Allowwww guys...Apa kabar...

Selamat datang di website ini ya! Papah sengaja membuatnya untukku dan adikku Deva juga Rey, supaya website ini jadi "cahaya yang menerangi batin kita". Kata Papah untuk kontemplasi suatu hari nanti. Aku nggak ngerti apa tuh kontemplasi hahaha!! Kalau kata mamah sih, "semoga bisa mengantar anak-anak menuju gerbang kehidupan", wah dalem banget ya. Yah, apapun, aku sih nurut aja lah. Jangan lewatkan tulisan-tulisan papahku ya, dan jangan lupa mengisi message boardnya biar kita selalu tersambung. Okay okay..!! (Arel)

03 Desember 2009

Ojo Lumpuh, Ngisin-ngisini


Lepas jam 9 pagi, saya langsung menuju kamar mandi, siap-siap ke kantor. Namun sebuah kejadian membalikkan semua rencana hari itu. Tak ada tanda-tanda apapun, tiba-tiba punggung saya terasa nyeri dan sakit luar biasa. Nyeri yang sungguh membetot otak, Saya ambruk. Untuk bergerak sedikit saja terasa nyeri luar biasa, apalagi berdiri, pasti sebuah masalah besar. Di kamar mandi itu saya berteriak kesakitan, sementara Indri istri saya asyik fesbukan. Oh oh oh…

Saya panik. Di kamar mandi itu saya terkapar dalam posisi menempel di lantai. Bergser sedikit saja, yang muncul nyeri tak tertahankan. Indri yang kemudian sadar saya tersandung masalah juga bingung melihat kondisi saya. Di tengah kebingungan, pelan-pelan saya merayap, mirip ular jalan. Jarak kamar mandi ke kasur yang cuma sejengkal ternyata butuh 15 menit.

Fungsi punggung yang menopang tubuh manusia sungguh dahsyat. Sedikit saja tulang jahil menghimpit syaraf, bisa fatal akibatnya. Kejadian itu membuat saya takut segalanya, takut tak bisa berdiri lagi, takut lumpuh, dll. Saya teringat penyakit punggung Lumbal Sacral, itu istilah ketika syaraf terjepit oleh ruas-ruas tulang punggung di posisi L4 dan L5, yang dahsyat dan seketika membuat ambruk seseorang. Penyakit ini bisa ngendon berbulan-bulan.

Saya sungguh beruntung, dalam hitungan hari penyakit saya bisa disembuhkan. Memang harus berurusan dengan fisioterapi dan tukang pijit. Ketika kaki saya ditarik dan bunyi tulang kemerotok, memang menggentarkan. Tapi demi kesembuhan, apa boleh buat. “Ojo lumpuh, ngisin-ngisini…" Tak genap seminggu, saya sudah bisa berjalan. Alhamdulillah…

*) Ojo lumpuh, ngisin-ngisini (bhs Jawa) artinya "Jangan Lumpuh, Malu-maluin...

Habis Habis-habisan Terbitlah Alhamdulillah…



Terus terang sejak KPK Files, program yang menjungkalkan para koruptor di negeri ini, program Mukjizat Shodaqoh sungguh amat berkesan buat saya. Untuk pertamakalinya Divisi Pemberitaan, news division Trans TV, diberi kepercayaan menghandle program di waktu yang sangat strategis, super primetime, di bulan Ramadhan, yaitu waktu saat jelang berbuka.

Karena sangat strategis, pertarungan di jam ini sungguh ketat dan super berat. RCTI, SCTV dan Indosiar muncul dengan program unggulan. Saya disupport penuh oleh Rizal Firmansyah-kadep Magazine, Dede Apriadi-kadep operasional, pelontar ide acara ini, dan Gatot Triyanto, kepala Divisi news Trans TV. Di atas itu semua, kerja tim saya dipantau Wishnutama, Direktur News sekaligus Direktur Utama Trans TV. Hmm, sebuah pekerjaan yang tidak gampang, penuh beban mental. Karena dengan begitu tidak ada kata tidak untuk tidak menang dan menjadi leader di slotnya.

Program Mukjizat Shodaqoh sendiri berkisah tentang keajaiban yang dialami mereka-mereka yang setelah bersedekah, mengeluarkan harta di jalan Allah, langsung mendapat ganjaran dari Allah. MS berkisah tentang mereka-mereka yang terbelit masalah, hutang, kehidupan morat-marit, rumah tangga hancur, perceraian, dan banyak lagi masalah yang membelit manusia, namun merebut kembali kehidupan mereka setelah bersedekah. Acara ini menampilkan ustad yang dijuluki penemu ilmu matematika sedekah, ustad Yusuf Mansur, dan menggunakan format reka ulang adegan untuk berkisah.

Begitulah, internal Trans TV, program ini sedikit banyak dipuji. Namun tantangan justru datang dari owner Trans TV, Chairul Tanjung, yang merasa dari sisi produksi program ini sangat tidak Trans TV (???).

The show must go on. Di tengah kendala syuting, pengadeganan, penulisan naskah yang mirip scenario film, kami, para jurnalis tulen bertransformasi menjadi film maker, membuat program semi sinetron. Sebuah pencapaian yang luar biasa menurut saya, tapi mungkin bisa jadi tidak istimewa menurut wacana manajemen.

Tak apa, toh, Mukjizat Shodaqoh untuk pemirsa, untuk umat, bukan untuk pribadi orang perorang. Saya dan teman-teman membuat program demi kemaslahatan umat. Mencari ridho dari Sang Maha Pemberi. Ini yang lebih penting dari pada sekedar menghamba pada rating..

Sebaris Doa untuk Firin dan Keluarga yang Ditinggalkan...


Kabar duka itu datang pagi-pagi. Sahabat saya Mustagfirin, dipanggil untuk menghadap Ilahi. Terasa begitu mendadak, mengingat usianya yang lebih muda dari saya atau dari teman-teman karibnya. Namun sesungguhnya tidak bagi Yang Maha Kuasa, Sang Maha Penentu Batas Usia Manusia. Tugas Firin, panggilan akrabnya memang sudah sempurna di dunia. Itu sebabnya dia dipanggil menghadap Sang Pencipta.

Di antara hari-hari saya ketika kuliah di Fakultas Psikologi Gadjah Mada, Yogyakarta, ada banyak hari yang diisi kehadiran Firin di sana. Meski beda angkatan namun Firin dengan cepat menjadi sahabat saya. Saya menjadi teman setianya ketika nonton film silat kesukaannya di bioskop, saya juga yang menemaninya nonton film Star Trek sampai X files di rumah kontrakannya di Jl. Kaliurang. Saya juga yang sering menemaninya makan tempe di warteg depan kampung. Ah, sungguh sebuah jejak persahabatan yang amat langka. Saking dekatnya kami, sambil becanda di sebuah forum fakultas dia menyebut saya teman kumpul kebonya.

Buat saya Firin memang sebuah kamus pengetahuan yang berjalan, sebuah pribadi rendah hati dan sebuah sosok yang menyimpan bakat dan kecerdasan yang luar biasa. Ramah, baik hati, sabar dan disukai semua orang...

Selamat jalan sahabat, kenangan2 unik dengan mu sangat membekas. Semakin jelas engkau sangat sangat baik, ternyata air mata untuk mu masih ada bahkan hingga hari ini di facebook mu. Sungguh sebuah doa yang tak putus-putusnya untukmu…damai di sisi Nya ya

Catatan ini ditulis saat secara tak sengaja saya membuka kembali facebook Firin, ternyata hingga detik ini facebook itu masih aktif dan diisi dengan doa dan sapaan layaknya ketika Firin masih hidup. Putri dan isteri Firin yang tetap memanage silaturahmi dengan sobat-sobat firin itu di dunia maya. Subhanallah…

Teringat Eyang di Pekalongan…


Ada yang menggetarkanku saat Deva sakit. Tiba-tiba Deva ingin bertemu eyang kami di Pekalongan, yang lebih mengejutkan lagi Deva ingin teh Bandulan. Ajaib, hehehe... Saya cuma tersenyum dan terharu. Ternyata benak kecilnya menyimpan memori tak terkatakan tentang eyang kami dan satu hal lagi tentang teh Bandulan kesukaannya. Tiba-tiba saja memori itu terbetik dan muncul di saat Deva sakit…

Saya langsung kontak Ibu dan membiarkan Deva bicara. Bisa jadi Deva kangen dan ingin kehadiran eyang. Hanya saja jarak yang jauh, Pekalongan-Jakarta, membuat eyang tak selalu ada di dekat kami..Ah, Semoga selalu diberi kesehatan terus ya eyang, supaya bisa main ke Jakarta lagi..

Dan teh Bandulan kesukaan Deva akhirnya memang dikirim dari Pekalongan. Biar murah meriah, ternyata teh ini favorit kita semua…

Bumblebee...Si Rendah Hati..



Nonton film Transformer 2: Revenge of The Fallen, memang butuh perjuangan. Saya dan anak-anak bela-belain ngantri di 21 Pondok Indah Mall sejak pukul 10 pagi. Ya, sejak bioskop belum buka. Kebayang, ternyata sepagi itu bioskop sudah semrawut oleh antrian mereka-mereka yang juga ingin nonton film sekuel Transformer itu. Sementara loket ternyata baru buka jam 12, kebayang kan pegelnya kaki, belum lagi leher yang kejang-kejang hehehe capee deeehh..

Film Transformer sejak jauh hari memang jadi bahan diskusi seru saya dan Arel. Saking seru dan hebohnya film ini, saya dan arel sampai nonton 2 kali. Seingat saya, inilah film yang seluruh penontonnya bertepuk tangan. Seperti ada kerinduan akan sosok jagoan yang hebat dan mencengangkan, seperti Optimus Prime dan Bumblebee yang kocak itu. Itu sebabnya jauh hari, Deva dan Rey, juga kepengen ikutan nonton.Ibunya? kali ini memang mesti rela nonton film anak-anak…

Akhirnya perjuangan nonton Transformer 2 memang tidak sia-sia. Inilah untuk pertamakalinya juga Deva dan Rey nonton bioskop. Konsep teater, ruangan gelap, audio super keras, sungguh baru untuk mereka. Cuma, yah namanya juga anak-anak, separuh film jalan, Deva dan Rey mulai rewel, saya yang mesti rela keluar bioskop dan mengambil botol susu. Dalam sekejap pulaslah mereka…

Satu komentar setelah nonton film ini: KEREN euy! Buat saya sejak film Transformer pertama, film ini keren banget. Semua yang berhubungan dengan visual, grafis, dan effect yang menyertainya sempurna. Transformasi dari mobil ke robot, dari robot ke pesawat tempur, pertarungan Autobots-Deceptions (termasuk Devastator), dan pasukan militer yang banyak banget bikin saya dan Arel betah nonton film ini.

02 September 2009

Pinata, Rumah Imajinasinya


Anda tahu Pinata? Ya, saya juga tadinya nggak ngerti tuh apa Pinata. Cuma sadar atau tidak, kemungkinan besar kita semua pernah melihat si Pinata ini. Di acara-acara ulang tahun si kecil, biasanya Pinata ini nongol di acara paling akhir.

Bentuknya macam-macam, bisa Ben 10, Barbie, Power Rangers, The Cars, Binatang, dll. Boneka Pinata ini dalamnya diisi permen, cokelat, snack, atau pernak-pernik lain. Cara mainnya, si Pinata digantung lalu dipukul bagian bawahnya. Permen-permen yang jatuh berhamburan itu langsung jadi rebutan. Seru lah pokoknya, meriah!!

Pinata, ternyata akrab dengan Indri, isteri saya. Pinata buatannya sudah sering menghiasi acara ulang tahun anak teman-temannya. Senang rasanya melihat Indri semangat membuat Pinata. Repot dan ribet sih memang. Karena mesti belanja permen, makanan kecil, snack, dll. Tapi tak apa. Asal itu semua dilakukannya dengan hati.

Kalimat Indahku, Matematika


Dalam hati aku sering sedih melihat Arel. Aku tahu sebenarnya ia anak yang trampil, baik, pintar, suka membaca dan tidak malas. Tapi sejak duduk di kelas 4 SD Pembangunan Jaya, Arel seperti memikul beban. Aku sering menghela nafas panjang melihat malasnya Arel ketika bangun tidur dan bersiap ke sekolah. Aku juga suka geleng-geleng kepala melihat Indri, istri saya, di pagi hari itu sudah bertengkar dengan Arel. Begitu terus setiap hari.

Aku takjub campur heran melihat materi pelajaran kelas 4 SD. Terutama Matematika. Ini biangnya yang membuat Arel, anak pertama saya, stress berat. Kalimat-kalimat yang menggantung di ujung lidahnya ya kalimat-kalimat matematika seperti ini: Rumus luas dan keliling bangun dua dimensi, KPK – kelipatan persekutuan terkecil, FPB – faktor persekutuan terbesar, pembagian, perkalian ratusan hingga ribuan, akar, dll. Yang membuat saya takjub, banyak soal yang memang harus dipecahkan oleh orang yang benar-benar cerdas. Karena butuh ketrampilan perhitungan.

Jalan Arel masih sangat panjang. Ibunya sudah pasrah jika ada PR atau besoknya ulangan matematika. Sementara saya, papahnya, sering pulang kerja terlalu larut, sehingga Arel sudah terlelap.

Aku tahu Arel pandai matematika, hanya kurang teliti. Mudah-mudahan les tiap Sabtu pagi sebuah ihtiar untuk bisa menyingkap potensi kecerdasan Arel yang selama ini terpendam. Insya Allah, minta doanya ya...

Sekolah Baruku Asyikk...


Baru seminggu sekolah saja Deva sudah hebat. Ya, aku kagum pada perkembangan Deva. Di TK sebelumnya, TK Kasih Ananda, Deva tidak pernah ditinggal sendirian. Selalu saja ditungguin Indri, istri saya. Kalaupun berani itu cuma hitungan berapa hari dalam setahun. Sekarang setelah pindah ke TK Pembangunan Jaya, cuma butuh waktu seminggu buat Deva untuk dilepas. Jalan dengan gagahnya menuju kelas.

Banyak hal yang mengesankan pada Deva sekarang. Selain percaya dirinya yang kuat, Deva juga makin riang. Tak jarang ia bersenandung sepulang sekolah. Dan diantara cucuran keringatnya, mulut kecilnya bercerita banyak hal. Mudah-mudahan ini pertanda yang baik. Aku bersyukur melihat perkembangan Deva.

Dalam banyak hal, TK PJ jauh segalanya dari TK Kasih Ananda. Tapi biar bagaimanapun, terima kasih kami haturkan untuk bapak ibu guru tercinta di TK Kasih Ananda yang sudah mengajar Deva selama setahun di kelas TK A. Kalian juga hebat!

Catatan: Masuk TK PJ memang bukan main-main. Mahal euy. Itu sebabnya tahun ini, Rey, yang tadinya masuk kategori Kelompok Bermain di TK yang sama, terpaksa mengalah untuk biaya sekolah Deva. Tak apa ya, nak. Papah janji tahun depan, giliran Rey nyusul Deva.

Tas yang Akrab


Tahu nggak, si Rey, anak ketiga saya punya kebiasaan unik. Semua mainannya, seperti mobil-mobilan die cast hotwheels, dvd Thomas, atau yang lain, selalu ditenteng dan dibawa kemana-mana. Kalau ada tas kecil, ya Rey pake tas, kalau lagi nggak ada, ya tas plastik kresek pun jadilah.

Jadi gitu deh, si Rey nenteng-nenteng tas atau kresek itu kemana-mana. Di dalam rumah, mau mandi, di mobil, sampai mau tidur. Tas kresek itu harus selalu ada di tangannya. Lucu aja sih ngeliatnya...

Nah, bagian yang paling membuatku tertawa ada dua. Pertama ngeliat Rey yang selalu nenteng tas kresek kemana-mana. Kedua, karena tasnya sering jebol, Rey jadi suka gonta-ganti tas. Sekarang ini, ia punya ransel segede ’gajah’ hehehe, lebih gede dari badannya. Tapi dia cuek aja tuh...

Catatan: tas Rey sering jebol, karena kalau sudah keberatan ama isinya, rey suka bawa sambil diseret-seret. Wah wah wah...

01 Juni 2009

Kalau Kau Sibuk, Mana Kau Sempat


Pagi belum bergerak jauh dari pukul 6. Indri, isteri saya sudah terjaga. Di rentang jam itu, biasanya dia masih bisa menikmati kehangatan selimut. Tapi sejak punya keasyikan baru, menu paginya berubah. Indri justru cergas meraih komputer. Jarinya asyik menari di atas keyboard. Dalam hitungan detik, speedy yang lumayan cepat itu menghubungkannya dengan teman-temannya. Juga dengan dunia. Dia membuka facebook.

Saban hari, sekitar 200 juta orang di lima benua saling menyapa lewat jejaring sosial ini. Dunia dimabuk facebook. Dari pesohor Hollywood, Presiden Amerika, hingga para Santri di Lirboyo, Jawa Timur. Dari anak sekolah hingga profesor. Dari orang biasa hingga agamawan. Penyebaran facebook melaju pesat.

Aktivitas mereka juga luar biasa. Lihatlah statistik facebook ini: lebih dari 3,5 juta menit dihabiskan oleh pengguna aktif fb (singkatan facebook) setiap hari, lebih dari 850 juta foto didownload setiap bulan, lebih dari 1 miliar konten diproduksi setiap pekan, baik berupa postingan baru di wall, notes, dan rupa-rupa postingan lain. Sungguh sebuah data yang menyeruak begitu rupa dan mencengangkan kita semua...

Candu fb merasuki banyak penggunanya. Juga isteri saya. Aktivtas fb-nya tergolong luar biasa. Memang tidak seperti Rahma Azhari, artis bahenol itu, yang setiap 5 menit sekali mampir ke fb, tapi isteri saya termasuk yang rajin bertukar sapa dan cerita lewat jejaring maya ini. Protes? Ndak boleh protes, ah, emang jamannya lagi gini…

Catatan: Ada begitu banyak pagi yang mesti saya lewatkan sendirian, mandiin ketiga anak, nyiapin Arel sekolah sampai sarapan sendiri. Sementara isteri saya asyik ngefesbuk. Untunglah ketika catatan ini ditulis demam itu sudah reda...

27 Mei 2009

Namamu Telah Lama Disebut Langit


Membacamu. Kutemukan puluhan kalimat mengejar satu kata saja: papih. Selamat hadir di dunia kekal Mamih. Selamat bertemu dengan belahan jiwa sehidup semati, suami tercinta: papih. Selamat bertemu juga dengan "Matahari" yang terus menyinari hati kami yang masih tinggal di dunia ini: Papah Tonton, dan salam sayang kami untuk cucu Mamih tercinta: Faisal. Kami tahu, di luar sana, mereka menjulurkan tangga kencana buat Mamih. Disaksikan jutaan mata peri dan gempita puja barisan malaikat...

Bulan April lalu, akhirnya Mamih kami, Mamih Oethowo, menuntaskan tugasnya dalam kehidupan ini. Kami ikhlas melepas kepergian Mamih. Rindu mamih sejak ditinggal papih, adalah rindu yang berderak menggelinding. Melindas semua dinding.

Di antara hari-hari sepi mamih, sepekan sebelum kepergiannya, suatu hari saya sempatkan sejenak memeluk mamih. Memandangi wajahnya dan merasakan uluran tangannya. Mamih tersenyum. Jabat tangannya seperti berkata, „Jaga anak-anak ya“. Saat itu aku seperti ingin menangis. Aku tahu betul kondisi mamih. Dan mengerti waktu mamih yang tak akan lama lagi.

Hari berlalu. Diantara sakitnya, mamih tetap rajin melafalkan ibadah dipandu mamah. Hingga kabar duka itu datang malam-malam. Jumat, 10 April 2009, 21.00 WIB Mamih pergi untuk selamanya..Selamat istirahat panjang Mamih. Namamu memang telah lama disebut langit. Semoga diterima semua amal ibadah. Semoga menemukan matahari baru di dunia baru...

Makam mamih berdampingan dengan papih, di Tenjolaya, Garut. Bersama Ricky dan mas Agus, saya turun ke liang lahat dan ikut memberi penghormatan terakhir pada mamih. Inna Lillahi Wainna Ilaihi Rojiun..

Merekalah Manusia Jazz Masa Depan


Jarak antara grup jazz Emerald dan Arel, anak pertama saya nyaris dua dasawarsa. Ada duapuluh tahunan. Sebuah jarak yang teramat jauh. Itu sebabnya Arel senyum-senyum saja dan ingin segera pindah dari panggung Emerald. Sementara saya dan Indri, isteri saya, masih asyik menikmati lagu-lagu jazz jazz khas Emerald.

Saya memang mencoba mematahkan sekat genre musik jazz yang terkadang dogmatis, keriting dan susah disukai oleh orang awam, apalagi anak-anak. Arel, sengaja saya ajak nonton International Java Jazz Festival 2009. Suka atau tidak, saya cuma ingin agar benih jazz tumbuh dan menjalar di hatinya. Tidak usah sekarang, tapi nanti-nanti. Di masa datang. Saya ingin Arel, Deva dan Rey, jadi manusia jazz masa depan. Pemegang estafet panji jazz ayahnya.

Praktis bersama Arel dan Indri, saya mesti pintar-pintar memilih tontonan festival. Membawa mereka ke panggung Mike Stern, Dave Weckl, Chuck Loeb, atau Eliane Elias, bisa jadi keriting dan membosankan. Itu sebabnya kami bertiga lebih banyak jalan-jalan dan nonton yang ringan-ringan saja seperti Duo Tohpati-Indro, dan beberapa panggung lain. Sayang panggung Jason Mraz atau Brian McKnight terlalu berjubel.

Catatan: Java jazz kemarin memang banyak yang terlewat, seperti Special EFX, Dave Valentine, Mike Stern, dan banyak lagi. Tapi tak apa. Melihat Arel happy bertemu Slank dan bersebelahan meja waktu dinner dengan Pretty Asmara yang subur banget badannya, saya juga ikut senang.

(Photo courtesy of http://www.horizon-line.com)

Tolong, Jangan Bertengkar...


Tolong, jangan bertengkar. Apalagi sampai pukul-pukulan dan melempar perabotan.
Tolong jangan kalian asah nasehat kami menjadi duri-duri hati. Menjadi taring.
Tolong bantulah kami membangun dunia indah, yang kita bangun sejak dulu, dari senyuman dan kenangan yang kita kumpulkan setiap waktu.

Catatan ini ditulis untuk kalian, anak-anakku. Kadang-kadang kami, papah dan mamah lelah melihat kalian selalu bertengkar.

Awas Lho Ada Kayla!!



Namanya Kayla. Keren, kan..Rey, paling takut dengan Kayla. Kalau Kayla datang Rey langsung saja ngacir. Bagaimana bisa Rey yang bandel nggak ketulungan itu takut Kayla??

Ya, Kayla ternyata seekor kumang. Si kumang atau kelomang ini dibawa Deva, anak kedua saya, dari sekolah. Bentuknya lucu. Tubuhnya dicat mirip Spiderman. Beda dengan si kumang mainan anak-anak yang sering kita temui di pinggir pantai.

Lucunya, Rey paling takut dengan kumang. Jadi kalau lagi ngambek, susah mandi atau susah makan, kita suka memanggil Kayla. Aku cuma senyum-senyum saja kalau Rey ngadat dan Deva langsung bilang, „Awas lho nanti diambilin Kayla...“. hehehe asal banget sih memang...

Tapi tak apalah. Keceriaan toh bisa didapat dari mana saja..

Catatan: Dari beberapa literatur, si kumang ternyata sanggup hidup sampai 30 tahun. Subhanallah...

23 Maret 2009

Dari Seorang Anak Kecil, untuk Obama



Hari itu saya punya catatan tersendiri tentang Barack Obama. Anak ketiga saya, Rey, ternyata diam-diam menyimpan memori tentang Presiden Amerika ke-44 itu. Obama memang nun jauh disana. Tapi segala kata seolah mengejarnya. Di mana-mana, di kota-kota besar dan di seluruh penjuru negeri orang membicarakannya. Obama seperti pelangi yang menjulurkan tangga kencana, memeluk kanak-kanak hingga orang dewasa.

Sama seperti banyak orang, saya kenal Obama sejak media sering menampilkan sosoknya. Pidatonya dianggap sangat luar biasa dan salah satu yang terbaik. Kita sering terhenyak menyaksikan orator ulung atau para demagog, ahli pidato juga, namun yang lihai memutar balikkan fakta – mirip Hitler yang mampu menghipnotis bangsa Jerman. Namun mendengar Obama bicara terasa menyejukkan, ada semangat Change dan nuansa Hope di semua kehadirannya.

Menyaksikan anak muda cerdas dan lulusan terbaik Fakultas Hukum Harvard University itu sungguh luar biasa. Ia menginspirasi begitu banyak orang di seluruh dunia. Juga Rey ternyata. Meski dalam kapasitas yang sangat ringan. Ya, hari itu, dalam perjalanan ke Bandung, Rey membuat tebakan yang tak disangka-sangka. „Dimana ada Barack Obama..???? Saya tentu saja kaget dan terus saja tertawa. Seisi mobil juga ramai oleh derai tawa kami..

Catatan: Kalau di mobil, dalam perjalanan kemana saja, anak-anak saya memang tidak pernah bisa diam. Adaaa saja yang dikerjakan. Kalau tidak jumpalitan ya gegantungan di handle pintu atas, mirip Spiderman. Supaya diam, kadang-kadang saya bikin tebakan, tentang apa saja yang ada di sekeliling: dimana stasiun, mana pemulung, itu merk mobil apa, yah apa saja. Biasanya anak-anak memang suka gantian bikin tebak-tebakan.

26 Februari 2009

Pada Suatu Hari yang Terik...


Aku mau jual sepeda aja. Sepeda itu sudah bikin stress. Begitu kata Arel suatu hari. Aku sebenarnya geli, tapi aku mengangguk saja. Anak-anak saya adalah sejumlah pelajaran bagi saya. Tiap hari ada saja pelajaran baru yang bisa dipetik dari tingkah laku atau ulah mereka. Semoga saja semuanya bermakna dan bermanfaat kelak, Amiiinn..

Aku menyemangatinya. Menurutku, untuk membuat keputusan besar, seseorang haruslah berhati besar. Dia juga harus bertanggungjawab dengan apa yang diputuskannya. Aku jadi teringat kata-kata pamannya Spiderman, „kekuatan yang besar memerlukan tanggung jawab dan hati yang besar pula untuk menjalankannya“. Itu sebabnya aku tidak mau begitu saja menghalangi rencana-rencana yang ada di kepala Arel.

Siang itu, bersama Arel dan Indri istri saya, kami menuju bengkel sederhana dekat Puri Bintaro, untuk cek harga. Eh ternyata cuma ditawar 100 ribu rupiah. Hehehe...Arel cuma senyum-senyum. Aku lalu memutuskan ke BSD, mencari outlet sepeda yang katanya terbesar dan masuk rekor MURI. Jual sepeda ternyata nggak gampang. Beberapa gerai sepeda dan bengkel ternyata menolak. Siang yang terik itu seperti menggayuti hati kami, berat juga melepas sepeda satu ini.

Tapi Arel terus menyemangati. Di sebuah bengkel, di sepanjang jalan antara Ulujami-Bintaro, akhirnya sepeda itu berpindah tangan. Horeeee...akhirnya laku juga ya, kak! Tiga lembar 100 ribuan langsung diterima Arel yang seketika wajahnya cerah dan senyumnya mengembang di sana sini.

Pelajaran baru? Ya, hari itu aku punya catatan tentang kepedulian. Aku senang sudah memberinya kesempatan mewujudkan apa yang dipikirkannya menjadi sebuah tindakan.

Catatan: Sepeda Wim Cycle itu ternyata bolak-balik bikin Arel jatuh, terakhir kakinya masuk jeruji. Kebaret di sana-sini. Tahu deh, salah sepedanya, atau salah Arelnya hehehe

05 Februari 2009

Didera Deras Air dari Langit, Basah Kuyup Menanggung Dosa


Aku menyaksikan saat-saat yang terbadai. Kulihat Burhanudin Abdullah, mantan orang terpandang di negeri ini, mantan Gubernur Bank Indonesia, kini begitu mendung hidupnya. Aku bertemu dengannya bersama ‚sang guru’ Ishadi SK, jurnalis senior sekaligus Komisaris Trans TV, di penjara koruptor Mabes Polri. Di ruang tamu penjara itu aku melihat Arthalyta, yang kasus suapnya menghebohkan, dan sederet nama terpidana korupsi lainnya, sama: mendung juga hidupnya.

Aku juga bertemu dengan Anwar Nasution, Deputy Gubernur Senior Bank Indonesia, yang menyangkal dirinya terlibat korupsi. Di waktu lain, aku diminta bertemu dengan Corporate Secretary Bank BNI, terkait kasus pembobolan Bank BNI oleh Adrian Woworuntu.

Aku juga sering bertemu dengan sang nakhoda pemberantasan korupsi Indonesia, Antasari Azhar, ketua KPK. Bersama pak Ishadi, suatu siang, kami makan siang bersama. Hmm, sebuah kesempatan yang jarang dipunyai orang lain. Bersama Pak Ishadi, ketika membuat episode KPK: „Catatan Akhir Tahun Ishadi SK“, aku mengunjungi Jampidsus, Penjara Cipinang, dan Gedung DPR.

KPK – Kumpulan Perkara Korupsi - adalah program di Trans TV yang begitu kuat berkibar dan melambai-lambai. Dia adalah program yang ditakuti para korupstor negeri ini, karena setelah didera penjara, media adalah pengadilan yang menyerang mereka secara deras, seperti derasnya air dari langit.

Berada di garis depan program ini, saya makin memahami bahwa hidup memang dengan begitu mudahnya berbalik. Mereka yang tadinya terpandang dan jauh dari jangkauan, kini bisa merendah setanah-tanah..

Foto: Pak Ishadi ketika syuting KPK di gedung DPR untuk eps. „Catatan Akhir Tahun Ishadi SK“

Catatan: Arel, Deva dan Rey hafal betul musik KPK. Mereka sering menyanyikannya ketika saya memutar DVD untuk koreksi content dan gambar sebelum tayang.

04 Februari 2009

Mari Kita Tulis Semua dengan Hati, Anakku..



Ini cerita tentang liburan dan tahun baru lalu. Buat saya liburan kemarin cukup mengesankan. Semoga kalian juga ya anak-anakku. Ya, liburan kemarin kami tidak jalan-jalan ke mal seperti biasa tapi mencoba mengakrabi alam Lembang dan Ciwidey, Bandung.

Saya membawa anak-anak mengenal cerita klasik Sangkuriang dan membawa mereka menyaksikan langsung kawah Tangkuban Perahu, mampir di Tahu Lembang yang enak banget itu dan sempat menjajal permainan 'maze' bersama Arel, Deva, dan Rey. Arel malah sempat jadi crosser cilik. Lihat deh foto-fotonya, seru!!










Oh ya di Lembang kami juga sempat belanja ketan bakar, stroberi, susu sapi, tahu Tauhid, bakpia khas Lembang: Sophia, dodol kesukaan Arel, dan banyak yang lain. Hmm. seksi and yummy hehehe..

Liburan terus berlanjut besoknya. Kali ini ke pegunungan Selatan, daerah Ciwidey dan sekitarnya sampai ke perkebunan teh Malabar yang besar itu.

Malam tahun baru kami di Dago, juga tidak kalah lebih seru. Ada mamih oethowo di tengah kami. Ada jagung bakar, ada petasan, dan tentu saja terompet. Seru dan murah meriah.

Liburan memang bisa menyenangkan seperti ini, asal kita bisa mengakrabinya dengan hati…

03 Februari 2009

Lima Perkara Sebelum Lima Perkara



Aku ingat cerita zaman Rasul dulu. Ali bin Abi Thalib memutuskan sendiri untuk masuk Islam dan membela Nabi Muhammad SAW pada usia 6 tahun. Imam Syafii hafal Quran pada usia balita. Imam Malik menulis pemikirannya pada usia seperti anakku Arel.

Aku juga ingat kisah seorang anak Iran yang dikaruniai Allah karunia terindah, kemampuan hafal dan memahami Al-Quran di usia yang sangat belia, 5 tahun, yaitu Muh. Husein Tabatabai. Husein bahkan mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari Hijaz College Islamic University di Inggris pada usia 7 tahun.

Aku juga sering teringat lagu Raihan „Demi Masa“,
“….Ingat lima perkara sebelum lima perkara
sehat sebelum sakit
muda sebelum tua
kaya sebelum miskin
lapang sebelum sempit
hidup sebelum mati..”


Anak-anakku, aku selalu minta kepada Allah, agar kalian dilindingi senantiasa. Agar disempatkan senantiasa. “Ya Allah sempatkanlah kami”. Sempatkanlah anak-anakku memahami sabana ilmu kehidupanMu yang sedalam laut dan seluas langit. Amiiin…

Meniti Jalan Surga Mu




“Aku ingin masuk surga aja, pah” begitu kata Deva suatu kali. Anak-anak saya, sejak dini memang saya ceritakan tentang betapa indahnya surga. Kalau bisa masuk ke sana Deva, Arel dan Rey, bisa minta apapun yang mereka mau. Mau pizza, langsung ada. Mau Hotwheels atau Nintendo Wii kesukaan Arel, ting!! tinggal main. Mau mobil Ferrari atau jam Ben 10 kesukaan Deva atau kereta Thomas buat Rey langsung ada di depan mata.

Sungai-sungai di surga juga banyak. Ada yang dari susu, moccha, capuccino ada juga yang dari madu. Semuanya bisa langsung diminum dan gratis. Arel paling seneng capucchino. Mirip mamahnya, Indri. Deva dan Rey paling seneng susu cokelat.

Di mata mereka surga begitu asiknya. Anak-anak saya juga langsung terbang imajinasinya kalau sudah bicara tentang surga. Kalau sudah begitu saya hanya tinggal bilang, “Tapi ada tiketnya lho kalau mau ke surga”. Mesti sholat, rajin sekolah, rajin belajar dan bicara yang baik-baik.

Bicara soal surga ini, Deva dan Rey selalu mengingatkan saya, kalau ketiga kambing mereka yang bernama si Power Rangers (punya Deva), Si Naruto (punya Arel) dan si Embek (punya Rey) sudah duluan masuk surga. Idul Qurban kemarin, Alhamdulillah kami diberi rizki yang cukup untuk kurban. Semoga barokah. Amin..

Catatan: Sore ketika diantar ke rumah, kambing-kambing itu sempat terlepas dan bikin heboh satpam kompleks hehehe

Sampai Bertemu Kembali Eyang, Saat Kita Dibangkitkan



Ada orang yang memang waktunya telah selesai. Jadi ia harus pergi. Menuntaskan perjalanan menuju Ilahi Robbi. Sebuah perjalanan yang kelak akan kita lewati juga. Eyang kami, Papih Oethowo sudah menuntaskan tugasnya dalam kehidupan, Ramadhan 2008 lalu. Ya Allah, terimalah Papih di sisi-MU. Berilah Papih nikmat di alam Barzakh.

Kami ikhlas melepas kepergian Papih. Innalillahi wa inna Ilaihi Raji’un…Insya Allah kami yang ditinggalkan bisa menjaga diri, dan terutama menjaga Mamih, yang kini sejak ditinggal papih, seperti tercerabut daya hidupnya.

Papih seperti sekuntum bunga mawar penyejuk hati kami. Kenangan akan papih adalah kenangan berjuta kebaikan di mata berjuta kita, anak-anak dan cucu-cucunya. Papih adalah sebuah pribadi yang tak segan merendah setanah-tanah, yang menghadapkan lurus wajahnya pada ketulusan hati dan kejujuran diri.

Papih yang saya kenal adalah Papih yang hingga usia tuanya, rajin melafalkan ibadah dengan jari-jari yang tengadah. Masih terngiang di telinga ketika Papih selalu saja mengingatkan rumah tangga saya dan isteri saya Indri agar selalu diliputi kebahagiaan. Agar pintar-pintar mendidik ketiga jagoan kami.

Selamat jalan, Papih
Semoga diterima semua amal ibadah, diampuni dosa-dosa yang ada
Semoga perjalanan papih, diiringi gempita puja barisan malaikat
Sampai bertemu kembali ya. Saat kita dibangkitkan, dan bersaksi tentang diri kita nanti


Tulisan ini untuk mengenang almarhum Papih Agoes Oethowo, yang meninggal hari ke3 Ramadhan 2008, dalam usia 90 tahun. Saya masih punya hutang untuk menuliskan kalimat berbahasa Belanda dalam versi cetak yang lebih bagus untuk ditempel di pigura cucu laki-lakinya, Adik kami Faisal Dirganthara Oethowo yang sudah menuntaskan perjalanan lebih dulu. Sampai sekarang saya belum juga mengerjakan ketikan yang sederhana itu. Ah...Maafkan saya papih...