

Hari itu saya punya catatan tersendiri tentang Barack Obama. Anak ketiga saya, Rey, ternyata diam-diam menyimpan memori tentang Presiden Amerika ke-44 itu. Obama memang nun jauh disana. Tapi segala kata seolah mengejarnya. Di mana-mana, di kota-kota besar dan di seluruh penjuru negeri orang membicarakannya. Obama seperti pelangi yang menjulurkan tangga kencana, memeluk kanak-kanak hingga orang dewasa.
Sama seperti banyak orang, saya kenal Obama sejak media sering menampilkan sosoknya. Pidatonya dianggap sangat luar biasa dan salah satu yang terbaik. Kita sering terhenyak menyaksikan orator ulung atau para demagog, ahli pidato juga, namun yang lihai memutar balikkan fakta – mirip Hitler yang mampu menghipnotis bangsa Jerman. Namun mendengar Obama bicara terasa menyejukkan, ada semangat Change dan nuansa Hope di semua kehadirannya.
Menyaksikan anak muda cerdas dan lulusan terbaik Fakultas Hukum Harvard University itu sungguh luar biasa. Ia menginspirasi begitu banyak orang di seluruh dunia. Juga Rey ternyata. Meski dalam kapasitas yang sangat ringan. Ya, hari itu, dalam perjalanan ke Bandung, Rey membuat tebakan yang tak disangka-sangka. „Dimana ada Barack Obama..???? Saya tentu saja kaget dan terus saja tertawa. Seisi mobil juga ramai oleh derai tawa kami..
Catatan: Kalau di mobil, dalam perjalanan kemana saja, anak-anak saya memang tidak pernah bisa diam. Adaaa saja yang dikerjakan. Kalau tidak jumpalitan ya gegantungan di handle pintu atas, mirip Spiderman. Supaya diam, kadang-kadang saya bikin tebakan, tentang apa saja yang ada di sekeliling: dimana stasiun, mana pemulung, itu merk mobil apa, yah apa saja. Biasanya anak-anak memang suka gantian bikin tebak-tebakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar