Allowwww guys...Apa kabar...

Selamat datang di website ini ya! Papah sengaja membuatnya untukku dan adikku Deva juga Rey, supaya website ini jadi "cahaya yang menerangi batin kita". Kata Papah untuk kontemplasi suatu hari nanti. Aku nggak ngerti apa tuh kontemplasi hahaha!! Kalau kata mamah sih, "semoga bisa mengantar anak-anak menuju gerbang kehidupan", wah dalem banget ya. Yah, apapun, aku sih nurut aja lah. Jangan lewatkan tulisan-tulisan papahku ya, dan jangan lupa mengisi message boardnya biar kita selalu tersambung. Okay okay..!! (Arel)

03 Desember 2009

Ojo Lumpuh, Ngisin-ngisini


Lepas jam 9 pagi, saya langsung menuju kamar mandi, siap-siap ke kantor. Namun sebuah kejadian membalikkan semua rencana hari itu. Tak ada tanda-tanda apapun, tiba-tiba punggung saya terasa nyeri dan sakit luar biasa. Nyeri yang sungguh membetot otak, Saya ambruk. Untuk bergerak sedikit saja terasa nyeri luar biasa, apalagi berdiri, pasti sebuah masalah besar. Di kamar mandi itu saya berteriak kesakitan, sementara Indri istri saya asyik fesbukan. Oh oh oh…

Saya panik. Di kamar mandi itu saya terkapar dalam posisi menempel di lantai. Bergser sedikit saja, yang muncul nyeri tak tertahankan. Indri yang kemudian sadar saya tersandung masalah juga bingung melihat kondisi saya. Di tengah kebingungan, pelan-pelan saya merayap, mirip ular jalan. Jarak kamar mandi ke kasur yang cuma sejengkal ternyata butuh 15 menit.

Fungsi punggung yang menopang tubuh manusia sungguh dahsyat. Sedikit saja tulang jahil menghimpit syaraf, bisa fatal akibatnya. Kejadian itu membuat saya takut segalanya, takut tak bisa berdiri lagi, takut lumpuh, dll. Saya teringat penyakit punggung Lumbal Sacral, itu istilah ketika syaraf terjepit oleh ruas-ruas tulang punggung di posisi L4 dan L5, yang dahsyat dan seketika membuat ambruk seseorang. Penyakit ini bisa ngendon berbulan-bulan.

Saya sungguh beruntung, dalam hitungan hari penyakit saya bisa disembuhkan. Memang harus berurusan dengan fisioterapi dan tukang pijit. Ketika kaki saya ditarik dan bunyi tulang kemerotok, memang menggentarkan. Tapi demi kesembuhan, apa boleh buat. “Ojo lumpuh, ngisin-ngisini…" Tak genap seminggu, saya sudah bisa berjalan. Alhamdulillah…

*) Ojo lumpuh, ngisin-ngisini (bhs Jawa) artinya "Jangan Lumpuh, Malu-maluin...

Habis Habis-habisan Terbitlah Alhamdulillah…



Terus terang sejak KPK Files, program yang menjungkalkan para koruptor di negeri ini, program Mukjizat Shodaqoh sungguh amat berkesan buat saya. Untuk pertamakalinya Divisi Pemberitaan, news division Trans TV, diberi kepercayaan menghandle program di waktu yang sangat strategis, super primetime, di bulan Ramadhan, yaitu waktu saat jelang berbuka.

Karena sangat strategis, pertarungan di jam ini sungguh ketat dan super berat. RCTI, SCTV dan Indosiar muncul dengan program unggulan. Saya disupport penuh oleh Rizal Firmansyah-kadep Magazine, Dede Apriadi-kadep operasional, pelontar ide acara ini, dan Gatot Triyanto, kepala Divisi news Trans TV. Di atas itu semua, kerja tim saya dipantau Wishnutama, Direktur News sekaligus Direktur Utama Trans TV. Hmm, sebuah pekerjaan yang tidak gampang, penuh beban mental. Karena dengan begitu tidak ada kata tidak untuk tidak menang dan menjadi leader di slotnya.

Program Mukjizat Shodaqoh sendiri berkisah tentang keajaiban yang dialami mereka-mereka yang setelah bersedekah, mengeluarkan harta di jalan Allah, langsung mendapat ganjaran dari Allah. MS berkisah tentang mereka-mereka yang terbelit masalah, hutang, kehidupan morat-marit, rumah tangga hancur, perceraian, dan banyak lagi masalah yang membelit manusia, namun merebut kembali kehidupan mereka setelah bersedekah. Acara ini menampilkan ustad yang dijuluki penemu ilmu matematika sedekah, ustad Yusuf Mansur, dan menggunakan format reka ulang adegan untuk berkisah.

Begitulah, internal Trans TV, program ini sedikit banyak dipuji. Namun tantangan justru datang dari owner Trans TV, Chairul Tanjung, yang merasa dari sisi produksi program ini sangat tidak Trans TV (???).

The show must go on. Di tengah kendala syuting, pengadeganan, penulisan naskah yang mirip scenario film, kami, para jurnalis tulen bertransformasi menjadi film maker, membuat program semi sinetron. Sebuah pencapaian yang luar biasa menurut saya, tapi mungkin bisa jadi tidak istimewa menurut wacana manajemen.

Tak apa, toh, Mukjizat Shodaqoh untuk pemirsa, untuk umat, bukan untuk pribadi orang perorang. Saya dan teman-teman membuat program demi kemaslahatan umat. Mencari ridho dari Sang Maha Pemberi. Ini yang lebih penting dari pada sekedar menghamba pada rating..

Sebaris Doa untuk Firin dan Keluarga yang Ditinggalkan...


Kabar duka itu datang pagi-pagi. Sahabat saya Mustagfirin, dipanggil untuk menghadap Ilahi. Terasa begitu mendadak, mengingat usianya yang lebih muda dari saya atau dari teman-teman karibnya. Namun sesungguhnya tidak bagi Yang Maha Kuasa, Sang Maha Penentu Batas Usia Manusia. Tugas Firin, panggilan akrabnya memang sudah sempurna di dunia. Itu sebabnya dia dipanggil menghadap Sang Pencipta.

Di antara hari-hari saya ketika kuliah di Fakultas Psikologi Gadjah Mada, Yogyakarta, ada banyak hari yang diisi kehadiran Firin di sana. Meski beda angkatan namun Firin dengan cepat menjadi sahabat saya. Saya menjadi teman setianya ketika nonton film silat kesukaannya di bioskop, saya juga yang menemaninya nonton film Star Trek sampai X files di rumah kontrakannya di Jl. Kaliurang. Saya juga yang sering menemaninya makan tempe di warteg depan kampung. Ah, sungguh sebuah jejak persahabatan yang amat langka. Saking dekatnya kami, sambil becanda di sebuah forum fakultas dia menyebut saya teman kumpul kebonya.

Buat saya Firin memang sebuah kamus pengetahuan yang berjalan, sebuah pribadi rendah hati dan sebuah sosok yang menyimpan bakat dan kecerdasan yang luar biasa. Ramah, baik hati, sabar dan disukai semua orang...

Selamat jalan sahabat, kenangan2 unik dengan mu sangat membekas. Semakin jelas engkau sangat sangat baik, ternyata air mata untuk mu masih ada bahkan hingga hari ini di facebook mu. Sungguh sebuah doa yang tak putus-putusnya untukmu…damai di sisi Nya ya

Catatan ini ditulis saat secara tak sengaja saya membuka kembali facebook Firin, ternyata hingga detik ini facebook itu masih aktif dan diisi dengan doa dan sapaan layaknya ketika Firin masih hidup. Putri dan isteri Firin yang tetap memanage silaturahmi dengan sobat-sobat firin itu di dunia maya. Subhanallah…

Teringat Eyang di Pekalongan…


Ada yang menggetarkanku saat Deva sakit. Tiba-tiba Deva ingin bertemu eyang kami di Pekalongan, yang lebih mengejutkan lagi Deva ingin teh Bandulan. Ajaib, hehehe... Saya cuma tersenyum dan terharu. Ternyata benak kecilnya menyimpan memori tak terkatakan tentang eyang kami dan satu hal lagi tentang teh Bandulan kesukaannya. Tiba-tiba saja memori itu terbetik dan muncul di saat Deva sakit…

Saya langsung kontak Ibu dan membiarkan Deva bicara. Bisa jadi Deva kangen dan ingin kehadiran eyang. Hanya saja jarak yang jauh, Pekalongan-Jakarta, membuat eyang tak selalu ada di dekat kami..Ah, Semoga selalu diberi kesehatan terus ya eyang, supaya bisa main ke Jakarta lagi..

Dan teh Bandulan kesukaan Deva akhirnya memang dikirim dari Pekalongan. Biar murah meriah, ternyata teh ini favorit kita semua…

Bumblebee...Si Rendah Hati..



Nonton film Transformer 2: Revenge of The Fallen, memang butuh perjuangan. Saya dan anak-anak bela-belain ngantri di 21 Pondok Indah Mall sejak pukul 10 pagi. Ya, sejak bioskop belum buka. Kebayang, ternyata sepagi itu bioskop sudah semrawut oleh antrian mereka-mereka yang juga ingin nonton film sekuel Transformer itu. Sementara loket ternyata baru buka jam 12, kebayang kan pegelnya kaki, belum lagi leher yang kejang-kejang hehehe capee deeehh..

Film Transformer sejak jauh hari memang jadi bahan diskusi seru saya dan Arel. Saking seru dan hebohnya film ini, saya dan arel sampai nonton 2 kali. Seingat saya, inilah film yang seluruh penontonnya bertepuk tangan. Seperti ada kerinduan akan sosok jagoan yang hebat dan mencengangkan, seperti Optimus Prime dan Bumblebee yang kocak itu. Itu sebabnya jauh hari, Deva dan Rey, juga kepengen ikutan nonton.Ibunya? kali ini memang mesti rela nonton film anak-anak…

Akhirnya perjuangan nonton Transformer 2 memang tidak sia-sia. Inilah untuk pertamakalinya juga Deva dan Rey nonton bioskop. Konsep teater, ruangan gelap, audio super keras, sungguh baru untuk mereka. Cuma, yah namanya juga anak-anak, separuh film jalan, Deva dan Rey mulai rewel, saya yang mesti rela keluar bioskop dan mengambil botol susu. Dalam sekejap pulaslah mereka…

Satu komentar setelah nonton film ini: KEREN euy! Buat saya sejak film Transformer pertama, film ini keren banget. Semua yang berhubungan dengan visual, grafis, dan effect yang menyertainya sempurna. Transformasi dari mobil ke robot, dari robot ke pesawat tempur, pertarungan Autobots-Deceptions (termasuk Devastator), dan pasukan militer yang banyak banget bikin saya dan Arel betah nonton film ini.