Allowwww guys...Apa kabar...

Selamat datang di website ini ya! Papah sengaja membuatnya untukku dan adikku Deva juga Rey, supaya website ini jadi "cahaya yang menerangi batin kita". Kata Papah untuk kontemplasi suatu hari nanti. Aku nggak ngerti apa tuh kontemplasi hahaha!! Kalau kata mamah sih, "semoga bisa mengantar anak-anak menuju gerbang kehidupan", wah dalem banget ya. Yah, apapun, aku sih nurut aja lah. Jangan lewatkan tulisan-tulisan papahku ya, dan jangan lupa mengisi message boardnya biar kita selalu tersambung. Okay okay..!! (Arel)

14 Oktober 2008

Di Lorong Ridho Ar Rahman...


Andai kami tahu ini Ramadhan terakhir
Tentu kami akan melaksanakan sholat di awal waktu
sholat yang dikerjakan, sungguh khusyuk lagi tawadhu'
tubuh dan qalbu, bersatu memperhamba diri
menghadap Rabbul Jalil menangisi kecurangan janji
"innasolati wanusuki wamahyaya wamamati lillahirabbil 'alamin"
[sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku, dan matiku...
kuserahkan hanya kepada Allah Tuhan seru sekalian alam]

Andai kami tahu ini Ramadhan terakhir
tidak akan kami sia siakan walau sesaat yang berlalu
setiap masa tak akan dibiarkan begitu saja
di setiap kesempatan juga masa yang terluang
alunan Al-Quran bakal kami dendang...bakal kami syairkan

Andai kami tahu ini Ramadhan terakhir..
tentu malam kami sibukkan dengan bertarawih
berqiamullail. ..bertahajjud..
mengadu...merintih. ..meminta belas kasih
"sesungguhnya aku tidak layak untuk ke syurga-MU
tapi...aku juga tidak sanggup untuk ke neraka-MU"

Andai kami tahu ini Ramadhan terakhir
tentu kita tak akan melupakan mereka yang tersayang
mari kita meriahkan Ramadhan
kami buru...kami cari...suatu malam idaman
yang lebih baik dari seribu bulan

Andai kami tahu ini Ramadhan terakhir
tentu kami bakal menyediakan batin dan zahir
mempersiap diri...rohani dan jasmani
menanti-nanti jemputan Izrail
di kiri dan kanan ...lorong-lorong ridha Ar-Rahman

Duhai Ilahi

Andai ini Ramadhan terakhir buat kami
jadikanlah Ramadhan ini paling berarti...paling berseri...
menerangi kegelapan hati kami
menyeru ke jalan menuju ridho serta kasih sayangMu Ya Ilahi
semoga bakal mewarnai kehidupan kami di sana nanti

Namun teman
tak akan ada manusia yang bakal mengetahui
apakah Ramadhan ini merupakan yang terakhir kali bagi diri kita
yang mampu bagi seorang hamba
hanyalah berusaha...bersedia ...meminta belas-NYA

Catatan: Buat Arel yang tahun 2008 ini belajar puasa. Mudah-mudahan tahun depan bisa puasa penuh ya kak. Biar nemenin papah dan mamah waktu sahur.

13 Oktober 2008

Tegakah Kau Mencabik Sisa Mimpinya




Tak pernah ada mimpi yang hidup lama di jalan raya. Dengan lunglai tiga orang anak jalanan menghampiri orang-orang yang sibuk menatap menu berlimpah hidangan buka puasa mereka. Barangkali berharap masih ada sisa mimpi di sana. Sesore ini mungkin mereka belum dapat sepeserpun.

Saya memperhatikan mereka dari jauh. Adik kecil seusia anak saya Rey, mengusap-usap pipinya yang kotor. Merasa diperhatikan denga berani ia mendekati saya, sambil menadahkan tangan. Yang dua berjalan menjauh...

Subhanallah, saya tak tega mencabik sisa mimpinya. Saya ingin menangis melihat sosoknya, tapi tak ada tempat untuk menampung air mata. Dengan ihlas, saya membuka dompet dan memberinya 5000 ribu rupiah. Dan, adik kecil itu, matanya berkilat sesaat, sambil membalikkan badan dua tangannya diacungkan juara…”Yeeee…” teriaknya. Dua kakaknya tersenyum pada saya dan berterima kasih dari jauh.

Saya mengangguk dan tersenyum pada mereka..
Tiba-tiba saya ingin menangis...

Ucapan Paling Bunga


Ucapan paling bunga saya persembahkan untuk istri saya, Indri. Pada suatu hari, ia menjelma menjadi seorang yang lain dari biasanya. Biasanya dia hanya menatap, menyapa tanpa kata. Entah kenapa, di hari tuangan keponakan saya Larissa Angestia Sari, akrab disapa Anggi, istri saya mau menjadi MC. Ini luar biasa kan...

Dan…bismillah, malam itu saya dan istri saya untuk pertamakalinya memandu acara. Di antara tatapan semua mata, Alhamdulillah, kami lancar menyapa semua keluarga yang hadir sambil memandu acara. Mungkin masih terdengar to the point dan tanpa rangkaian kata berbunga-bunga, tapi paling tidak selesai acara ada sesuatu yang menjalar di hati kami, perasaan amat lega…

Senyum keluarga, para undangan dan saudara-saudara yang hadir, adalah matahari yang menghangatkan hati kami. Tak sia-sia perjalanan Jakarta-Pekalongan, dengan meninggalkan kalian anak-anakku...

Mamah, kucintai kau apa adanya, seperti aku mencintai surga.

Catatan: Tulisan ini dibuat untuk mengenang tunangan Anggi-Yayat, 23 Agustus 2008 di Pekalongan. Kami pulang sesaat setelah acara selesai sekitar 23.30 WIB, dengan membawa banyak sekali kue dan makanan.