
Novel kedua adalah Ayat-Ayat Cinta, karya Habiburrahman El Shirazi. Sudah lama saya melihat buku ini, tapi belum juga terbetik niat untuk membaca. Filmnya bahkan booming dimana-mana (Sayang kesempatan nonton di bioskop bersama isteri saya tak pernah kesampaian...)
Kembali ke bukunya. Isteri saya sejak lama memaksa saya membaca buku ini. "Supaya lebih menghormati wanita, dan tahu memperlakukan wanita. Biar bisa romantis," begitu katanya. Tapi saya masih cuek saja. Sampai akhirnya…
Yah…membaca buku ini saya merasa menjadi seorang fakir…saya bukan siapa-siapa dibandingkan Fachri, tokoh utama novel ini yang begitu sempurna, dan begitu romantis (setidaknya itu kata isteri saya hehehe).
Membaca buku ini saya juga jadi lebih ngerti bahwa cinta adalah kata yang pelaksanaannya lebih menantang daripada sekedar pengucapannya. Cuma setelah baca buku ini saya nggak berubah tuh..."Nggak ada romantis-romantisnya," kata isteri saya...Yah, nasib!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar