Allowwww guys...Apa kabar...

Selamat datang di website ini ya! Papah sengaja membuatnya untukku dan adikku Deva juga Rey, supaya website ini jadi "cahaya yang menerangi batin kita". Kata Papah untuk kontemplasi suatu hari nanti. Aku nggak ngerti apa tuh kontemplasi hahaha!! Kalau kata mamah sih, "semoga bisa mengantar anak-anak menuju gerbang kehidupan", wah dalem banget ya. Yah, apapun, aku sih nurut aja lah. Jangan lewatkan tulisan-tulisan papahku ya, dan jangan lupa mengisi message boardnya biar kita selalu tersambung. Okay okay..!! (Arel)

30 April 2010

Sepotong Kenangan di Malam Pergantian Zaman



Ini cerita malam tahun baru lalu. Bukan cerita heboh tentang malam pergantian tahun di pantai Ancol atau pesta kembang api Monas, atau malah jalan-jalan di pantai Kuta, Bali. Ini cuma acara kecil-kecilan yang didesain Indri, isteri saya. Ya, cuma bakar-bakar jagung dan sosis di samping rumah, nyalain kembang api dan air mancur di depan rumah bareng Arel, Deva dan Rey. Malemnya kita cuma nonton TV.

Biasa saja sih. Yang tidak biasa barangkali saya mellihat Arel, yang lama-lama makin tersusun rangkaian puzzle hidupnya. Ternyata dia punya bakat masak-memasak. Selain suka goreng telor atau sosis sendiri di dapur, anak pertama saya ini ternyata jago bikin Pizza.

Bukan Pizza seperti di Pizza Hut sih, tapi Pizza produk Arel: roti tawar yang di atasnya ditaburi potongan keju, sosis, sayur, dll. Rasanya........???? Wah..boleh diadu ama Pizza Hut...hehehe...mantab!!!

28 April 2010

Perjalanan Kali Ini semoga Memang Berarti...



Pagi itu kami melangkah begitu ringan. Tujuannya cuma satu, jalan-jalan ke ujung pulau Jawa dan melihat dari dekat pelabuhan penyeberangan Merak. Ringan dan tanpa beban. Maklum, jalan-jalan tanpa konsep ini sekaligus penebus kekecewaan isteri saya yang - untuk kesekian kali, tak bisa berkumpul dengan keluarganya.

Tahun baru lalu, seluruh keluarga isteri saya liburan ke Bali. Hmmh...siapa sih yang nggak kepengen ke Bali??? Tapi, sambil menaham embun di mata dan hati yang renjana, saya memang tidak bisa berbuat banyak, meminta maaf kepada isteri saya kalau belum saatnya ke sana. Keadaan kami memang tidak memungkinkan untuk pergi ke Bali. Yah, apa boleh buat..

Nah, setitik cerah di pagi yang juga cerah itu kami jalani seberarti mungkin. Ya, semoga memang berati. Indri, isteri saya akhirnya punya usul nekat, kami menyeberang dengan ferry ke Bandar Lampung dan balik lagi ke Jakarta. Berada di kapal dan menyeberang lautan, sungguh sebuah kenangan yang luar biasa bagi anak-anak saya.


Kota Bandar Lampung yang tinggal selangkah lagi juga melambai untuk disinggahi. Jadilah kami berputar-putar di Bandar Lampung dan pulang hingga dini hari. Hmmm...sebuah petualangan yang pasti akan menulisi hati kalian kelak...

Mampukah kami mendidik kalian Anak-anakku..??



Sesungguhnya Allah memberikan petunjuk yang lurus kepada kami agar kami bisa menempuh hidup untuk anak kami. Sebaris doa ini saya temukan di Rumah Dunia, komunitas yang digagas penulis novel dan petualang terkenal Gola Gong. Membaca itu, saya sering termangu dan sedih kalau mengingat apa yang sering saya perbuat untuk anak-anak saya.

Saat bersama mereka saya sering tiba-tiba saja meledak marah. Indri, isteri saya juga sama. Kami seperti orangtua yang mau menang sendiri. Selalu menganggap diri sendiri paling benar. Ah, padahal, bisa jadi Arel, Deva dan Rey hanya sekedar bercanda biasa.

Yah, mestinya saya memang menjadi jembatan untuk mereka. Memberi mereka cahaya dan arah. Meski perlahan. Dan mengajari mereka pelan-pelan mengenal kehidupan. Sungguh, anak-anak adalah harta yang tak ternilai harganya. Dan kalian anak-anakku, adalah anugerah tak terhingga dari Sang Maha Pencipta.

Mampukah kami mendidik kalian anak-anakku? Bantu kami ya...

Di Ujung Pulau Jawa



Banyak hal baru buat anak-anak saya selama di Cilacap. Di kota tepian Pulau Jawa ini, mereka bisa mendengar kisah-kisah di balik penjara 'Alcatraz' Indonesia: yaitu Nusakambangan. Di sinilah penjahat kelas satu Indonesia, dari mulai teroris seperti Amrozi, Imam Samudera, Ali Ghufron, dan penjahat kelas kakap sampai kriminal kerah putih, seperti Tommy Suharto, Bob Hasan, dll, menjalani hari-hari terakhir mereka sebelum ditembak mati, atau dibebaskan.

Arel, Deva dan Rey sempat pula main di galangan kapal di pantai sambil memandangi bukit Nusakambangan yang kelihatan angker itu. Ini foto kenang-kenangan mereka di Cilacap.

Langkah yang Baik Semoga Menghasilkan yang Terbaik



Kenapa mesti takut? Rasa takut tetapi tetap melakukan adalah sebuah keberanian. Sebuah persoalan yang hanya dipikirkan tanpa dilakukan bukanlah apa-apa. Barangkali itulah yang ada di kepala adik bungsu saya, Muhammad Adhi Nugroho, biasa dipanggil Nuki.

Berani memutuskan menikah dengan sederet kata ”belum” bukanlah perkara sepele. Belum lulus kuliah, belum kerja, belum punya rumah, dan sederet ’belum’ lainya toh tak membuatnya surut melangkah. Paling tidak menikah menjadi kata yang ’wajib’ kalau kita memang merasa sudah waktunya. Dan, jadilah memang Nuki menikah dengan sang tambatan hati, Endang di kota nun jauh di ujung Jawa, Cilacap.

Keberanian memang banyak ragamnya. Dan keberanian Nuki semoga diiringi dengan kesadaran tinggi untuk menyelesaikan semua persoalannya satu persatu. Sebuah pernikahan adalah anak tannga pertama menuju kehidupan yang lebih sempurna. Insya Allah

Nah, keberanian dalam bentuk lain, adalah ketika saya memutuskan untuk membelah pula Jaw, menuju Cilacap dengan mobil ala kadarnya. Baleno tua itu selamat setelah menempuh perjalanan Jakarta, Bandung hingga Cilacap selama hampir 11 jam. Kebayang deh, kita semua pada teler kecapean hehehe...

Kado Istimewa di Hari Istimewa



Hadiah ulang tahun kali ini mudah-mudahan istimewa buat isteri saya. Ya, setelah hampir seminggu bingung milih-milih kado apa yang cocok untuk Indri, akhirnya saya nekat memberi dia sesuatu yang berbeda. Saya memberinya kesempatan jauh dari anak-anak, dan berdua saja menginap di hotel bintang lima.

Dua hari menjelang ulang tahun isteri saya, saya sibuk kontak semua hotel bintang lima. Disamping nyari promo juga mencari tarif yang masuk budget. Hehehe...maklumlah kantong lagi pas-pasan begini. Akhirnya pilihan memang jatuh di Hotel Grand Kemang, di Kemang, Jakarta Selatan.

Dan hari itu, saya mesti pintar-pintar merayu Arel, Deva dan Rey, supaya mamahnya bisa pergi berdua dengan papahnya. Perlu juga trik tersendiri untuk membawa isteri saya ke hotel..Hehehe...biarlah yang ini jadi rahasia saya dan isteri saya ya...

Kado ulang tahun kali ini bisa jadi tidak sesuai dengan keinginannya. Tapi apapun itu, yang penting, hati yang penuh rasa cinta, akan selalu memiliki sesuatu untuk diberikan. Selamat Ulang tahun mamah. Semoga diberi kesehatan selalu dan tambah amanah menjaga anak-anak...

Catatan: Akhirnya Arel, Deva dan rey kami jemput. Seharian kami bertualang di Kemang. Yah melepas kebosanan sehari ternyata banyak manfaatnya. Paling tidak memberi ruang pengalaman yang lain untuk isteri saya dan anak-anak. Setiap melintas Kemang, sekarang kami bisa berucap itu hotel tempat kita menginap...