
Dalam hati aku sering sedih melihat Arel. Aku tahu sebenarnya ia anak yang trampil, baik, pintar, suka membaca dan tidak malas. Tapi sejak duduk di kelas 4 SD Pembangunan Jaya, Arel seperti memikul beban. Aku sering menghela nafas panjang melihat malasnya Arel ketika bangun tidur dan bersiap ke sekolah. Aku juga suka geleng-geleng kepala melihat Indri, istri saya, di pagi hari itu sudah bertengkar dengan Arel. Begitu terus setiap hari.
Aku takjub campur heran melihat materi pelajaran kelas 4 SD. Terutama Matematika. Ini biangnya yang membuat Arel, anak pertama saya, stress berat. Kalimat-kalimat yang menggantung di ujung lidahnya ya kalimat-kalimat matematika seperti ini: Rumus luas dan keliling bangun dua dimensi, KPK – kelipatan persekutuan terkecil, FPB – faktor persekutuan terbesar, pembagian, perkalian ratusan hingga ribuan, akar, dll. Yang membuat saya takjub, banyak soal yang memang harus dipecahkan oleh orang yang benar-benar cerdas. Karena butuh ketrampilan perhitungan.
Jalan Arel masih sangat panjang. Ibunya sudah pasrah jika ada PR atau besoknya ulangan matematika. Sementara saya, papahnya, sering pulang kerja terlalu larut, sehingga Arel sudah terlelap.
Aku tahu Arel pandai matematika, hanya kurang teliti. Mudah-mudahan les tiap Sabtu pagi sebuah ihtiar untuk bisa menyingkap potensi kecerdasan Arel yang selama ini terpendam. Insya Allah, minta doanya ya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar