Allowwww guys...Apa kabar...

Selamat datang di website ini ya! Papah sengaja membuatnya untukku dan adikku Deva juga Rey, supaya website ini jadi "cahaya yang menerangi batin kita". Kata Papah untuk kontemplasi suatu hari nanti. Aku nggak ngerti apa tuh kontemplasi hahaha!! Kalau kata mamah sih, "semoga bisa mengantar anak-anak menuju gerbang kehidupan", wah dalem banget ya. Yah, apapun, aku sih nurut aja lah. Jangan lewatkan tulisan-tulisan papahku ya, dan jangan lupa mengisi message boardnya biar kita selalu tersambung. Okay okay..!! (Arel)

02 September 2009

Pinata, Rumah Imajinasinya


Anda tahu Pinata? Ya, saya juga tadinya nggak ngerti tuh apa Pinata. Cuma sadar atau tidak, kemungkinan besar kita semua pernah melihat si Pinata ini. Di acara-acara ulang tahun si kecil, biasanya Pinata ini nongol di acara paling akhir.

Bentuknya macam-macam, bisa Ben 10, Barbie, Power Rangers, The Cars, Binatang, dll. Boneka Pinata ini dalamnya diisi permen, cokelat, snack, atau pernak-pernik lain. Cara mainnya, si Pinata digantung lalu dipukul bagian bawahnya. Permen-permen yang jatuh berhamburan itu langsung jadi rebutan. Seru lah pokoknya, meriah!!

Pinata, ternyata akrab dengan Indri, isteri saya. Pinata buatannya sudah sering menghiasi acara ulang tahun anak teman-temannya. Senang rasanya melihat Indri semangat membuat Pinata. Repot dan ribet sih memang. Karena mesti belanja permen, makanan kecil, snack, dll. Tapi tak apa. Asal itu semua dilakukannya dengan hati.

Kalimat Indahku, Matematika


Dalam hati aku sering sedih melihat Arel. Aku tahu sebenarnya ia anak yang trampil, baik, pintar, suka membaca dan tidak malas. Tapi sejak duduk di kelas 4 SD Pembangunan Jaya, Arel seperti memikul beban. Aku sering menghela nafas panjang melihat malasnya Arel ketika bangun tidur dan bersiap ke sekolah. Aku juga suka geleng-geleng kepala melihat Indri, istri saya, di pagi hari itu sudah bertengkar dengan Arel. Begitu terus setiap hari.

Aku takjub campur heran melihat materi pelajaran kelas 4 SD. Terutama Matematika. Ini biangnya yang membuat Arel, anak pertama saya, stress berat. Kalimat-kalimat yang menggantung di ujung lidahnya ya kalimat-kalimat matematika seperti ini: Rumus luas dan keliling bangun dua dimensi, KPK – kelipatan persekutuan terkecil, FPB – faktor persekutuan terbesar, pembagian, perkalian ratusan hingga ribuan, akar, dll. Yang membuat saya takjub, banyak soal yang memang harus dipecahkan oleh orang yang benar-benar cerdas. Karena butuh ketrampilan perhitungan.

Jalan Arel masih sangat panjang. Ibunya sudah pasrah jika ada PR atau besoknya ulangan matematika. Sementara saya, papahnya, sering pulang kerja terlalu larut, sehingga Arel sudah terlelap.

Aku tahu Arel pandai matematika, hanya kurang teliti. Mudah-mudahan les tiap Sabtu pagi sebuah ihtiar untuk bisa menyingkap potensi kecerdasan Arel yang selama ini terpendam. Insya Allah, minta doanya ya...

Sekolah Baruku Asyikk...


Baru seminggu sekolah saja Deva sudah hebat. Ya, aku kagum pada perkembangan Deva. Di TK sebelumnya, TK Kasih Ananda, Deva tidak pernah ditinggal sendirian. Selalu saja ditungguin Indri, istri saya. Kalaupun berani itu cuma hitungan berapa hari dalam setahun. Sekarang setelah pindah ke TK Pembangunan Jaya, cuma butuh waktu seminggu buat Deva untuk dilepas. Jalan dengan gagahnya menuju kelas.

Banyak hal yang mengesankan pada Deva sekarang. Selain percaya dirinya yang kuat, Deva juga makin riang. Tak jarang ia bersenandung sepulang sekolah. Dan diantara cucuran keringatnya, mulut kecilnya bercerita banyak hal. Mudah-mudahan ini pertanda yang baik. Aku bersyukur melihat perkembangan Deva.

Dalam banyak hal, TK PJ jauh segalanya dari TK Kasih Ananda. Tapi biar bagaimanapun, terima kasih kami haturkan untuk bapak ibu guru tercinta di TK Kasih Ananda yang sudah mengajar Deva selama setahun di kelas TK A. Kalian juga hebat!

Catatan: Masuk TK PJ memang bukan main-main. Mahal euy. Itu sebabnya tahun ini, Rey, yang tadinya masuk kategori Kelompok Bermain di TK yang sama, terpaksa mengalah untuk biaya sekolah Deva. Tak apa ya, nak. Papah janji tahun depan, giliran Rey nyusul Deva.

Tas yang Akrab


Tahu nggak, si Rey, anak ketiga saya punya kebiasaan unik. Semua mainannya, seperti mobil-mobilan die cast hotwheels, dvd Thomas, atau yang lain, selalu ditenteng dan dibawa kemana-mana. Kalau ada tas kecil, ya Rey pake tas, kalau lagi nggak ada, ya tas plastik kresek pun jadilah.

Jadi gitu deh, si Rey nenteng-nenteng tas atau kresek itu kemana-mana. Di dalam rumah, mau mandi, di mobil, sampai mau tidur. Tas kresek itu harus selalu ada di tangannya. Lucu aja sih ngeliatnya...

Nah, bagian yang paling membuatku tertawa ada dua. Pertama ngeliat Rey yang selalu nenteng tas kresek kemana-mana. Kedua, karena tasnya sering jebol, Rey jadi suka gonta-ganti tas. Sekarang ini, ia punya ransel segede ’gajah’ hehehe, lebih gede dari badannya. Tapi dia cuek aja tuh...

Catatan: tas Rey sering jebol, karena kalau sudah keberatan ama isinya, rey suka bawa sambil diseret-seret. Wah wah wah...