
Aku mau jual sepeda aja. Sepeda itu sudah bikin stress. Begitu kata Arel suatu hari. Aku sebenarnya geli, tapi aku mengangguk saja. Anak-anak saya adalah sejumlah pelajaran bagi saya. Tiap hari ada saja pelajaran baru yang bisa dipetik dari tingkah laku atau ulah mereka. Semoga saja semuanya bermakna dan bermanfaat kelak, Amiiinn..
Aku menyemangatinya. Menurutku, untuk membuat keputusan besar, seseorang haruslah berhati besar. Dia juga harus bertanggungjawab dengan apa yang diputuskannya. Aku jadi teringat kata-kata pamannya Spiderman, „kekuatan yang besar memerlukan tanggung jawab dan hati yang besar pula untuk menjalankannya“. Itu sebabnya aku tidak mau begitu saja menghalangi rencana-rencana yang ada di kepala Arel.
Siang itu, bersama Arel dan Indri istri saya, kami menuju bengkel sederhana dekat Puri Bintaro, untuk cek harga. Eh ternyata cuma ditawar 100 ribu rupiah. Hehehe...Arel cuma senyum-senyum. Aku lalu memutuskan ke BSD, mencari outlet sepeda yang katanya terbesar dan masuk rekor MURI. Jual sepeda ternyata nggak gampang. Beberapa gerai sepeda dan bengkel ternyata menolak. Siang yang terik itu seperti menggayuti hati kami, berat juga melepas sepeda satu ini.
Tapi Arel terus menyemangati. Di sebuah bengkel, di sepanjang jalan antara Ulujami-Bintaro, akhirnya sepeda itu berpindah tangan. Horeeee...akhirnya laku juga ya, kak! Tiga lembar 100 ribuan langsung diterima Arel yang seketika wajahnya cerah dan senyumnya mengembang di sana sini.
Pelajaran baru? Ya, hari itu aku punya catatan tentang kepedulian. Aku senang sudah memberinya kesempatan mewujudkan apa yang dipikirkannya menjadi sebuah tindakan.
Catatan: Sepeda Wim Cycle itu ternyata bolak-balik bikin Arel jatuh, terakhir kakinya masuk jeruji. Kebaret di sana-sini. Tahu deh, salah sepedanya, atau salah Arelnya hehehe












