin yang lumayan baik. Heran juga, belajar darimana, kak..??

Di kelas 3 ini Arel mulai giat ikut kursus Metode Sakamoto, hari pertama dia giat sekali. Soal penjumlahan tiga susun dengan masing-masing deret 3 angka sudah dikuasainya. Di kelas 3 ini praktis tiada hari tanpa pekerjaan rumah. Isteri saya sampai pontang-panting ikut mengerjakan PR-nya Arel. Maklum anaknya sendiri suka cuek…

Yah, mungkin di sekolah, Arel dan juga teman-temannya yang lain memang sudah terlalu lelah, dihantam kurikulum saat ini yang luar biasa berat...

Yang Tak Pernah Usai Mengaminkan Cinta Pada Kekasih (2)


Novel kedua adalah Ayat-Ayat Cinta, karya Habiburrahman El Shirazi. Sudah lama saya melihat buku ini, tapi belum juga terbetik niat untuk membaca. Filmnya bahkan booming dimana-mana (Sayang kesempatan nonton di bioskop bersama isteri saya tak pernah kesampaian...)

Kembali ke bukunya. Isteri saya sejak lama memaksa saya membaca buku ini. "Supaya lebih menghormati wanita, dan tahu memperlakukan wanita. Biar bisa romantis," begitu katanya. Tapi saya masih cuek saja. Sampai akhirnya…

Yah…membaca buku ini saya merasa menjadi seorang fakir…saya bukan siapa-siapa dibandingkan Fachri, tokoh utama novel ini yang begitu sempurna, dan begitu romantis (setidaknya itu kata isteri saya hehehe).

Membaca buku ini saya juga jadi lebih ngerti bahwa cinta adalah kata yang pelaksanaannya lebih menantang daripada sekedar pengucapannya. Cuma setelah baca buku ini saya nggak berubah tuh..."Nggak ada romantis-romantisnya," kata isteri saya...Yah, nasib!

Kenangan Yang Melintas di Mata Berjuta Kita (1)



Oase pengetahuan ternyata bisa muncul dimana-mana. Saya takjub pada dua novel istimewa. Yang pertama novel Gajah Mada, tulisan Langit Kresna Hariadi. Dulu, sekitar akhir tahun 70-an, ketika saya SD-SMP, pernah ada cerita yang begitu menggugah tentang kehebatan pendekar-pendekar tlatah Jawa, yaitu “Serial Nogo Sosro dan Sabuk Inten”. Tokoh utamanya yang kondang dan mumpuni adalah Mahesa Djenar.

Setiap hari saya menunggu serial ini muncul di Radio. Saking hidupnya sandiwara radio ini, saya bahkan masih ingat adegan ketika salah satu tokoh yang bertopeng, yaitu Pasingsingan, sedang mengendap-endap, bersembunyi di balik rimbun pepohonan. Bunyi cengkerik mewarnai keheningan malam itu. Sementara di hadapan api unggun kecil, sekelompok pendekar duduk melingkar, tengah membicarakan sesuatu.

Dulu drama radio ini begitu hidup. Begitu nyata, dan sungguh mengasyikan. Kini keasyikan yang sama saya temui di novel Gajah Mada. Pak Langit, penulis novel ini, pintar mendongeng dan tentu saja meramunya dengan sejarah yang akurat. Saya mengerti sekarang bahwa sosok Gajah Mada adalah prajurit yang tangkas, trengginas, cerdas, dan luar biasa. Suatu hari nanti kalian harus membaca buku-buku ini ya…

Catatan: Novel Gajah Mada berkembang menjadi Pentalogi, 5 Judul: Gajah Mada, Bergelut Dalam Tahta dan Angkara, Hamukti Palapa, Perang Bubat dan madakaripura Hamukti Moksa. Novel lanjutannya adalah Candi Murca: Ken Arok Hantu Padang Karautan juga luar biasa bagusnya...