Allowwww guys...Apa kabar...

Selamat datang di website ini ya! Papah sengaja membuatnya untukku dan adikku Deva juga Rey, supaya website ini jadi "cahaya yang menerangi batin kita". Kata Papah untuk kontemplasi suatu hari nanti. Aku nggak ngerti apa tuh kontemplasi hahaha!! Kalau kata mamah sih, "semoga bisa mengantar anak-anak menuju gerbang kehidupan", wah dalem banget ya. Yah, apapun, aku sih nurut aja lah. Jangan lewatkan tulisan-tulisan papahku ya, dan jangan lupa mengisi message boardnya biar kita selalu tersambung. Okay okay..!! (Arel)

27 Mei 2009

Namamu Telah Lama Disebut Langit


Membacamu. Kutemukan puluhan kalimat mengejar satu kata saja: papih. Selamat hadir di dunia kekal Mamih. Selamat bertemu dengan belahan jiwa sehidup semati, suami tercinta: papih. Selamat bertemu juga dengan "Matahari" yang terus menyinari hati kami yang masih tinggal di dunia ini: Papah Tonton, dan salam sayang kami untuk cucu Mamih tercinta: Faisal. Kami tahu, di luar sana, mereka menjulurkan tangga kencana buat Mamih. Disaksikan jutaan mata peri dan gempita puja barisan malaikat...

Bulan April lalu, akhirnya Mamih kami, Mamih Oethowo, menuntaskan tugasnya dalam kehidupan ini. Kami ikhlas melepas kepergian Mamih. Rindu mamih sejak ditinggal papih, adalah rindu yang berderak menggelinding. Melindas semua dinding.

Di antara hari-hari sepi mamih, sepekan sebelum kepergiannya, suatu hari saya sempatkan sejenak memeluk mamih. Memandangi wajahnya dan merasakan uluran tangannya. Mamih tersenyum. Jabat tangannya seperti berkata, „Jaga anak-anak ya“. Saat itu aku seperti ingin menangis. Aku tahu betul kondisi mamih. Dan mengerti waktu mamih yang tak akan lama lagi.

Hari berlalu. Diantara sakitnya, mamih tetap rajin melafalkan ibadah dipandu mamah. Hingga kabar duka itu datang malam-malam. Jumat, 10 April 2009, 21.00 WIB Mamih pergi untuk selamanya..Selamat istirahat panjang Mamih. Namamu memang telah lama disebut langit. Semoga diterima semua amal ibadah. Semoga menemukan matahari baru di dunia baru...

Makam mamih berdampingan dengan papih, di Tenjolaya, Garut. Bersama Ricky dan mas Agus, saya turun ke liang lahat dan ikut memberi penghormatan terakhir pada mamih. Inna Lillahi Wainna Ilaihi Rojiun..

Merekalah Manusia Jazz Masa Depan


Jarak antara grup jazz Emerald dan Arel, anak pertama saya nyaris dua dasawarsa. Ada duapuluh tahunan. Sebuah jarak yang teramat jauh. Itu sebabnya Arel senyum-senyum saja dan ingin segera pindah dari panggung Emerald. Sementara saya dan Indri, isteri saya, masih asyik menikmati lagu-lagu jazz jazz khas Emerald.

Saya memang mencoba mematahkan sekat genre musik jazz yang terkadang dogmatis, keriting dan susah disukai oleh orang awam, apalagi anak-anak. Arel, sengaja saya ajak nonton International Java Jazz Festival 2009. Suka atau tidak, saya cuma ingin agar benih jazz tumbuh dan menjalar di hatinya. Tidak usah sekarang, tapi nanti-nanti. Di masa datang. Saya ingin Arel, Deva dan Rey, jadi manusia jazz masa depan. Pemegang estafet panji jazz ayahnya.

Praktis bersama Arel dan Indri, saya mesti pintar-pintar memilih tontonan festival. Membawa mereka ke panggung Mike Stern, Dave Weckl, Chuck Loeb, atau Eliane Elias, bisa jadi keriting dan membosankan. Itu sebabnya kami bertiga lebih banyak jalan-jalan dan nonton yang ringan-ringan saja seperti Duo Tohpati-Indro, dan beberapa panggung lain. Sayang panggung Jason Mraz atau Brian McKnight terlalu berjubel.

Catatan: Java jazz kemarin memang banyak yang terlewat, seperti Special EFX, Dave Valentine, Mike Stern, dan banyak lagi. Tapi tak apa. Melihat Arel happy bertemu Slank dan bersebelahan meja waktu dinner dengan Pretty Asmara yang subur banget badannya, saya juga ikut senang.

(Photo courtesy of http://www.horizon-line.com)

Tolong, Jangan Bertengkar...


Tolong, jangan bertengkar. Apalagi sampai pukul-pukulan dan melempar perabotan.
Tolong jangan kalian asah nasehat kami menjadi duri-duri hati. Menjadi taring.
Tolong bantulah kami membangun dunia indah, yang kita bangun sejak dulu, dari senyuman dan kenangan yang kita kumpulkan setiap waktu.

Catatan ini ditulis untuk kalian, anak-anakku. Kadang-kadang kami, papah dan mamah lelah melihat kalian selalu bertengkar.

Awas Lho Ada Kayla!!



Namanya Kayla. Keren, kan..Rey, paling takut dengan Kayla. Kalau Kayla datang Rey langsung saja ngacir. Bagaimana bisa Rey yang bandel nggak ketulungan itu takut Kayla??

Ya, Kayla ternyata seekor kumang. Si kumang atau kelomang ini dibawa Deva, anak kedua saya, dari sekolah. Bentuknya lucu. Tubuhnya dicat mirip Spiderman. Beda dengan si kumang mainan anak-anak yang sering kita temui di pinggir pantai.

Lucunya, Rey paling takut dengan kumang. Jadi kalau lagi ngambek, susah mandi atau susah makan, kita suka memanggil Kayla. Aku cuma senyum-senyum saja kalau Rey ngadat dan Deva langsung bilang, „Awas lho nanti diambilin Kayla...“. hehehe asal banget sih memang...

Tapi tak apalah. Keceriaan toh bisa didapat dari mana saja..

Catatan: Dari beberapa literatur, si kumang ternyata sanggup hidup sampai 30 tahun. Subhanallah...