
Ucapan paling bunga saya persembahkan untuk istri saya, Indri. Pada suatu hari, ia menjelma menjadi seorang yang lain dari biasanya. Biasanya dia hanya menatap, menyapa tanpa kata. Entah kenapa, di hari tuangan keponakan saya Larissa Angestia Sari, akrab disapa Anggi, istri saya mau menjadi MC. Ini luar biasa kan...
Dan…bismillah, malam itu saya dan istri saya untuk pertamakalinya memandu acara. Di antara tatapan semua mata, Alhamdulillah, kami lancar menyapa semua keluarga yang hadir sambil memandu acara. Mungkin masih terdengar to the point dan tanpa rangkaian kata berbunga-bunga, tapi paling tidak selesai acara ada sesuatu yang menjalar di hati kami, perasaan amat lega…
Senyum keluarga, para undangan dan saudara-saudara yang hadir, adalah matahari yang menghangatkan hati kami. Tak sia-sia perjalanan Jakarta-Pekalongan, dengan meninggalkan kalian anak-anakku...
Mamah, kucintai kau apa adanya, seperti aku mencintai surga.
Catatan: Tulisan ini dibuat untuk mengenang tunangan Anggi-Yayat, 23 Agustus 2008 di Pekalongan. Kami pulang sesaat setelah acara selesai sekitar 23.30 WIB, dengan membawa banyak sekali kue dan makanan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar