Allowwww guys...Apa kabar...

Selamat datang di website ini ya! Papah sengaja membuatnya untukku dan adikku Deva juga Rey, supaya website ini jadi "cahaya yang menerangi batin kita". Kata Papah untuk kontemplasi suatu hari nanti. Aku nggak ngerti apa tuh kontemplasi hahaha!! Kalau kata mamah sih, "semoga bisa mengantar anak-anak menuju gerbang kehidupan", wah dalem banget ya. Yah, apapun, aku sih nurut aja lah. Jangan lewatkan tulisan-tulisan papahku ya, dan jangan lupa mengisi message boardnya biar kita selalu tersambung. Okay okay..!! (Arel)

13 November 2008

Bagaimana Kau Mencatat Sebuah Perbedaan?


Apa yang bisa kau catat dari sebuah perbedaan? Sebuah senyuman, kenangan, atau dunia yang indah? Atau justru tengkar, tebar amarah, dan membuat rumah bagai zona perang?

Saya dan Indri, isteri saya, ternyata memang dua kutub yang berbeda. Kalau dalam istilah sebuah lagu ya singkong dan keju. Saya singkongnya, istri saya keju.

Dalam soal makan misalnya. Dia suka spaghetti, pasta dan serba Eropa lainnya, sementara saya memang besar di tengah nasi megono yang hangat mengepul dan sambel raden yang dicocol tempe. Dalam soal minum saya paling hobi es teh manis, sementara istri saya bisa ngomel panjang kalau bicara soal teh.

Musik, film, buku, sama saja. Saya penggemar Rippingtons, Yellow Jacket, dll, sementara isteri saya klasik dan pop romantik. Saya terkagum-kagum dengan Bourne Identity, tapi buat istri saya film paling seru ya film-film romantik ala Notting Hill. Yang lain, masih banyak. Perbedaan-perbedaan ini membuat kami jarang bertemu di satu titik.

Lalu, apa apa yang bisa kau dapat dari sebuah perbedaan?
Mungkin sebuah kesempatan. Untuk mengenal isteri saya lebih dalam. Pada kebesaran jiwanya. Dan pada cintanya...

I Left My Heart in Pekalongan...


Saya sempat bernostalgia di Pekalongan. Bukan soal apa-apa sih cuma soal megono. Anda tahu megono? Ya, cacahan nangka muda dengan parutan kelapa dan bunga kecombrang yang khas. Biasanya megono dijadikan taburan atau kondimen (pelengkap). Menu utamanya nasi dengan sayur dan lauk pauk. Nah ada lagi hidangan yang bikin rindu: dendeng kecap yang dimasak pedas, cumi atau sotong yang dimasak dengan tintanya dan garang asem..aduh duh...

Jadi bisa dibayangkan: sepiring nasi ditaburi megono, kemudian megono itu tenggelam karena disiram kuah garang asem, terus disampingnya bertengger cumi dengan tinta hitamnya... uwooo uwooo ...Mak Nyussss!! Dijamin gemrobyosss.

Makanan khas kota pesisir seperti Pekalongan memang terbilang sederhana. Mungkin tidak vibrancy seperti kota Solo atau malah Bandung. Itu sebabnya penampakan megono di mata Indri, isteri saya, sangat bersahaja dan tidak menarik sama sekali. Hampir satu dasawarsa perkawinan kami, tak pernah sekalipun isteri saya makan megono. Nomenklatur kuliner Pekalongan yang dia suka cuman satu: Tauto Romani. Nah yang ini katanya ahlan wa sahlan...

Saya memang Cuma sebentar waktu itu, tapi lumayanlah cukup mengobati kangen saya pulang ke rumah. Meski sudah sampai Jakarta, tapi rasanya masih ada yang tertinggal di sana. Duh, Tony Bennett, terpaksa kupinjam lagumu: “I left my heart, in Pekalongan…”