


Tak pernah ada mimpi yang hidup lama di jalan raya. Dengan lunglai tiga orang anak jalanan menghampiri orang-orang yang sibuk menatap menu berlimpah hidangan buka puasa mereka. Barangkali berharap masih ada sisa mimpi di sana. Sesore ini mungkin mereka belum dapat sepeserpun.
Saya memperhatikan mereka dari jauh. Adik kecil seusia anak saya Rey, mengusap-usap pipinya yang kotor. Merasa diperhatikan denga berani ia mendekati saya, sambil menadahkan tangan. Yang dua berjalan menjauh...
Subhanallah, saya tak tega mencabik sisa mimpinya. Saya ingin menangis melihat sosoknya, tapi tak ada tempat untuk menampung air mata. Dengan ihlas, saya membuka dompet dan memberinya 5000 ribu rupiah. Dan, adik kecil itu, matanya berkilat sesaat, sambil membalikkan badan dua tangannya diacungkan juara…”Yeeee…” teriaknya. Dua kakaknya tersenyum pada saya dan berterima kasih dari jauh.
Saya mengangguk dan tersenyum pada mereka..
Tiba-tiba saya ingin menangis...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar