
Membacamu. Kutemukan puluhan kalimat mengejar satu kata saja: papih. Selamat hadir di dunia kekal Mamih. Selamat bertemu dengan belahan jiwa sehidup semati, suami tercinta: papih. Selamat bertemu juga dengan "Matahari" yang terus menyinari hati kami yang masih tinggal di dunia ini: Papah Tonton, dan salam sayang kami untuk cucu Mamih tercinta: Faisal. Kami tahu, di luar sana, mereka menjulurkan tangga kencana buat Mamih. Disaksikan jutaan mata peri dan gempita puja barisan malaikat...
Bulan April lalu, akhirnya Mamih kami, Mamih Oethowo, menuntaskan tugasnya dalam kehidupan ini. Kami ikhlas melepas kepergian Mamih. Rindu mamih sejak ditinggal papih, adalah rindu yang berderak menggelinding. Melindas semua dinding.
Di antara hari-hari sepi mamih, sepekan sebelum kepergiannya, suatu hari saya sempatkan sejenak memeluk mamih. Memandangi wajahnya dan merasakan uluran tangannya. Mamih tersenyum. Jabat tangannya seperti berkata, „Jaga anak-anak ya“. Saat itu aku seperti ingin menangis. Aku tahu betul kondisi mamih. Dan mengerti waktu mamih yang tak akan lama lagi.
Hari berlalu. Diantara sakitnya, mamih tetap rajin melafalkan ibadah dipandu mamah. Hingga kabar duka itu datang malam-malam. Jumat, 10 April 2009, 21.00 WIB Mamih pergi untuk selamanya..Selamat istirahat panjang Mamih. Namamu memang telah lama disebut langit. Semoga diterima semua amal ibadah. Semoga menemukan matahari baru di dunia baru...
Makam mamih berdampingan dengan papih, di Tenjolaya, Garut. Bersama Ricky dan mas Agus, saya turun ke liang lahat dan ikut memberi penghormatan terakhir pada mamih. Inna Lillahi Wainna Ilaihi Rojiun..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar