

Pagi itu kami melangkah begitu ringan. Tujuannya cuma satu, jalan-jalan ke ujung pulau Jawa dan melihat dari dekat pelabuhan penyeberangan Merak. Ringan dan tanpa beban. Maklum, jalan-jalan tanpa konsep ini sekaligus penebus kekecewaan isteri saya yang - untuk kesekian kali, tak bisa berkumpul dengan keluarganya.
Tahun baru lalu, seluruh keluarga isteri saya liburan ke Bali. Hmmh...siapa sih yang nggak kepengen ke Bali??? Tapi, sambil menaham embun di mata dan hati yang renjana, saya memang tidak bisa berbuat banyak, meminta maaf kepada isteri saya kalau belum saatnya ke sana. Keadaan kami memang tidak memungkinkan untuk pergi ke Bali. Yah, apa boleh buat..
Nah, setitik cerah di pagi yang juga cerah itu kami jalani seberarti mungkin. Ya, semoga memang berati.
Indri, isteri saya akhirnya punya usul nekat, kami menyeberang dengan ferry ke Bandar Lampung dan balik lagi ke Jakarta. Berada di kapal dan menyeberang lautan, sungguh sebuah kenangan yang luar biasa bagi anak-anak saya.
Kota Bandar Lampung yang tinggal selangkah lagi juga melambai untuk disinggahi. Jadilah kami berputar-putar di Bandar Lampung dan pulang hingga dini hari. Hmmm...sebuah petualangan yang pasti akan menulisi hati kalian kelak...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar