
Saya sempat bernostalgia di Pekalongan. Bukan soal apa-apa sih cuma soal megono. Anda tahu megono? Ya, cacahan nangka muda dengan parutan kelapa dan bunga kecombrang yang khas. Biasanya megono dijadikan taburan atau kondimen (pelengkap). Menu utamanya nasi dengan sayur dan lauk pauk. Nah ada lagi hidangan yang bikin rindu: dendeng kecap yang dimasak pedas, cumi atau sotong yang dimasak dengan tintanya dan garang asem..aduh duh...
Jadi bisa dibayangkan: sepiring nasi ditaburi megono, kemudian megono itu tenggelam karena disiram kuah garang asem, terus disampingnya bertengger cumi dengan tinta hitamnya... uwooo uwooo ...Mak Nyussss!! Dijamin gemrobyosss.
Makanan khas kota pesisir seperti Pekalongan memang terbilang sederhana. Mungkin tidak vibrancy seperti kota Solo atau malah Bandung. Itu sebabnya penampakan megono di mata Indri, isteri saya, sangat bersahaja dan tidak menarik sama sekali. Hampir satu dasawarsa perkawinan kami, tak pernah sekalipun isteri saya makan megono. Nomenklatur kuliner Pekalongan yang dia suka cuman satu: Tauto Romani. Nah yang ini katanya ahlan wa sahlan...
Saya memang Cuma sebentar waktu itu, tapi lumayanlah cukup mengobati kangen saya pulang ke rumah. Meski sudah sampai Jakarta, tapi rasanya masih ada yang tertinggal di sana. Duh, Tony Bennett, terpaksa kupinjam lagumu: “I left my heart, in Pekalongan…”
1 komentar:
I left my heart in Pekalongan too.
Posting Komentar