
Aku menyaksikan saat-saat yang terbadai. Kulihat Burhanudin Abdullah, mantan orang terpandang di negeri ini, mantan Gubernur Bank Indonesia, kini begitu mendung hidupnya. Aku bertemu dengannya bersama ‚sang guru’ Ishadi SK, jurnalis senior sekaligus Komisaris Trans TV, di penjara koruptor Mabes Polri. Di ruang tamu penjara itu aku melihat Arthalyta, yang kasus suapnya menghebohkan, dan sederet nama terpidana korupsi lainnya, sama: mendung juga hidupnya.
Aku juga bertemu dengan Anwar Nasution, Deputy Gubernur Senior Bank Indonesia, yang menyangkal dirinya terlibat korupsi. Di waktu lain, aku diminta bertemu dengan Corporate Secretary Bank BNI, terkait kasus pembobolan Bank BNI oleh Adrian Woworuntu.
Aku juga sering bertemu dengan sang nakhoda pemberantasan korupsi Indonesia, Antasari Azhar, ketua KPK. Bersama pak Ishadi, suatu siang, kami makan siang bersama. Hmm, sebuah kesempatan yang jarang dipunyai orang lain. Bersama Pak Ishadi, ketika membuat episode KPK: „Catatan Akhir Tahun Ishadi SK“, aku mengunjungi Jampidsus, Penjara Cipinang, dan Gedung DPR.
KPK – Kumpulan Perkara Korupsi - adalah program di Trans TV yang begitu kuat berkibar dan melambai-lambai. Dia adalah program yang ditakuti para korupstor negeri ini, karena setelah didera penjara, media adalah pengadilan yang menyerang mereka secara deras, seperti derasnya air dari langit.
Berada di garis depan program ini, saya makin memahami bahwa hidup memang dengan begitu mudahnya berbalik. Mereka yang tadinya terpandang dan jauh dari jangkauan, kini bisa merendah setanah-tanah..
Foto: Pak Ishadi ketika syuting KPK di gedung DPR untuk eps. „Catatan Akhir Tahun Ishadi SK“
Catatan: Arel, Deva dan Rey hafal betul musik KPK. Mereka sering menyanyikannya ketika saya memutar DVD untuk koreksi content dan gambar sebelum tayang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar