Allowwww guys...Apa kabar...

Selamat datang di website ini ya! Papah sengaja membuatnya untukku dan adikku Deva juga Rey, supaya website ini jadi "cahaya yang menerangi batin kita". Kata Papah untuk kontemplasi suatu hari nanti. Aku nggak ngerti apa tuh kontemplasi hahaha!! Kalau kata mamah sih, "semoga bisa mengantar anak-anak menuju gerbang kehidupan", wah dalem banget ya. Yah, apapun, aku sih nurut aja lah. Jangan lewatkan tulisan-tulisan papahku ya, dan jangan lupa mengisi message boardnya biar kita selalu tersambung. Okay okay..!! (Arel)

26 Februari 2009

Pada Suatu Hari yang Terik...


Aku mau jual sepeda aja. Sepeda itu sudah bikin stress. Begitu kata Arel suatu hari. Aku sebenarnya geli, tapi aku mengangguk saja. Anak-anak saya adalah sejumlah pelajaran bagi saya. Tiap hari ada saja pelajaran baru yang bisa dipetik dari tingkah laku atau ulah mereka. Semoga saja semuanya bermakna dan bermanfaat kelak, Amiiinn..

Aku menyemangatinya. Menurutku, untuk membuat keputusan besar, seseorang haruslah berhati besar. Dia juga harus bertanggungjawab dengan apa yang diputuskannya. Aku jadi teringat kata-kata pamannya Spiderman, „kekuatan yang besar memerlukan tanggung jawab dan hati yang besar pula untuk menjalankannya“. Itu sebabnya aku tidak mau begitu saja menghalangi rencana-rencana yang ada di kepala Arel.

Siang itu, bersama Arel dan Indri istri saya, kami menuju bengkel sederhana dekat Puri Bintaro, untuk cek harga. Eh ternyata cuma ditawar 100 ribu rupiah. Hehehe...Arel cuma senyum-senyum. Aku lalu memutuskan ke BSD, mencari outlet sepeda yang katanya terbesar dan masuk rekor MURI. Jual sepeda ternyata nggak gampang. Beberapa gerai sepeda dan bengkel ternyata menolak. Siang yang terik itu seperti menggayuti hati kami, berat juga melepas sepeda satu ini.

Tapi Arel terus menyemangati. Di sebuah bengkel, di sepanjang jalan antara Ulujami-Bintaro, akhirnya sepeda itu berpindah tangan. Horeeee...akhirnya laku juga ya, kak! Tiga lembar 100 ribuan langsung diterima Arel yang seketika wajahnya cerah dan senyumnya mengembang di sana sini.

Pelajaran baru? Ya, hari itu aku punya catatan tentang kepedulian. Aku senang sudah memberinya kesempatan mewujudkan apa yang dipikirkannya menjadi sebuah tindakan.

Catatan: Sepeda Wim Cycle itu ternyata bolak-balik bikin Arel jatuh, terakhir kakinya masuk jeruji. Kebaret di sana-sini. Tahu deh, salah sepedanya, atau salah Arelnya hehehe

05 Februari 2009

Didera Deras Air dari Langit, Basah Kuyup Menanggung Dosa


Aku menyaksikan saat-saat yang terbadai. Kulihat Burhanudin Abdullah, mantan orang terpandang di negeri ini, mantan Gubernur Bank Indonesia, kini begitu mendung hidupnya. Aku bertemu dengannya bersama ‚sang guru’ Ishadi SK, jurnalis senior sekaligus Komisaris Trans TV, di penjara koruptor Mabes Polri. Di ruang tamu penjara itu aku melihat Arthalyta, yang kasus suapnya menghebohkan, dan sederet nama terpidana korupsi lainnya, sama: mendung juga hidupnya.

Aku juga bertemu dengan Anwar Nasution, Deputy Gubernur Senior Bank Indonesia, yang menyangkal dirinya terlibat korupsi. Di waktu lain, aku diminta bertemu dengan Corporate Secretary Bank BNI, terkait kasus pembobolan Bank BNI oleh Adrian Woworuntu.

Aku juga sering bertemu dengan sang nakhoda pemberantasan korupsi Indonesia, Antasari Azhar, ketua KPK. Bersama pak Ishadi, suatu siang, kami makan siang bersama. Hmm, sebuah kesempatan yang jarang dipunyai orang lain. Bersama Pak Ishadi, ketika membuat episode KPK: „Catatan Akhir Tahun Ishadi SK“, aku mengunjungi Jampidsus, Penjara Cipinang, dan Gedung DPR.

KPK – Kumpulan Perkara Korupsi - adalah program di Trans TV yang begitu kuat berkibar dan melambai-lambai. Dia adalah program yang ditakuti para korupstor negeri ini, karena setelah didera penjara, media adalah pengadilan yang menyerang mereka secara deras, seperti derasnya air dari langit.

Berada di garis depan program ini, saya makin memahami bahwa hidup memang dengan begitu mudahnya berbalik. Mereka yang tadinya terpandang dan jauh dari jangkauan, kini bisa merendah setanah-tanah..

Foto: Pak Ishadi ketika syuting KPK di gedung DPR untuk eps. „Catatan Akhir Tahun Ishadi SK“

Catatan: Arel, Deva dan Rey hafal betul musik KPK. Mereka sering menyanyikannya ketika saya memutar DVD untuk koreksi content dan gambar sebelum tayang.

04 Februari 2009

Mari Kita Tulis Semua dengan Hati, Anakku..



Ini cerita tentang liburan dan tahun baru lalu. Buat saya liburan kemarin cukup mengesankan. Semoga kalian juga ya anak-anakku. Ya, liburan kemarin kami tidak jalan-jalan ke mal seperti biasa tapi mencoba mengakrabi alam Lembang dan Ciwidey, Bandung.

Saya membawa anak-anak mengenal cerita klasik Sangkuriang dan membawa mereka menyaksikan langsung kawah Tangkuban Perahu, mampir di Tahu Lembang yang enak banget itu dan sempat menjajal permainan 'maze' bersama Arel, Deva, dan Rey. Arel malah sempat jadi crosser cilik. Lihat deh foto-fotonya, seru!!










Oh ya di Lembang kami juga sempat belanja ketan bakar, stroberi, susu sapi, tahu Tauhid, bakpia khas Lembang: Sophia, dodol kesukaan Arel, dan banyak yang lain. Hmm. seksi and yummy hehehe..

Liburan terus berlanjut besoknya. Kali ini ke pegunungan Selatan, daerah Ciwidey dan sekitarnya sampai ke perkebunan teh Malabar yang besar itu.

Malam tahun baru kami di Dago, juga tidak kalah lebih seru. Ada mamih oethowo di tengah kami. Ada jagung bakar, ada petasan, dan tentu saja terompet. Seru dan murah meriah.

Liburan memang bisa menyenangkan seperti ini, asal kita bisa mengakrabinya dengan hati…

03 Februari 2009

Lima Perkara Sebelum Lima Perkara



Aku ingat cerita zaman Rasul dulu. Ali bin Abi Thalib memutuskan sendiri untuk masuk Islam dan membela Nabi Muhammad SAW pada usia 6 tahun. Imam Syafii hafal Quran pada usia balita. Imam Malik menulis pemikirannya pada usia seperti anakku Arel.

Aku juga ingat kisah seorang anak Iran yang dikaruniai Allah karunia terindah, kemampuan hafal dan memahami Al-Quran di usia yang sangat belia, 5 tahun, yaitu Muh. Husein Tabatabai. Husein bahkan mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari Hijaz College Islamic University di Inggris pada usia 7 tahun.

Aku juga sering teringat lagu Raihan „Demi Masa“,
“….Ingat lima perkara sebelum lima perkara
sehat sebelum sakit
muda sebelum tua
kaya sebelum miskin
lapang sebelum sempit
hidup sebelum mati..”


Anak-anakku, aku selalu minta kepada Allah, agar kalian dilindingi senantiasa. Agar disempatkan senantiasa. “Ya Allah sempatkanlah kami”. Sempatkanlah anak-anakku memahami sabana ilmu kehidupanMu yang sedalam laut dan seluas langit. Amiiin…

Meniti Jalan Surga Mu




“Aku ingin masuk surga aja, pah” begitu kata Deva suatu kali. Anak-anak saya, sejak dini memang saya ceritakan tentang betapa indahnya surga. Kalau bisa masuk ke sana Deva, Arel dan Rey, bisa minta apapun yang mereka mau. Mau pizza, langsung ada. Mau Hotwheels atau Nintendo Wii kesukaan Arel, ting!! tinggal main. Mau mobil Ferrari atau jam Ben 10 kesukaan Deva atau kereta Thomas buat Rey langsung ada di depan mata.

Sungai-sungai di surga juga banyak. Ada yang dari susu, moccha, capuccino ada juga yang dari madu. Semuanya bisa langsung diminum dan gratis. Arel paling seneng capucchino. Mirip mamahnya, Indri. Deva dan Rey paling seneng susu cokelat.

Di mata mereka surga begitu asiknya. Anak-anak saya juga langsung terbang imajinasinya kalau sudah bicara tentang surga. Kalau sudah begitu saya hanya tinggal bilang, “Tapi ada tiketnya lho kalau mau ke surga”. Mesti sholat, rajin sekolah, rajin belajar dan bicara yang baik-baik.

Bicara soal surga ini, Deva dan Rey selalu mengingatkan saya, kalau ketiga kambing mereka yang bernama si Power Rangers (punya Deva), Si Naruto (punya Arel) dan si Embek (punya Rey) sudah duluan masuk surga. Idul Qurban kemarin, Alhamdulillah kami diberi rizki yang cukup untuk kurban. Semoga barokah. Amin..

Catatan: Sore ketika diantar ke rumah, kambing-kambing itu sempat terlepas dan bikin heboh satpam kompleks hehehe

Sampai Bertemu Kembali Eyang, Saat Kita Dibangkitkan



Ada orang yang memang waktunya telah selesai. Jadi ia harus pergi. Menuntaskan perjalanan menuju Ilahi Robbi. Sebuah perjalanan yang kelak akan kita lewati juga. Eyang kami, Papih Oethowo sudah menuntaskan tugasnya dalam kehidupan, Ramadhan 2008 lalu. Ya Allah, terimalah Papih di sisi-MU. Berilah Papih nikmat di alam Barzakh.

Kami ikhlas melepas kepergian Papih. Innalillahi wa inna Ilaihi Raji’un…Insya Allah kami yang ditinggalkan bisa menjaga diri, dan terutama menjaga Mamih, yang kini sejak ditinggal papih, seperti tercerabut daya hidupnya.

Papih seperti sekuntum bunga mawar penyejuk hati kami. Kenangan akan papih adalah kenangan berjuta kebaikan di mata berjuta kita, anak-anak dan cucu-cucunya. Papih adalah sebuah pribadi yang tak segan merendah setanah-tanah, yang menghadapkan lurus wajahnya pada ketulusan hati dan kejujuran diri.

Papih yang saya kenal adalah Papih yang hingga usia tuanya, rajin melafalkan ibadah dengan jari-jari yang tengadah. Masih terngiang di telinga ketika Papih selalu saja mengingatkan rumah tangga saya dan isteri saya Indri agar selalu diliputi kebahagiaan. Agar pintar-pintar mendidik ketiga jagoan kami.

Selamat jalan, Papih
Semoga diterima semua amal ibadah, diampuni dosa-dosa yang ada
Semoga perjalanan papih, diiringi gempita puja barisan malaikat
Sampai bertemu kembali ya. Saat kita dibangkitkan, dan bersaksi tentang diri kita nanti


Tulisan ini untuk mengenang almarhum Papih Agoes Oethowo, yang meninggal hari ke3 Ramadhan 2008, dalam usia 90 tahun. Saya masih punya hutang untuk menuliskan kalimat berbahasa Belanda dalam versi cetak yang lebih bagus untuk ditempel di pigura cucu laki-lakinya, Adik kami Faisal Dirganthara Oethowo yang sudah menuntaskan perjalanan lebih dulu. Sampai sekarang saya belum juga mengerjakan ketikan yang sederhana itu. Ah...Maafkan saya papih...