

Ada orang yang memang waktunya telah selesai. Jadi ia harus pergi. Menuntaskan perjalanan menuju Ilahi Robbi. Sebuah perjalanan yang kelak akan kita lewati juga. Eyang kami, Papih Oethowo sudah menuntaskan tugasnya dalam kehidupan, Ramadhan 2008 lalu. Ya Allah, terimalah Papih di sisi-MU. Berilah Papih nikmat di alam Barzakh.
Kami ikhlas melepas kepergian Papih. Innalillahi wa inna Ilaihi Raji’un…Insya Allah kami yang ditinggalkan bisa menjaga diri, dan terutama menjaga Mamih, yang kini sejak ditinggal papih, seperti tercerabut daya hidupnya.
Papih seperti sekuntum bunga mawar penyejuk hati kami. Kenangan akan papih adalah kenangan berjuta kebaikan di mata berjuta kita, anak-anak dan cucu-cucunya. Papih adalah sebuah pribadi yang tak segan merendah setanah-tanah, yang menghadapkan lurus wajahnya pada ketulusan hati dan kejujuran diri.
Papih yang saya kenal adalah Papih yang hingga usia tuanya, rajin melafalkan ibadah dengan jari-jari yang tengadah. Masih terngiang di telinga ketika Papih selalu saja mengingatkan rumah tangga saya dan isteri saya Indri agar selalu diliputi kebahagiaan. Agar pintar-pintar mendidik ketiga jagoan kami.
Selamat jalan, Papih
Semoga diterima semua amal ibadah, diampuni dosa-dosa yang ada
Semoga perjalanan papih, diiringi gempita puja barisan malaikat
Sampai bertemu kembali ya. Saat kita dibangkitkan, dan bersaksi tentang diri kita nanti
Tulisan ini untuk mengenang almarhum Papih Agoes Oethowo, yang meninggal hari ke3 Ramadhan 2008, dalam usia 90 tahun. Saya masih punya hutang untuk menuliskan kalimat berbahasa Belanda dalam versi cetak yang lebih bagus untuk ditempel di pigura cucu laki-lakinya, Adik kami Faisal Dirganthara Oethowo yang sudah menuntaskan perjalanan lebih dulu. Sampai sekarang saya belum juga mengerjakan ketikan yang sederhana itu. Ah...Maafkan saya papih...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar